Kulit Bersih dan Sehat dengan Cetaphil Gentle Skin Cleanser

Di bulan Ramadhan saya biasanya ketambahan satu kesibukan lagi : menerima pesanan Brownies. Sebenarnya ini hanya proyek iseng-iseng aja, berhubung memang suka membuatnya karena simple banget. Ternyata lumayan banyak yang suka. Akhirnya malah terima order Brownies beneran deh. Alhamdulillah yah.. Anggap aja usaha kecil-kecilan.

Namanya juga usaha kecil-kecilan, praktis semuanya saya lakukan sendiri, Mulai dari promosi di sosmed, membuat Brownies, packing bahkan beli bahan-bahannya pun saya lakoni. Kebayang dong padatnya toko bahan kue mendekati lebaran. 

Para pengusaha kue kering dan bu ibu yang pengen buat kue lebaran tumplek plek, sampai AC di toko gak berasa. Belum trafik di kawasan pertokoan. Debu, dan asap knalpot itu loh.  Kadang saya merasa kucel banget begitu sampai di rumah. 

Pembersih Wajah Cetaphil Gentle Skin CleanserKalau sudah gitu, mana semangatlah saya membuat Brownies panggang pesanan. Selain cuci tangan, saya harus mencuci muka dulu. Biar lebih bersih aja, sih. Sebelum berangkat ke luar rumah kan saya selalu pake pelembab dan DD Cream. 

Begitu pulang harus dibersiin dong, agar kulit tetap sehat dan bernafas lega. Belum lagi kalau sudah selesai menunaikan tugas membuat Brownies pesanan. Cel kucel deh rasanya. Jadi jelas wajah harus dibersihkan. Dasar kulit sehat kan berawal dari membersihkannya. 

Kulit Bersih dan Sehat dengan Cetaphil Gentle Skin Cleanser


Alhamdulillah kulit wajah saya asik-asik aja alias gak ngerepotin. Gak jerawatan (kecuali sebelum haid), gak sensitif juga. Jadi gak ribet-ribet amat menentukan pilihan pembersih wajah. Tapi bukan berarti bisa seenaknya aja. 

Asal tahu aja, kulit adalah organ paling tipis pada tubuh kita. Apapun yang mengenai kulit bisa berdampak pada organ-organ tubuh kita yang lain, loh. Itu kata Dr. Joyce Lim, seorang dermatologist dari JoyceLim Skin & Laser Clinic. Jadi, memang harus teliti dalam memilih pembersih wajah.

Nah, kebetulan baru-baru ini saya menerima paket sebuah pembersih wajah Cetaphil Gentle Skin Cleanser. Awalnya saya mikir ini brand baru. Ternyata produk ini sudah dibuat sejak tahun 1947. Saya belum lahir, sodara-sodara! Katanya Cetaphil ini adalah produk perawatan kulit yang telah terbukti memberikan solusi perawatan kulit. Penasaran juga, sih. Coba ah.. 

Diliat dari teksturnya, tidak kental tapi tidak encer juga. Baunya juga hampir gak ada. Saat digosok di tangan, memang tidak berbusa. Tapi ketika digunakan di wajah terasa lembut. Satu hal yang saya suka dari Cetaphil Gentle Skin Cleanser ini karena tidak terasa lengket di wajah. 

Biasanya saya perlu membasuh wajah dengan air berkali-kali agar sisa sisa sabun hilang. Kini dengan tiga kali basuhan, wajah terasa bersih dan segar. Setelah pemakaian pun kulit tidak terasa kering atau tertarik. Terasa fresh lagi, deh! 

Asiknya lagi, kita bisa menggunakan Cetaphil Gentle Skin Cleanser ini tanpa air loh. Cukup usap dengan kain lembab atau kapas pembersih. Ini penting banget kalau kita habis make up agak tebal dan memerlukan pembersihan wajah menyeluruh. Praktis kan?



"Kamu enak sih, kulitnya normal. Gak ada masalah. Lah, kalau yang kulitnya sensitif gimana?" 

Tetap boleh dong pake Cetaphil Gentle Skin Cleanser. Pembersih wajah keluaran Cetaphil Indonesia ini selain aman digunakan untuk kamu berkulit normal, yang memiliki kulit kering dan sensitif pun bisa menggunakannya. Sementara untuk yang berkulit berminyak boleh menggunakan Oily Skin Cleanser. 

Cetaphil Gentle Skin Cleanser


Sebenarnya masih banyak produk-produk lain dari Centaphil selain pembersih. Tersedia juga varian untuk pelembab, perlindungan hingga perawatan khusus yang lebih lengkapnya bisa kamu cek di website resmi atau sosial media FB/Twitter/IG/Youtube @cetaphilID . 

Boleh juga ceki ceki di outlet Guardian, Century, Watson, Kemchicks,The Food Hall, Grand Lucky, AEON  termasuk rumah sakit dan apotek. Harganya relatif terjangkau dan tentunya sesuai dengan kualitasnya. 

Kalau sudah gini, saya gak usah khawatir lagi make up an karena membersihkan wajahnya jadi lebih gampang. Membuat Browniesnya pun jadi lebih semangat, nih meski semalam membuat adonan dan memanggang. Gak perlu takut debu, keringat dan minyak di wajah lagi. Yay! 

Saya sudah mencoba Cetaphil Experience. Kamu, sudah? 


How To Write Creative Content Blog

Hari gini blogging sudah menjadi semacam gaya hidup orang-orang kekinian di era sosial media merajai gadget-gadget kita. Bahkan blog sudah menjadi media baru untuk mengkampanyekan sesuatu entah itu profit atau non profit. Tapi dari sekian banyak blog yang ada, gimana caranya agar blog kita bisa menarik minat orang untuk berkunjung dan  betah bahkan balik lagi?

Nah, ini dia yang menjadi topik Kelas Menulis MAM ( Makkunranai Anging Mammiri), komunitas blogger perempuan di Makassar.



"Haa?? Saya jadi pemateri? Kamu tuh nawarin makan siang gratis kek, nongkrong di cafe mana kek, nah itu bagian saya! Ini jadi pemateri...., apa tadi katamu? Konten kreatif? Gak salah orang?" tanya saya setengah gak percaya ditawari jadi pemateri oleh Qiah, salah satu penggiat MAM. 

Singkat kata singkat cerita setelah sebulan dua bulan saya sok nolak-nolak dengan alasan waktu yang gak pas, akhirnya saya mengiyakan untuk mengisi salah satu sesi di Kelas Menulis MAM.

"Ini sharing yah.. bukan ngajarin. Saya mah apa atuh...,"sekali lagi saya mewanti-wanti panitia. Jadilah di hari Jumat, 17 Juni 2016 saya meet up dengan member MAM untuk pertama kalinya.

How To Write Creative Content Blog ala Vita Masli 


Dulu sih, jaman blog masih dipake murni sebagai media curhat (eh sekarang masih kan ya?), postingan blog dari awal sampai akhir teks melulu mah sudah biasa. Gak peduli teksnya mau rata kiri kek, rata kanan kek, tengah kek, ada hiasan kupu kupu terbang ditambah backsound mendayu-dayu. Suka-suka aja. Nulis buat diri sendiri, gak peduli orang lain mau baca apa tidak. 

Apakah itu salah? Gak juga sih sebenarnya. Tapi jika prioritas kamu saat ini adalah agar blog dikunjungi dan tulisan kamu dibaca orang lain, sebaiknya perhatikan beberapa hal berikut : 

Infografis Blogging 101


Mengapa desain blog ini penting untuk diperhatikan? Karena ini adalah first impression blog kamu ke pembaca. Don't judge the book by its cover sih, katanya. Namun tidak bisa disangkal kalau hal pertama yang menentukan kesan adalah penampilan. Sayang banget kan kalau tulisan kamu yang sebenarnya menarik tapi karena tampilan blog kamu kurang menarik (dan gak responsive pula) akhirnya terlewatkan. Jadi gak ada salahnya mencoba tips di atas ya, gaes!

What is Creative Content ? 


Nah, setelah urusan desain giliran memperhatikan isi atau konten dari blog kamu. Saat ini konten di blog gak melulu hanya berisi teks, tapi sudah meluas dan melebar menjadi bentuk gambar, foto, suara, video atau film pendek. 

Konten Kreatif

Duh, kesannya ngerepotin banget ya. Nulis mah nulis aja kali.. 

Iya sih, if you want to put it that way. Tapi tahu gak, di era teknologi yang makin canggih dengan tingkat mobilitas dan kesibukan orang makin tinggi kebanyakan orang mencari informasi melalui gadget mereka. Saat menunggu, dalam perjalanan, bosan di kelas, lagi meeting sekalipun kebanyakan orang gak bisa lepas dari gadget. 

Meski begitu, tidak ada cukup waktu untuk membaca semua informasi apalagi yang panjang kali lebar. Nah, disaat itulah konten kreatif yang melibatkan sesuatu yang visual seperti foto, infografis, video atau slide diperlukan. 

Infografis Konten Visual Blog

A Little Tips From Content Creative Expert 


Memang membuat konten kreatif pada dasarnya membutuhkan keahlian tersendiri. Dari sisi penulisannya saja seorang blogger perlu memperbanyak membaca agar diksi bertambah. Memperluas pergaulan untuk menambah teman dan wawasan pun diperlukan. 

Terkadang dari mengetahui pengalaman orang lain, kita bisa belajar sesuatu yang bisa jadi bahan tulisan kita. Belajar melihat sesuatu dari sudut pandang berbeda juga penting. Jadi meski topik tulisan kamu sama dengan blogger sebelah, selalu ada hal yang berbeda yang dapat kamu sampaikan pada pembaca.  

Bagaimana Membuat Konten Kreatif


Ciee.. kesannya saya sudah kek pengalaman banget ya, padahal sih saya juga masih harus banyak belajar. Ini juga hasil dari belajar dari para pakar blogging juga sih *salam hormat bagi para suhu*. 

Last but not least, supaya kamu makin semangat membuat konten kreatif yang berkualitas, saya sisipkan pesan-pesan sponsor  dari para content creator. Mudah-mudahan sih bisa menginspirasi.

Infographics Creative Content


Dari ketiganya bisa ditarik kesimpulan bahwa tiga orang top content creator mendukung banget konsep konten yang tidak hanya sekedar teks tapi juga mengandung unsur visual, informatif dan menghibur dengan desain yang menarik. 

Tidak peduli apakah kamu mau menulis blog karena hanya ingin curhat, berbagi ilmu yang berguna, informasi yang menarik atau menjadikannya penghasilan tambahan (eh!). Konten yang kreatif  dan unik membantu kamu menyampaikan isi hati dan pikiran kamu kepada pembacanya. 

Selamat ngeblog dan tetap jadi diri sendiri. Fighting!!

MAM komunitas Blogger


Bermain dengan Reksa Dana


Pasti pada bingung kenapa judulnya seperti itu, padahal sudah jelas-jelas bahwa Reksa Dana adalah salah satu jenis investasi. Lalu apa hubungannya dengan bermain? Masa investasi berhubungan dengan permainan, padahal ada cukup besar resiko dan dana yang disumbangkan tidak sedikit di dalamnya.

Jadi, begini para pembaca yang setia. Ehm…

Menjalani investasi Reksa Dana harus dengan senang hati dan gembira, tapi juga ada keseriusan di dalamnya. Jadi, kata yang tepat adalah bermain. Sebab saat bermain sesorang akan merasa senang, tapi juga harus serius menjalaninya sehingga hasil yang di dapat baik atau mencapai goals yang diinginkan akan ada kegembiraan setelahnya. 



Nah… Bagaimana, sudah mengertikan kenapa saya kasih judul bermain dengan Reksa Dana ? 

Pasti belum, kan saya belum jelasin Reksa Dana itu jenis investasi yang bagaimana. Begini, buat saya Reksa Dana adalah jenis investasi yang tepat untuk dijalani sama masyarakat urban, seseorang yang ingin investasi tapi tak punya banyak waktu, atau mereka yang sudah merencanakan masa depan dengan matang dan butuh dana yang cukup besar nantinya, kaya jalan-jalan, biaya pendidikan anak ataupun pensiun. 

Reksa Dana Investasi yang Tepat


Kenapa saya bilang jenis investasi yang tepat? Sebab kamu nggak perlu repot untuk mengurusnya sendiri, karena Reksa Dana memiliki kelebihan dimana dana investasi kamu akan dikelola dengan sangat baik oleh manajer investasi. Jadi, kamu nggak perlu repot atau melakukannya sendiri. Di saat kamu tidak mengerti kamu bisa bertanya pada menagar investasi atau CSO yang bertugas memberikan penjelasan sedetail-detailnya kepada customer. 

Selain itu, hal yang paling menyenangkan lainnya adalah investasi ini dapat dilakukan secara langsung atau pun tidak langsung. Secara langsung adalah melakukan investasi dalam satu waktu dimana kamu melakukan pembayaran sekaligus di awal. Dan tinggal menunggu hasilnya saja nanti. Sedangkan tidak langsung kamu bisa membayar investasi yang kamu pilih dengan cara perbulan seperti cicilan gitu atau bisa dikatakan investasi yang dilakukankan secara bertahap. 

Melakukan Reksa Dana yang secara bertahap ini sangat menyenangkan, sebab kamu nggak perlu takut lagi dengan dana investasi yang besar. Karena biasanya kita suka mendengar bahwa investasi dilakukan oleh orang-orang kaya sebab memerlukan dana yang besar. 

Bermain dengan Reksa Dana


Di Reksa Dana kamu bisa memulai dengan angka kecil sekitar 250 ribu rupiah. Bahkan di Panin Asset Management hanya perlu menyisihkan uang sebsar 100 ribu rupiah tiap bulan. Kecilkan? Jadi, anggapannya siapa aja bisa berinvestasi. Karena itu, saya akan mengatakan bahwa investasi Reksa Dana adalah permainan. Menjalaninya harus senang dan serius sehingga saya bisa mendapatkan keuntungan yang saya inginkan. 

Sekarang pertanyaannya adalah.. apakah kamu mau bermain dengan Reksa Dana sekarang?  

Review Novel & Giveaway My Other Half :Tidak Ada Cinta Yang Benar-Benar Pergi

Sore itu sepulang kantor, sebuah paket mendarat manis di depan pintu kamar saya. Sampulnya berwarna orange dengan logo bertulis 'Gagas Media' tertera di sudut kanan. Kiriman novel pasti, nih! batin saya. Tidak sabar saya buka dan benar saja, dari dalam menyembul sebuah novel dengan sampul dominan biru dan hijau bertuliskan 'My Other Half'. Ah.. ini dia novel yang saya tunggu-tunggu. 


Sekilas Novel My Other Half 

Judul buku: My Other Half
Penulis: Cyndi Dianing Ratri
Editor: Tesara Rafiantika
Desainer sampul: Dwi Annisa Anindhika
Penerbit: GagasMedia
ISBN: 979-780-859-9
Cetakan pertama, 2016
165 halaman


My Other Half adalah  cerita mengenai kehidupan dua anak kembar yang memiliki jalan hidup yang berbeda.  Adalah Aninda dan Adinda yang terpisah karena perceraian orangtua mereka. Dinda ikut ayahnya, seorang pengusaha sukses di Surabaya. Sementara Anin hidup sederhana bersama ibunya di Bogor. Keduanya terpisah oleh keadaan hingga akhirnya suatu hari Dinda mengetahui kabar bahwa Anin meninggal dunia. 



Tidak banyak yang Dinda tahu mengenai Anin sejak perpisahaan kedua orangtua mereka. Dalam hati Dinda selalu merasa sepi karena kehilangan yang dirasakannya di masa lalu. Rasa itu menyakitkan hingga ia merasa tak mudah memaafkan dan melupakan masa lalunya. Apalagi ketika ia mengetahui bahwa dia sama sekali tidak tahu apa-apa tentang sakit yang diderita Anin. Dinda menyesal ikatan sedarah tidak dapat membuatnya dekat dengan saudara kembarnya. Hingga akhirnya ia menemukan buku harian Anin. Perlahan, ada genangan air dalam cekungan matanya. 



Diary Anin menjadi penyambung apa yang telah terputus antara Dinda dan Anin. Melalui tulisan-tulisan Anin, Dinda mengetahui  bahwa Anin berbakat menulis. Anin tak hanya bercerita tentang dirinya, ia juga bercerita tentang kisah hidup orang lain yang memberikan banyak pelajaran. 

Anin menuliskan tentang arti mengikhlaskan melalui kisah cinta Dira dan Ardan. Ada pembelajaran tentang masa lalu tidak menggambarkan masa depan dari seorang Sekar yang hamil diluar nikah. Bima si pelari yang mengajarkan tentang bagaimana mimpi mampu mendorong seseorang mencapai banyak hal luar biasa yang baru. Dan kisah tentang ibu yang selalu mencinta tanpa syarat 



Tulisan-tulisan Anin di dalam diary ini lah yang menunjukkan betapa sebenarnya Anin meski terpisah jauh dari Dinda, tidak pernah melupakan 'the other half'nya. Sakit yang dideritanya disimpan sendiri namun dia ingin sepeninggalnya, Dinda mendapat harapan baru melalui tulisan-tulisannya. Seperti juga ketika akhirnya Dinda bertemu Adam yang kemudian mengajarinya berdamai dengan masa lalu. 

My Two Cents of My Other Half 

Saya sebenarnya tidak begitu suka membaca novel tentang kehilangan, ternyata saya salah besar. Novel setebal 165 halaman ini tuntas saya baca dalam sehari. Hal-hal yang terasa berat seperti arti kehidupan mengalir secara ringan namun tetap bermakna. Pemilihan kata dan diksi yang indah menggambarkan kuatnya hubungan antara Dinda dan Anin meski hidup terpisah. Penyampaian pesan pun sangat mengena termasuk juga banyak kalimat-kalimat yang quotable banget. 



Jika kamu bosan dengan novel-novel percintaan yang cemen, My Other Half adalah sebuah novel yang menghadirkan cinta dari berbagai sisi yang berbeda. Cinta pada saudara, orangtua, teman, hingga pada seseorang yang tiba-tiba mengetuk hatimu tanpa terduga. Bahwa dikhianati, merelakan dan kehilangan adalah bagian-bagian yang melengkapi cinta yang dirasakan. Seperti juga 'the other half' yang melengkapi kita. Daleeeem banget kakak... Suka!!!!!

Oiya, di halaman belakang novel ini ada dua halaman kosong untuk menuliskan ceritamu sendiri. Asik kan? 

Giveaway My Other Half :Tidak Ada Cinta Yang Benar-Benar Pergi 






Nah, supaya kamu gak penasaran-penasaran banget, saya dan Gagas Media mau berbagi novel 'My Other Half'. Caranya : 

1. Berdomisili di Indonesia atau memiliki alamat di Indonesia

2. Follow blog ini dan juga twitter atau Instagram (pilih salah satu atau dua-duanya juga boleh) : @vitamasli,  @GagasMedia, dan @cindyCDR

3. Share link posting ini di akun sosial media milikmu seperti twitter, facebook, Instagram atau Google+ dan sertakan hastag #MyOtherHalfGiveAway 

4. Jawab pertanyaan ini di kolom komentar dengan mencantumkan akun twitter kamu serta alamat email. 

Siapa sih yang kamu anggap sebagai 'My Other Half' kamu dan apa yang membuatmu merasa begitu ? 



Giveaway akan berlangsung hingga tanggal 2 Juni 2016 dan satu orang yang beruntung akan mendapatkan novel My Other Half yang akan dikirimkan oleh penerbit Gagas Media. Pemenang akan diumumkan di blog, twitter dan Instagram. 

Jadi tunggu apalagi! Yuk buruan komen di bawah ini ya....


========================================================================

Pengumuman Pemenang Giveaway My Other Half 


Yes, setelah membaca semua komentar-komentar kalian, akhirnya diputuskan pemenangnya adalah : 

Heni Susanti 

Selamat ya! Silahkan kirimkan alamat dan nomer telpon melalui email ke : vitamasli@me.com dengan subject : Pemenang Giveawat My Other Half. Hadiah akan dikirimkan langsung oleh pihak Gagas Media. 

Oleh karena itu saya tidak lupa berterima kasih kepada Gagas Media dan Cindy CDR atas kerjasamanya. Sukses terus ya kak sampai best seller novel My Other Half nya! 

Terima kasih juga untuk kalian yang sudah ikutan giveaway dan bantu sebar-sebarin postingan GA ini. Untuk yang belum menang, jangan kecewa ya. Novel My Other Half sudah tersedia di toko-toko buku terdekat di kota kamu. Buruan atuh dibeli! 

Oiya, Insya Allah akan ada giveaway berikutnya di blog atau via social media Vita Masli. Makanya jangan di unfollow ya! Hahahaha.. Sampai ketemu lagi dan keep reading ya!

Pegadaian, Sahabat Cerdas Investasi Masa Depan

Setiap orang pasti punya masalah. Bagaimana menyelesaikannya tentu masing-masing orang punya cara. Tapi bagaimana jika kita bisa menyelesaikan masalah tanpa masalah?

Ah.. kalau ini sih taglinenya Pegadaian!



Tagline ‘Mengatasi Masalah Tanpa Masalah’ begitu akrab dengan masyarakat Indonesia. Sedekat Pegadaian dengan kehidupan sehari-hari kita. Coba aja perhatikan, gerai atau kantor Pegadaian mudah ditemukan bahkan hingga ke kawasan pasar tradisional. Sejarah mencatat keberadaan Pegadaian sudah sejak dari jaman penjajahan. Tahun 2016 ini Pegadaian sudah menginjak usia 115 tahun.

Infographis dibuat oleh Vita Masli menggunakan Canva

Sebenarnya saya juga baru tahu tentang sejarah Pegadaian ketika mengikuti workshop Excite Roadblog Makassar di bulan April lalu. Kebetulan salah satu pembicaranya adalah pak Nuril Islamiah, Kepala PT Pegadaian Kanwil VI Makassar.

Nuril Islamiah, Kepala PT Pegadaian Kanwil VI Makassar
Pada sesi tersebut pak Nuril dengan santai tapi serius menjelaskan perkembangan Pegadaian dari jaman ke jaman. Dari namanya saja sudah identik dengan gadai menggadai. Jaman dulu panci dan sarung pun bisa digadai loh.

Pada dasarnya semua barang bisa digadai, tentu saja nilai gadainya tergantung dari nilai barang juga. Kebanyakan memang lebih memilih gadai emas dan tidak sedikit loh orang yang merasa terbantu dengan cara gadai ini. Makanya tagline mengatasi masalah tanpa masalah itu memang pas banget untuk orang yang butuh dana tunai segera tanpa harus cari masalah minjem ke rentenir.

Surat Bukti Kredit Pegadaian

Nah, sekarang ternyata Pegadaian gak sekedar hanya sebagai 'tempat menggadai'. Kamu dan juga saya sudah bisa memulai menabung investasi di Pegadaian. Gimana caranya? Sst.. sini saya bisikin!

Emas Pegadaian, Investasi Masa Depan


Sebagai PNS saya seringkali melihat kisah nyata para senior yang sering keteteran di usia produktif dan terlibat utang di masa pensiun. Tentu saja saya gak mau seperti itu. Makanya saya memilih untuk berinvestasi untuk masa depan yang lebih baik. Dan pilihan saya jatuh pada investasi emas.

Investasi emas saat ini dinilai sebagai investasi paling menguntungkan dibanding investasi lainnya. Ini karena harga emas diprediksi berpotensi untuk naik dan lebih aman dibanding investasi lain. Tentu saja investasi emas yang dimaksud di sini adalah  logam mulia murni dengan batangan atau keping dan bukan perhiasan. Kenapa? Sini saya bisikin bocoran dari pak Nuril. 

Biasanya toko emas tidak hanya menghitung kadar dan beratnya, tetapi juga biaya pembuatan perhiasan. Makin rumit bentuk emas itu, maka makin mahal ongkos yang kamu keluarkan. Ketika akan dijual kembali harganya cenderung turun karena sudah dikurangi biaya pembuatan saat pembelian. Belum lagi kata tukang emasnya ada ada harga susut karena sudah dipakai atau kena air dan keringat. Padahal kata pak Nuril, emas itu mana ada yang susut. 

Dengan resiko seperti itu, sebaiknya coret aja lah berinvestasi emas perhiasan. Mending sekalian logam mulia murni standar 99,99 persen yang bersertifikat. Nah, untuk yang satu itu Pegadaian punya loh 3 jenis investasi emas yang bisa dipilih :

1. Arisan Emas 

Pasti sudah akrab dong dengan arisan. Ini adalah salah satu aktivitas yang ibu ibu banget, dah! Hehehe. Ketika join pada satu grup atau kumpul-kumpul dengan teman pasti ada salah satu yang nyelutuk,"Buat arisan yukk..!" Dengan harapan agar bisa mempererat silaturahmi sekali sebulan ketemu, biar bisa sekalian nabung dan sederet alasan lain. Akhirnya mulai deh ngelist apa aja yang bisa diarisankan. Kebanyakan sih biasanya uang tunai meski gak jarang ada juga loh yang arisan panci (duhh arisan dharma wanita ibu saya kali ah). 

Pada kenyataannya karena arisan biasanya diadakan di kafe akhirnya yang menang uangnya dipakai buat mentraktir teman searisan. Yah.. jadi buat apa dong ya? Entah kita jadinya kebanyakan panci di rumah atau uang arisan hilang tak berbekas hanya menyisakan lemak di perut. Gak asik banget!

Pegadaian sepertinya tahu banget kebiasaan bu ibu, maka dibuatlah arisan emas. Dari namanya saja tentu bukan uang atau panci yang 'dicicil' bareng-bareng melainkan emas. Oiya jika bicara tentang emas Pegadaian jauhkan dari pikiran dari emas perhiasan berupa gelang, kalung, anting dan kawan-kawannya. Emas yang disediakan oleh Pegadaian adalah emas mulia (fine gold) 999.99 dalam bentuk batangan atau koin.

Add captionIcons made by Freepik from www.flaticon.com is licensed by CC 3.0 BY

Cara Arisan Emas ini cukup mudah, hampir sama dengan arisan biasa. Kumpulin dulu nih anggota geng Cinta arisannya yang terdiri dari minimal enam orang atau lebih. Datang deh ke kantor Pegadaian terdekat untuk mendaftar sekaligus menentukan berat emas yang diinginkan. 

Dalam program ini, akan dilakukan pengundian setiap bulan untuk mendapat satu keping emas. Adapun pemesanan dalam satu kali undian minimal sebesar 1 gram dan maksimal tak terbatas. Meski begitu sebaiknya komunikasikan dulu dengan anggota geng arisan untuk menentukan berat emas yang diinginkan.   

Untuk masalah fluktuasi harga, tidak perlu khawatir. Menurut pak Nuril, harga emas cenderung stabil dan hanya mengalami fluktuasi yang kecil. Lagipula Pegadaian menerapkan harga flat, sehingga naik atau turunnya harga emas tidak akan memengaruhi harga emas karena tidak akan berubah sejak awal perjanjian.

2. Cicil Emas

Nah kalau yang ini, saya sudah pernah saya coba. Awalnya karena punya beberapa teman yang bekerja di Pegadaian, ‘termakan’lah saya bujukan-bujukan mencicil emas. Hehehe. Bagus juga sih sebenarnya secara saya bukan perempuan yang suka pakai perhiasaan. Kalau pun pakai kadang-kadang suka lupa naroh di mana. Rugi lahir batin lah, intinya. 

Makanya begitu teman-teman saya ini menawarkan program cicil emas sebagai investasi ini saya langsung setuju. Daripada saya nyicil smartphone atau kamera yang harganya menurun, mending cicil emas lah yang harganya cenderung naik, ya enggak?  

Prosedurnya juga gak sulit, kok. Waktu itu saya harus membayar uang muka (DP) yang besarannya antara 20-30 persen dari nilai emas. Setelah itu saya memilih jangka waktu cicilan antara 1 bulan hingga 36 bulan yang cicilannya kira-kira bisa sanggup saya bayar.



Setelah itu teken kontrak cicilan dengan pihak Pegadaian dan cicil deh tuh sampe lunas. Setelah cicilan dilunasi (saya mengambil cicilan 6 bulan), kepingan emas tercinta datang dalam waktu 1-2 minggu . Gak pake ribet, gak pake lama. Untuk simulasi pencicilannya bisa ceki ceki di website Pegadaian, ya! 

3. Tabungan Emas

Ini dia yang paling asik. Bagi yang gak demen arisan seperti saya atau sering lupa bayar cicilan (seperti saya juga), tabungan emas bisa jadi solusi jitu untuk berinvestasi. Nasabah membuka rekening tabungan dengan uang tunai minimal Rp.5.000 untuk investasi emas seberat emas 0,01 gram atau sesuai harga emas saat kali pertama buka tabungan. Semakin banyak menabung, makin berat pula emasnya. Ibaratnya beli emas dikit-dikit dan dititipkan di Pegadaian. 


Bagaimana kalau sewaktu-waktu saya butuh uang tunai. Emas saya bisa diambil gak? Harganya sesuai dengan harga pada saat pertama kali saya menabung atau disesuaikan dengan harga emas saat itu? 

Itu adalah pertanyaan saya pada sesi tanya jawab yang kemudian dijawab oleh pak Nuril. Menurut beliau bisa banget. Nasabah bisa mengambil dananya jika dibutuhkan dengan mengikuti harga emas saat pengambilan. Gak perlu takut juga dengan fluktuasi harga. Karena meski memang ada naik turun harga emas tapi kecenderungannya harga emas itu naik terus. Kalaupun turun biasanya hanya sedikit. 

Untuk pencairannya bisa diambil di Pegadaian atau melalui ATM. Keluarnya tapi duit lembaran yah bukan kepingan emas. Hahaha *maunya sih, lalu kepikiran paman Gober dengan kolam uang emasnya* .

Setelah menyimak penjelasan pak Nuril, bener-bener bisa meracuni orang yang gak demen nabung pun bisa tergetar hatinya untuk berinvestasi emas di Pegadaian. Senangnya gara-gara pertanyaan saya yang sangat sederhana itu saya akhirnya kebagian voucher Tabungan Emas. Yay! 

Bersama para Narasumber Seminar & Workshop Excite Indonesia Roadblog Makassar  


Pegadaian, Sahabat Cerdas Investasi Masa Depan 


Voucher Tabungan Emas ini lah yang kemudian membawa saya ke counter Pegadaian yang berderet rapi di luar ruangan workshop. Untuk memudahkan nasabah agar dapat menabung di Pegadaian yang terdekat dengan rumah maka yang mendaftar saat event berlangsung diberi surat bukti pengambilan buku tabungan. Kebetulan banget gak begitu jauh dari rumah ada Pegadaian, jadi saya sih senang-senang aja meski baru bisa mengambil buku tabungannya dua hari kemudian.

Ternyata malah saya yang gak sempat mampir di hari yang ditentukan. Dua minggu setelah #RoadBlog10Cities itu barulah saya berkesempatan mampir ke kantor Pegadaian yang ditunjuk. Pak security yang membukakan pintu dengan ramah menerima surat bukti pengambilan buku tabungan dari tangan saya dan membawanya ke bagian back office. Sembari nunggu, sempat-sempatnya saya memperhatikan pelanggan Pegadaian yang sedang bertransaksi. Rata-rata waktu pelayanan 10-15 menit. Gak begitu lama, kan?


Saya pun masih sempat-sempatnya menyimak berbagai penjelasan produk-produk Pegadaian dari layar televisi yang terpasang di sudut ruangan. Gak berapa lama, mas mas officer Pegadaian memanggil saya untuk tanda tangan lagi dan voila.. buku tabungan Pegadaian pun saya terima.


Ternyata gak sulit untuk menemukan solusi investasi masa depan karena Pegadaian menghadirkan beragam layanan yang dapat menuntaskan masalah tanpa masalah. Boleh dong kalau Pegadaian dinobatkan sebagai sahabat cerdas investasi masa depan. Saya sudah jadi sahabat Pegadaian nih, kamu kapan? 

Begini Caranya Agar Tetap Ceria di Tanggal Tua


Setiap orang punya masa tanggal tua nya masing-masing. Oh ok, mungkin tidak semua. Paling tidak untuk orang-orang yang harus bertanggung jawab dengan kelangsungan hidupnya sendiri. Termasuk saya.

Mungkin untuk sebagian besar orang tanggal tua hanya dirasakan beberapa hari sebelum gajian. Abis itu bisa bernafas lega lagi. Lalu gimana kalo gak gajian juga? Tanggal tua bisa jadi berterusan hingga berbulan tua dong. Ini kejadian pada saya beberapa tahun lalu. Begini ceritanya...


Ketika pengumuman itu datang saya bersujud syukur. Alhamdulillah, lulus sebagai salah satu dari 300an CPNS lain dari sekian puluh ribu orang yang ikut test nasional sangat luar biasa. Saya berhasil mematahkan pemeo "mau jadi PNS? Bayar!" Sorry, not for me.

Sayangnya euphoria itu berangsur pudar ketika kabar yang ditunggu mengenai kapan secara resmi saya bertugas tak kunjung datang. "Biasanya sih bulan April,"kata salah seorang teman yang sudah duluan jadi PNS di kementerian yang sama. 

Apaaa? *jreng jreng* 

Bulan April? Waktu itu masih bulan Desember. Berarti ada 4 bulan lagi. Sementara itu saya sudah resign duluan dari kantor sebelumnya karena mengira bulan Januari sudah resmi bertugas di tempat baru. Waduh,  gimana ini!

Di rekening bank memang masih ada gaji bulan terakhir lengkap dengan bonus akhir tahunnya. Tapi itu tidak bertahan lama karena bonusnya sudah saya beliin gadget apple ke gigit. Tabungan yang ada hanya tersisa sedikit karena sebelumnya sudah pesan tiket liburan ke Bali-Lombok lengkap akomodasi. Rencananya saya pengen liburan sebelum ngantor lagi menghilangkan stress. Eh ternyata malah stress duluan.

And to make it even worse meski sempat bergembira karena panggilan bertugas di majukan sebulan ke bulan Maret, ternyata saya baru gajian setelah 8 bulan kemudian. Itupun tanpa uang makan dan uang operasional lainnya. Alasannya karena dana dari pusat belum cair. Bener-bener pengen nangis.

Tanggal Tua : "Kita Mulai dari Nol, yah..." 


Ada dua hal yang membuat saya 'bertahan hidup' di tanggal tua yang berkepanjangan itu adalah dukungan orang tua dan kerjaan freelance saya. Dukungan orangtua di sini bukan dalam bentuk uang yah. Saya merasa malu menerima 'uang saku' lagi setelah bertahun-tahun punya penghasilan sendiri. Masih tinggal di rumah orang tua merupakan berkah tersendiri buat saya. Selain gak perlu memikirkan sewa tempat tinggal, saya masih bisa makan gratis 3 kali sehari. Itu sudah alhamdulillah banget. Sisanya saya harus bertahan hidup dengan usaha saya sendiri. 

Untungnya sambil kerja kantoran saya gak pernah lepasin kerja freelance saya sebagai penyiar radio. Setiap minggu saya dapat jatah siaran 3 jam setiap Sabtu dan Minggu. Tentu saja, bayaran penyiar radio freelance itu gak  segede gaji saya di provider telco dulu. Yah.. sekitar 1/3 nya gitu deh. Dengan begitu saya harus pintar-pintar mengatur keuangan agar tetap ceria di tanggal tua. Begini caranya : 

1. Revisi Gaya Hidup 


Gaya hidup yang dulunya gampang aja kalau pengen beli baju, sepatu, buku, nongkrong di sini, ngopi di situ saat itu terpaksa direvisi. Tidak ada sepatu dan baju baru kali ini. Saya jadi lebih rajin mengubek-ubek isi gudang untuk mencari sepatu yang pernah saya  beli. Isi lemari saya rapikan untuk menginventarisasi model dan warna yang saya punya. Buku-buku yang tertumpuk di ruang baca saya kumpulkan dan dicatat layaknya pustakawan. 

Menakjubkan! Selain jadi tahu ternyata saya kerap membeli dan jarang menggunakan, aktivitas membongkar gudang, lemari pakaian dan ruang baca membuat saya jadi lebih sehat. Keringatan bo! See.. biaya fitness dan yoga di klub kebugaran pun bisa dicoret dari daftar pengeluaran. Bukti selalu ada sisi baik dari semua hal. 

2. Membiasakan Diri dengan Hiburan Gratis   


Jika biasanya setiap minggu nonton di bioskop, saat tanggal tua kebiasaan ini otomatis dicoret. Saya jadi lebih selektif menentukan film mana yang perlu ditunggu aja tayang di TV kabel, mana yang perlu di download gratisan dan mana yang perlu dipinjam DVDnya. 

Untuk biaya internet bisa dipangkas dengan beli simcard paket data yang bentar lagi expired. Selain membantu penjualan provider, kamu juga bisa punya paket data dengan harga murah. Di beberapa kota sudah tersedia beberapa wifi corner, ruang publik di mana masyarakat umum bisa mengakses internet.

Tidak lupa manfaatkan waktu yang ada di kantor untuk mendownload file yang besar hiburan di akhir pekan. Gak apa-apa nongkrong lebih lama di kantor. Selain kelihatan berdedikasi tinggi  'fakir wifi'nya tidak gampang terdeteksi. Praktis kan?

3. Jalan Kaki Itu Sehat 


Ketika taksi sudah tidak bisa dijadikan prioritas transportasi utama, di tanggal tua yang berkepanjangan saya terpaksa naik angkot. Namun ada kalanya jalur angkot tidak selalu sejalan dengan tujuan. Akibatnya diperlukan lagi nyambung pake becak atau bentor. Kalau jaraknya jauh dan harus nyambung beberapa kali seperti itu saya tetap memilih naik taksi. Bela-belain, gak apa-apa daripada repot. Tapi kalau jarak dari jalur angkot ke tujuan saya hanya sekitar 300 sampe 500 meter, mending saya jalan kaki. Selain hemat, jalan kaki itu sehat. *Padahal sih ..... * 

4. Bawa Bekal dari Rumah 

Makan di luar itu butuh uang gak sedikit dan belum tentu porsi dan kehigenisannya sesuai standar kita. Kreasikan apa yang ada di kulkas. Kalaupun malas masak, bertandang saja ke rumah kakak. Bungkus makanan dan minuman yang tersedia. Lumayan buat bekal makan siang. 

5. Gunakan Promosi Diskon 

Ada banyak macam promosi diskon. Kadang-kadang barang diskon itu ada yang dinaikin dulu harganya baru didiskon atau barangnya bentar lagi kaduluarsa. Tapi jika kita jeli dan dengan sedikit keberuntungan kita bisa menemukan barang-barang diskonan yang diperlukan. 

Saya sering memanfaatkan promosi kartu kredit yang sering memberi diskon di tempat-tempat tertentu. Walaupun begitu saya tetap harus sadar diri dan membayar tagihan full agar gak kena bunga berbunga. Lumayan, sesekali saya masih bisa nongkrong dan makan enak sambil ngopi-ngopi. Jadi gak berasa sengsara-sengsara banget kan? 

Tetap Ceria di Tanggal Tua 

Meski sekarang masa-masa suram itu telah berlalu, tetap saja saya gak mau hal itu terulang lagi. Amit amit.. ya Allah 8 bulan gak gajian. Makanya belajar dari pengalaman ini dia tips agar tidak terkena syndrome Tanggal Tua ala Vita Masli. 





Nah, jadi sekarang sudah tahu kan caranya agar tetap ceria di tanggal tua? Selamat tinggal masa suram tanggal tua.  Tetap ceria dan merdeka!!! 



60 Tahun Universitas Hasanuddin dan Ikatan Alumni : Sinergi Dua Peran di Zaman yang Terus Berubah

Beberapa belas tahun yang lalu saya adalah salah satu dari dua ratusan mahasiswa baru yang diterima di jurusan Elektro Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin. Senangnya bukan kepalang. Universitas Hasanuddin atau kerap disingkat Unhas adalah perguruan tinggi negeri terbaik di kawasan Indonesia Timur.  

Lulus di salah satu fakultas dan jurusan favorit adalah kebanggaan tersendiri. Orang tua saya bersyukur anak bungsunya tidak perlu jauh-jauh bersekolah di kota lain. Tak perlu uang kos, ke kampus pun hanya sekali naik pete-pete kampus dan yang paling penting SPPnya terjangkau. Paket lengkap. Saya senang, orangtua bahagia. Kurang apa lagi coba?



Begitu lulus dan berhasil menyandang gelar Sarjana Teknik, bahagianya gak ketulungan. Rasanya sudah seperti Jack Dawson di film Titanic,"I'm the king of the world...!" Lalu setelah euphoria kelulusan itu lalu muncul pertanyaan : kerja di mana?

Ini adalah masalah klasik yang kerap menghantui para lulusan yang baru wisuda. Selamat tinggal masa-masa menyenangkan menjadi mahasiswa, selamat datang di dunia nyata. Mencari pekerjaan tidak semudah yang diduga. Seringnya malah banyak yang masih bingung apa yang harus dilakukan. Jadi begitu ada lowongan pekerjaan, apapun yang mensyaratkan pendidikan S1 langsung disikat. Tidak peduli apa sesuai dengan background pendidikan atau tidak. 
   
"Lapangan kerja di Indonesia itu terbatas jadi terpaksa belok haluan cari bidang kerja lain,"kata salah seorang alumnus yang kini bekerja di perusahaan listrik negara. 

Setelah lulus dia tidak semerta-merta langsung bekerja di perusahaan yang menyerap banyak mahasiswa Teknik Elektro itu. Dia sempat bekerja sebagai pengajar di salah satu bimbingan belajar di Makassar. Meski sebenarnya di kampus dia mengambil jurusan telekomunikasi takdir membawanya bergabung dengan perusahaan listrik BUMN tersebut dan kini berada di jajaran managerial di Jakarta.

Lain lagi cerita salah satu alumni Teknik Elektro Unhas dengan IPK 3,0 ke atas. Setelah lulus, dia sempat menganggur beberapa lama. Ketika pada akhirnya mendapat pekerjaan, dia malah bekerja di sebuah perusahaan pembiayaan. Tak ada hubungannya memang namun tetap dijalaninya sambil bertahan hidup menunggu kesempatan berikutnya.

Ilmu jaringan telekomunikasi yang pernah dipelajari di bangku kuliah akhirnya sejalan dengan pekerjaannya ketika berhasil lulus menjadi pegawai negeri di Kementerian Komunikasi dan Informatika. Meski begitu dia yang kini memegang jabatan yang cukup penting di direktorat Telekomunikasi berpikir,"Semua yang kita pelajari di kampus itu hanya sekedar tau tapi cuma kulitnya saja. Kalo orang luar kan, satu ji na tau. Tapi mereka benar-benar expert di bidang itu."

Itu hanya dua contoh dari sekian banyak alumni Unhas yang berhasil di bidang yang sesuai dengan apa yang mereka pelajari dulu di kampus. Ada lebih banyak lagi alumni yang berada di top level management di berbagai perusahaan. Senang ya, bisa bekerja di perusahaan atau kantor pemerintahan  yang sejalan dengan pendidikan yang kita dapatkan. Tapi ternyata banyak juga loh alumni Unhas yang berprofesi di bidang yang sama sekali 'Tidak Elektro Banget!'

Saya mengenal beberapa alumni Teknik Elektro Unhas yang kini menjadi politikus, pemimpin media, sekretaris, bankir, pengusaha, pengajar atau pengusaha. Jangan jauh-jauh deh, saya aja dulunya bekerja di perusahan telekomunikasi pun tidak ditempatkan di bagian teknik malah di bagian pelayanan dan marketing. Begitu jadi PNS saya malah ditempatkan di bagian graphis sampai administrasi sambil tetap nyambi jadi penyiar radio (dan blogger. Uhuk!).  Kakak saya lulusan Arsitektur kini menjadi manager di perusahaan food & bevarage perusahaan multinasional dan masih banyak contoh yang lain. Teman saya dulu anak Kehutanan jadi karyawan BPJS, pengusaha shopping online malah jadi manager radio ternama. Gak rindu hutan? Enggaaaaakkk!!!

Pada awalnya bisa jadi karena lapangan kerja yang terbatas akhirnya untuk bisa diserap dunia kerja para lulusan mencoba untuk bertahan di dunia nyata yang kejam ini. Eh gak taunya keterusan. Tapi apakah ini salah? Salah gue? Salah teman-teman gue?

*Maaf masih terbawa dengan Ada Apa dengan Cinta?*

Dunia Kampus dan Dunia Kerja adalah Dua Hal yang Berbeda


Tidak ada yang salah dengan bekerja di luar bidang ilmu yang kita ambil saat di kampus dulu. Seseorang mungkin menemukan passionnya setelah kuliah atau yang paling biasa disebut orang,"memang sudah takdirnya begitu."Dunia kampus dan dunia kerja adalah dua hal yang berbeda. Bahkan ketika seseorang bekerja sesuai latar belakang pendidikannya, bisa jadi dia merasa ilmu yang didapatkannya pada masa perkuliahan dulu tidak mencukupi.

Salah seorang dosen saya pernah mengatakan, mungkin yang salah adalah kurikulum pendidikan yang digunakan. Kurikulum yang ada jarang diupdate khususnya jurusan-jurusan yang ada hubungannya dengan teknologi seperti Teknik Elektro, misalnya.

Ketika seorang mahasiswa baru memasuki dunia kuliah, kurikulum yang menaunginya adalah yang sesuai dengan jaman itu. Begitu mahasiswa tersebut lulus empat atau lima tahun kemudian, teknologi sudah makin berkembang. Apa yang dipelajari selama empat tahun bisa jadi cenderung basi dan menimbulkan kegamangan tersendiri bagi mahasiswanya. Persis seperti apa yang dirasakan oleh salah seorang alumni yang saya ceritakan sebelumnya.

Selain jarang diupdate, kurikulum pendidikan kita lebih banyak membentuk mahasiswa untuk menjadi pekerja dan bukan pencipta lahan pekerjaan. Jadi ketika pasar kerja membutuhkan pekerja di bidang A, lulusan dengan latar belakang pendidikan bidang ilmu B pun akhirnya menyesuaikan hanya untuk diserap dunia kerja. Sesuai atau tidak dengan passion dan latar belakang pendidikan akhirnya tidak menjadi masalah. Yang penting sudah punya kerja aja.

Pun ketika memasuki dunia kerja, banyak lulusan yang kebingungan menghadapi persaingan di dunia baru ini. Seringkali yang IPKnya bagus pun nasibnya kurang beruntung dibanding lulusan yang IPKnya standar saja. Belum lagi bayangan indah tentang dunia kerja saat menjadi mahasiswa dulu.

Berpakaian bermerk, dandan cantik dan menggunakan gadget mahal. Masuk kantor jam 8, say hi dengan teman sebelah kubikel. Jam makan siang, makan bareng di tempat gaul. Pulang nunggu macet berakhir ngopi-ngopi dulu di coffee shop yang harga kopinya selangit. Tugas ke berbagai kota dalam dan luar negeri. Cuti liburan ke Maldives. Kelihatannya keren banget ya?

Iyah. But we never really know dunia kerja itu seperti apa until you get in to it. Bahwa ternyata karir seseorang gak semena-mena cemerlang hanya karena dia pintar dan tahu segala yang ada. Bahwa orang-orang yang bekerja dengan kamu tidak selamanya baik dan menyenangkan. Bahwa persaingan antar rekan kerja itu lebih kejam daripada persaingan kamu dulu rebutan tempat duduk strategis waktu ujian final di kampus.

Untuk beberapa orang. Dunia kerja tidak sesederhana seperti waktu gagal test pra praktikum sewaktu kita kuliah dulu. Sakitnya tuh bukan hanya di sini, tapi juga di situ dan di sana.  Saingan kita gak cuma dari sesama alumni tapi dari juga kampus lain,loh. Malah mulai tahun ini persaingannya lebih ketat lagi karena saingan kita adalah lulusan universitas dari negara-negara ASEAN. Sudah siapkah Unhas, mahasiswa dan para alumninya?

Siap atau tidak, Masyarakat Ekonomi ASEAN sudah di depan mata. Universitas memang menyediakan dasar keilmuan tapi tentu saja mahasiswa dan alumni pun harus punya inisiatif agar tidak tertinggal dengan negara lain. Apa saja yang bisa dilakukan? Silahkan simak video berikut ini :

Universitas Hasanuddin dan Ikatan Alumni : Sinergi Dua Peran di Zaman yang Terus Berubah 

Saya masih ingat saat pertama kali memasuki dunia yang kerja yang sesungguhnya (dalam arti sebagai karyawan full time) di Makassar, kebetulan big boss provider telekomunikasi tersebut adalah lulusan Universitas Hasanuddin dari fakultas dan jurusan yang sama dengan saya. Jadi tidak ada kejutan yang berarti dalam wawancara kerja. 

Namun ketika saya dipindahkan ke Jakarta, saya bertemu dengan atasan-atasan yang mengernyitkan dahi ketika mendengar jawaban saya,"Saya lulusan Universitas Hasanuddin." Reaksinya hanya ada dua. Pertama bertanya,"Di mana itu? atau yang kedua,"Oooh yang suka tawuran, demo dan bakar ban di jalan itu ya?" 

Di saat seperti itu terkadang saya merasa sedih. 

Pun ketika saya kembali lagi ke Makassar dan bekerja sebagai PNS di sebuah satuan kerja. Saya lagi-lagi mendapat 'kejutan' menarik. Beberapa tahun sebelumnya reaksi orang ketika mengetahui orang lain adalah alumni Unhas sangat 'wow'. Lulusan Unhas sudah menjadi jaminan mutu dibanding lulusan kampus lainnya. Kali ini, di satuan kerja tersebut, saya terkejut bahwa mereka lebih menyukai lulusan institusi pendidikan swasta yang mereka anggap lebih tahu tentang Informatika. 

Tiba-tiba menjadi lulusan teknik elektro Unhas seakan tidak ada harganya di satuan kerja tersebut. Di saat seperti itu saya kembali menjadi sedih. 

Hal serupa meski tak sama saya dapati ketika saya memutuskan kembali melanjutkan kuliah ke jenjang S2 di jurusan Komunikasi Universitas Hasanuddin. Saya kerap mendapat pertanyaan seperti ini : ‘Kenapa di Unhas lagi? Kenapa kamu tidak lanjut kuliah di luar negeri?”

Saya kok jadi bertanya-tanya memangnya ada apa dengan Universitas Hasanuddin ?

Gedung Rektorat Universitas Hasanuddin, Makassar


Faktanya universitas ini berdiri sejak 60 tahun lalu dan merupakan salah satu dari dua perguruan tinggi negeri berakreditasi A di luar pulau Jawa. Situs pemeringkat kampus-kampus terbaik di dunia, 4 International Colleges & Universities, melansir data terbaru tentang 400 kampus terbaik yang ada di Indonesia untuk tahun 2016 dan Universitas Hasanuddin berada di posisi 20.

Fakultas Teknik jurusan Teknik Elektro dimana saya menimba ilmu di jenjang S1 telah terakreditasi A. Begitu pula dengan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik jurusan Komunikasi tempat saya saat ini menjalani perkuliahan di program pascasarjana pun berakreditasi A. Pantas kan menjadi kampus pilihan?

Menurut saya pantas-pantas saja. Toh belakangan ini Universitas Hasanuddin semakin mempermantab diri dengan berubah dari konsep yang sebelumnya Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang bersifat Badan Layanan Umum (BLU) dinaikkan statusnya menjadi Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH).

Dengan perubahan status ini Universitas Hasanuddin memiliki kewenangan mandiri baik akademik maupun non akademik serta memiliki kekayaan tersendiri yang dipisahkan dari kekayaan negara kecuali tanah.

Kewenangan mandiri akademik yang dimaksud kewenangan mengubah kurikulum, membuka dan menutup program studi. Sementara dibidang non akademik, Unhas dapat melalukan tatakelola sendiri baik manajemen, dan mengelola aset-aset yang dimilikinya dan membangun kemitraan dengan dunia usaha dan lembaga-lembaga lainnya.

Secara ide dan tujuan, perubahan status ini jelas menguntungkan. Universitas Hasanuddin dapat berevolusi, memperbaiki diri, mengolah dan meramu 'jurus-jurus' pendidikan agar keluarannya bisa bersaing secara akademik dan skill di pasar kerja global. Namun beberapa pihak khususnya sekelompok mahasiswa menganggap perubahan status ini hanya akan membawa Universitas Hasanuddin kehilangan ruhnya sebagai  perguruan tinggi  untuk mencerdaskan bangsa.

Pengelolaan keuangan secara mandiri akan memaksa universitas untuk mencari pendanaan yang cukup untuk keberlangsungan dan pengembangan kampus, sehingga universitas lambat laun akan memiliki mentalitas menuju arah pendanaan. Uang SPP akan semakin mahal dan beragam tergantung dari mana jalur masuknya. Betulkah seperti itu ?



Jika merujuk pada informasi di atas, harusnya kekhawatiran akan komersialisasi Unhas seperti asumsi sebagian mahasiswa tidak harus ada. Malah, dari diskusi kuliah Kebijakan Publik yang saya ikuti terungkap bahwa SPP yang bervariasi di Unhas saat ini adalah bentuk dari subsidi silang antara yang mampu secara finansial kepada yang kurang mampu namun berprestasi. Kesempatan bagi calon mahasiswa dari Indonesia bagian timur pun dibuka lebih lebar agar pemerataan pendidikan dapat terlaksana.

Lagi-lagi saya teringat jaman saya masih mahasiswa S1. Saat itu tidak ada perbedaan uang SPP antara mahasiswa yang masuk melalui jalur matrikulasi dan mahasiswa dari jalur ujian. Perbedaan SPP hanya ada berdasarkan fakultas eksak dan eksakta dimana fakultas eksak sedikit lebih mahal. Tidak terlalu banyak fasilitas yang kami dapatkan but we survived and we made it through kejamnya persaingan di dunia kerja. Apatah sekarang dengan keleluasaan dan keluwesan dalam penyelenggaraan tata kelola non akademik.

Meski pada kenyataannya seringkali alumni Unhas belum terlalu dianggap dibandingkan universitas ternama lainnya seperti UI, ITB, UGM, Unpad dan lain sebagainya, secara personal alumni Unhas tidak kalah dibandingkan alumni universitas 5 besar itu. Buktinya saya bisa lulus bersaing dengan mereka memperebutkan tempat di provider telekomunikasi yang ngetop itu. Bahkan ketika kemudian saya banting setir menjadi abdi negara, lagi-lagi saya masih bersaing dengan lulusan universitas terbaik di seluruh Indonesia.

Dan karena itu saya bangga menjadi alumni Universitas Hasanuddin. Sama bangganya ketika mengetahui bahwa banyak alumni Unhas berprestasi yang tersebar diberbagai sektor pekerjaan dan wilayah Indonesia. Itu berarti para alumni mampu memberikan manfaat seluas-luasnya bagi diri sendiri, keluarga, almamater, dan bangsa.

Universitas Hasanuddin memiliki banyak potensi yang dapat disinergikan bersama alumninya untuk mewujudkan kiprah Unhas yang lebih baik. Tak hanya Unhas yang harus berbenah, para alumni semestinya dapat memiliki ikatan antar alumni dan merasakan adanya kemanfaatan bergabung dan aktif bersama IKA Unhas.

Banyak Orang-Orang Hebat dari Angkatan Ini
"Ini pe-er banget buat kita,"ujar salah satu teman yang saat ini menjabat sebagai manager PLN area Makassar Utara. "Saya melihat para alumni universitas lain selalu merangkul sesamanya, sementara alumni Unhas terkesan malah kurang saling mendukung dalam karir."

Terdengar sederhana, ya? Bahkan saking sederhananya sering terabaikan. Jika alumni universitas lain bisa saling mendukung, kenapa kita tidak? Mendekatkan yang jauh dan merangkul yang dekat, ini adalah pekerjaan rumah Ikatan Alumni Unhas. Tentu saja ini  agar  ada ikatan dan kemanfaataan sesama alumni baik yang berkarir maupun yang fresh graduate. Suatu hal yang menjadi penting karena dapat menciptakan ruang komunikasi yang membantu mempermudah mereka dalam berkarir dan bersaing di pasar kerja global.

Sementara itu perubahan status dan tujuan mulia sebagai PTNBH agar bisa menghasilkan lulusan yang berkualitas memang masih harus dipantau selama beberapa tahun ke depan. Namun, tak ada salahnya memberi kesempatan untuk Universitas Hasanuddin untuk membuktikan bahwa kampus merah berlogo ayam jantan ini pun bisa.

Semoga!

-----------------------------

Diikutsertakan dalam Lomba Blog 60 Tahun Unhas .


Disclaimer : 

Atas permintaan yang bersangkutan, nama lengkap para narasumber yang diwawancarai untuk tulisan ini tidak disebutkan secara langsung. 

Celebes Beauty Fashion Week, Pesona Fashion dari Makassar

Jam digital di panel dashboard mobil sudah menunjukkan pukul 20:03. Seharusnya saya sudah berada di Four Points Hotel, Makassar sejam yang lalu. Tapi saya masih berada di tengah kemacetan berjarak kurang dari 300 meter saja dari venue. Gila! Jalan Landak Baru yang trafiknya ramai lancar kini tersendat. Padahal ini malam Kamis, sudah lewat jam pulang kantor juga. Mungkinkah ini gara-gara event Celebes Beauty Fashion Week?


Deretan mobil dan motor di depan dan samping tak kunjung mempercepat lajunya. Dari kaca spion tampak antrian kendaraan di belakang mobil saya yang mengular sampai jauh. Yang sabar yah.., kamu. Saya menepuk-nepuk setir mobil.

Hari itu, tanggal 11 Mei 2016 saya bersama beberapa blogger Makassar diundang oleh Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kota Makassar untuk menghadiri fashion show pembukaan Celebes Beauty Fashion Week, salah satu rangkaian acara di Femme 2016. Seharusnya saya sudah ada di venue pukul 7 malam. Apa daya karena ada acara lain yang mendesak maka terjebaklah saya di kemacetan ini. Pintu gerbang Four Points tempat penyelenggaraan acara sudah terlihat tapi terasa begitu jauh. Seperti kata pepatah, dekat di mata jauh di kaki. 

Lima belas menitan kemudian saya berhasil masuk ke area parkir. Akhirnya!! Sekarang giliran nyari tempat parkiran yang nyaman, gak nyusahin dan tentunya aman buat mobil saya. Bagusnya hotel bintang empat yang baru beroperasi sekitar Agustus 2015 ini menyediakan tempat parkir yang luas. Selain di depan gedung, ada parkiran basement dan juga lahan parkir di bagian lain. Parkiran full bo’! Tapi berhubung buru-buru dan dengan kekuatan doa, akhirnya dapat parkir di halaman depan gedung. Yay! Alhamdulillah.

Celebes Beauty Fashion Week, Pesona Fashion dari Makassar


Gedung ballroom Four Points yang lapang, lega, kini dipenuhi dengan orang berlalu lalang diantara deretan stand berisi beragam produk fashion. Ballroom utama disulap menjadi exhibition area di mana para pelaku dunia fashion dari dalam dan luar Makassar memamerkan produknya. Di sisi lain terdapat space khusus untuk Sociolla Beauty Week dengan sederet stand make up dari Jepang dan Korea nya. Haduh haduh haduh.. lalu di mana main stage runaway nya? 


Ternyata main stage nya ada di bagian ballroom utama juga, dibatasi dengan kain hitam dan ketutupan oleh stand-stand artis. Ketika akhirnya saya bisa duduk dengan cukup nyaman,  pagelaran desain Dhanet by Steve & Joe sudah kelar. Yah.. padahal belum juga bener-bener merhatiin detail koleksinya. Kata teman-teman blogger lain sebelumnya ada koleksi Oki Setiana Dewi. Duh, telat! 



Senangnya itu bukan sesi terakhir dari fashion show perdana malam itu. Last but not least dan pastinya ditunggu-tunggu hadirin adalah gelaran karya Ivan Gunawan. Desainer yang kerap hadir hampir setiap malam di layar kaca ini mengusung tema Rambu Solo, sebuah upacara adat Toraja yang mana merupakan salah satu etnis di Sulawesi Selatan. 

Opening nya aja sudah menarik perhatian banget. Ketika MC selesai mengumumkan tema desain koleksi Ivan Gunawan, semua lampu dipadamkan. Terdengar suara teriakan lelaki yang cukup mentrigger rasa penasaran (kalau tidak ada yang ngaku kaget sih) hadirin. Rasanya pernah dengar, cukup akrab. Ah.. itu kan biasanya ada di upacara adat Toraja. 

Secercah cahaya datang dari display segede gaban yang menjadi latar runaway. Terpampang grafis air terjun dengan beragam tumbuhan dan bunga disekitarnya. Seekor kupu-kupu mengepakkan sayapnya diantara daun-daun yang berguguran. Suara seruling khas Toraja pun memecah suasana. Satu persatu perempuan mengenakan pakaian adat Toraja muncul dari sisi panggung. Mereka adalah penari yang membuka pagelaran koleksi Ivan Gunawan. 


Sepanjang hampir tiga menit para penari memperlihatkan keindahan tarian khas Toraja hingga akhirnya mereka silam ke balik panggung diiringi tepukan hadirin. Lampu kembali dimatikan. Begitu pula display background LED. Tak berapa lama layar LED kembali dinyalakan dan terpampanglah logo 'Ivan Gunawan'. 


Satu persatu para model berjalan di atas catwalk dengan balutan busana yang terinspirasi kain tenun Toraja dan asesorisnya. Rancangan Ivan Gunawan tampak elegan dengan garis desain yang  wearable.  Bagi yang bodynya gak semampai model pun masih tetap bisa pakai kok. 

Tidak hanya koleksi busana untuk wanita, Ivan Gunawan pun menyisipkan busana pria yang bisa menjadi inspirasi tampil formal sekaligus tetap terlihat manly. Ini nih mungkin yang membuat desain Igun ditunggu-tunggu. Abis desainnya asik banget, kelihatan gak ribet dan tak tampak aneh. 




Koleksi Ivan Gunawan merupakan penutup fashion show hari pertama Celebes Beauty Fashion Week, salah satu rangkain acara di Femme 2016. Dasar orang kekinian, begitu para model silam ke balik layar dan lampu dinyalakan para hadirin segera menyerbu runaway stage. Untuk apa? Ada yang ngejar-ngejar Igun tapi lebih banyak sih memanfaatkan runaway dan display LED sebagai background foto. Iyess.. foto! Termasuk saya dan tiga teman blogger yang diundang. 



Celebes Beauty Fashion Week adalah salah satu rangkaian event yang ada di Femme 2016, sebuah h event fashion terbesar di Indonesia Timur. Tahun ini  adalah kali ke sebelas Femme diselenggarakan sementara Celebes Beauty Fashion Week menginjak tahun kedua. Kali ini dalam Femme 2016  tema yang diusung adalah ‘A Woman In Style” dengan mengusung Baju Bodo, baju adat tradisional Bugis Makassar sebagai centre pointnya. 

Rangkaian acaranya padat. Selama 5 hari fashionista (atau fashionista wanna be) Makassar akan dimanjakan dengan kehadiran deretan fashion designer ternama Indonesia. Sebut saja Anne Avantie, Ida Noer Haris, Poppy Dharsono, Nita Seno Adji, Ivan Gunawan, Misan, Sikie Purnomo, Malik Moestaram, Rudy Chandra, Defrico Audy, Erdan, Chintami Atmanegera, Verlita Evelyn, Oki Setiana Dewi  dan Luna Maya. 

Makanya di hari kedua saya datang lagi. Kali ini iseng aja sambil nemenin teman yang emang doyan belanja busana muslim. Koleksi busana muslim di Femme banyak cyn.. Sampai pusing milihnya. Tidak hanya dari Jakarta, tapi juga dari Bandung, Bogor hingga Makassar. 

Gak melulu busana muslim aja sih. Untuk yang suka Korea Style atau casual ada juga kok. Busana formal sampai gaun pengantin aja ada. Koleksi kain tenun, hijab, sepatu, tas, aksesori hingga make up dan skin care siap diserbu. Harganya berkisar antara 5rb (sudah dapat bros cantik) hingga juta-jutaan aja ada. Malah ada kain motif batik, rangrang dan tenun ikat lainnya seharga 50rb perlembar. Langsung diserbu bu ibu lah pastinya. 



Kalaupun misalnya gak mau kalap belanja (kek saya misalnya), boleh ikutan talkshow dengan para desainer/artis dengan koleksi desainnya. Di hari kedua kebetulan banget pas lagi nunggu teman di ruangan Sociolla, ternyata ada Zaskia Sungkar brand Ambasador Wardah. 

Selain talkshow ada beauty class sampai sharing knowledge mengenai konten kreatif untuk para beauty vlogger (atau yang mau coba-coba sih). Jadi gak cuma dapat belanjaan aja, ilmu dan pengalamannya juga nambah. 


Rencananya hari terakhir Celebes Beauty Fashion Week akan ditutup dengan pagelaran fashion koleksi Anne Avanti. Tahun depan acara ini akan diadakan kembali sebagai barometer fashion Indonesia bagian Timur. Ini juga sekaligus menambah opsi bagi orang-orang dari luar Makassar bahwa kota Makassar tidak hanya sekedar wisata pantai dan kuliner sedap. We have a fashion week going on just like Jakarta or even Paris and New York.

Masyarakat pemerhati dan pencinta fashion yang berasal dari Kendari, Samarinda, Menado, Palu dan beberapa kota lain di kawasan Indonesia Timur aja jauh jauh hadir bergabung bersama fashionista Makassar. Kalau tahun ini tidak sempat hadir, jangan sedih. Tahun depan jangan sampai ketinggalan menjadi bagian dari Celebes Beauty Fashion Week, gelaran fashion terbesar di kawasan timur Indonesia. 

Sampai ketemu! 

Penonton Ada Apa Dengan Cinta, Dulu dan Kini

Ok, ini bukan review apalagi spoiler karena saya gak mau terlalu menyoroti cerita AADC 2.  Meski well, just say saya punya ekspektasi yang cukup besar untuk AADC 2 dan merasa ada yang sedikit ngeganjel. Tapi ya sudahlah yah. Skenario sudah jadi, filmya sudah terbit dan penontonnya sudah melampai 3 juta. Mendingan saya berbagi cerita tentang penonton Ada Apa dengan Cinta dulu dan kini saja. Setuju?

Penonton AADC2

Saya termasuk salah satu dari generasi penonton pertama Ada Apa Cinta. Sewaktu film ini tayang di tahun 2002, saya bersama teman-teman nobar di hari pertama. Ngantri? Jelas. Tapi bukan saya sih yang ngantri. Entah gimana teknisnya saya lupa, yang jelas jam 4 sore sehabis siaran di radio,  saya bersama teman-teman sudah duduk manis di barisan tengah. 

Dan saya nangis. Nangis beleber sampai gak tahu saya nangis gara2 Cinta dan Rangga atau saya menangisi kisah percintaan saya sendiri, hahaha. Lalu kemudian pulangnya mampir ke Disc Tarra beli CD OSTnya. Besok-besoknya nonton lagi. Gitu terus sampai beberapa kali. Beli VCDnya, nonton lagi. Tidak berhenti sampai di situ, seperti juga dengan banyak penonton lainnya potongan2 dialog Rangga dan Cinta terbawa-bawa dalam percakapan sehari-hari. Puisi2 Rangga terngiang-ngiang sampai hari ini. 

Sebegitunya. 

12 tahun berlalu, tiba-tiba saja sebuah iklan mengetuk kenangan. Mini drama AADC setelah sekian purnama merebak kisah masa lalu. Apa kabar Cinta? Apa kabar Rangga? Apa kabar kita?

Kita...?????  Mungkin saya perlu A*ua.

AADC Line
Pic from Line Mini Drama AADC 2014 

Dan begitulah kenangan-kenangan itu membuncah. "Sudah terlalu lama kita gak kumpul seperti ini,"kata Cinta dalam trailer AADC2.

Iyah, sudah terlalu lama. Ada Apa Dengan Cinta 2 harus ada. Terserah 1 purnama di New York beda dengan 1 purnama di Bekasi, misalnya. Durasi 10 menit dengan ending tatap-tatapan sambil senyuman di bandara (Incheon) itu gak cukup. We want more, mbak Mirles. I want more!

Sungguh mati aku jadi penasaran
Sampai mati pun akan kuperjuangkan

Yang diatas itu bukan OST  AADC2, yah. Serius, bukan!

Tapi iyah, saya penasaran. Dari IGnya nicsap dan therealdisast saya akhirnya dapat sedikit clue : Cinta ke New York. Abis foto salju dan lokasi di IG nicsap dan therealdisast samaan sih. Sempat kepikiran jangan-jangan Cinta sakit hati gara-gara Rangga selingkuh di New York. Yeaah, cliche sih. But it happens all the time. Ok, most of the time. Tanya deh sama yang LDRan. *siul siul*

Penonton Ada Apa Dengan Cinta, Dulu dan Kini

Anyway, sebegitu excitednya saya dengan AADC 2 saya agak khawatir apakah saya bisa nonton di hari pertama. Alhamdulillah hari itu waktunya pas banget dengan hadirnya dua teman sekamar saya dulu jaman pra jabatan dari Jakarta. Salah seorang diantara kami berinisiatif untuk ngantri tiket. Gak pake lama (tahu tuh anak pake ilmu apa)  dapat deh tiga tiket untuk jam pertunjukan 16.50. Meski ternyata tiket yang kami beli berada di seat baris ke tiga dari depan layar. Tak mengapa. Demi sebuah rasa penasaran dan sekeping kenangan. #halah

Penonton AADC2
Hand model by Ank
Ternyata I wasn't the only one who excited, that's for sure. Studio 2 kala itu terisi penuh oleh berbagai macam tipikal penonton yang bahkan saya aja gak kepikiran bakal ada. Ternyata selain mba mba kantoran yang teng go (atau malah abis makan siang sudah gak balik ke kantornya lagi) terdapat juga mahasiswa dan fresh graduate yang entah kapan nonton AADC 1, cowok-cowok yang gak jelas nonton karena paksaan atau sukarela, Ibu ibu yang keliatannya pantas saya panggil tante atau ibu dan... ibu ibu muda yang mendorong troli bayi. Malah ada loh yang mengendong bayinya yang mungkin baru berusia sebulan.

Buset..!

Penonton AADC2
Ini suasana ketika saya ngantri tiket nonton kedua kalinya
Saking excitednya bu ibu itu nonton AADC 2, kali ya. Saya sempat terpikir kenapa gak bisa nunggu besok-besok aja. Titipin bayinya bu sama keluarga atau bersabar sampai DVD originalnya dirilis. Lebih gampangnya lagi, doain ntar lebaran tayang di SCTV. Ini untuk kenyamanan bayi-bayi itu juga. Bayangkan ada suara tangisan bayi dan alunan nursery song ditengah adegan Cinta dan Rangga di Gereja Ayam. 

Bu ibu, dapat salam dari mba Melly Goeslow.
Jangan kau ajak dia
Jangan kepikiran dulu sama dia
Jangan ajak-ajak dia
(Jangan Ajak Ajak Dia - OST AADC 2) 
Ok fine, lihat dari sisi lain. Mungkin bu ibu ini adalah generasi pertama AADC yang ketika itu masih gadis dan punya story tertentu dengan kisah percintaan Cinta dan Rangga. Mungkin bu ibu ini juga nonton AADC 1 di hari pertama tahun 2002 lalu, Yah, paling tidak bu ibu ini sedikit lebih kalem dibanding dede dede fresh graduate atau mungkin masih kuliah   di sebelah deretan saya. 

Jadi, ada tiga orang yang duduk di sana, dua perempuan dan satu laki-laki. Salah satu perempuan itu duduk persis di sebelah saya hanya dipisahkan tangga. Dua temannya tidak banyak berkomentar. Kalaupun ada reaksi tidak seheboh perempuan yang satu itu.

Rangga muncul sekilas, dia menjerit. Rangga ngelirik, dia histeris. Rangga ditampar ama Cinta, dia yang gak bisa terima. "Sakitnya hatikuuuuu," kalimat itu secara randomly dan berterusan diucapkan sepanjang penayangan film. Hanya Tuhan yang bisa menahan keinginan saya ngelempar pulpen ala2 Rangga di AADC1 ke arahnya. Etapi ini kan sudah AADC2 yah, jamannya lempar batal manja ala Milly aja. :D 

Film AADC2
Lempar gak yaaaa??? ( Pic from: aadc2.com)
Kali kedua saya menonton AADC 2 untungnya sudah gak ada yang berisik. Tapi pasangan yang bawa anak-anak lengkap dengan neneknya sih masih ada juga. Di saat pengen konsentrasi menyimak puisi Aan Mansyur yang dimonologkan Rangga, tiba-tiba ada celutukan,"Papaaa... gendong!" 

Naaaaaaak.... itu Om Rangga lagi galau karena tante Cinta sudah gak tinggal di rumah yang dulu lagi. Please dong... *ala Maura* .

Seringkali kebanyakan penonton terbawa suasana. Pada adegan Trian minta penjelasan tentang Rangga yang legendaris itu ke Cinta, salah seorang penonton perempuan di barisan atas nyelutuk,"Dih kek cakep aja. Rangga lebih cakep daripada kamu." 

Lemparkan saja piringnya biar ramai, mbak..  Hehehehe

Rangga, Trian, AADC2
Cakep Mana Rangga atau Trian? 
Reaksi penonton memang bisa beda-beda sih. Ada yang diam-diam aja, tapi bapernya berhari-hari di status fesbuk. Ada juga yang komentar dikit-dikit sambil berbisik. Ada juga yang serius menyimak layaknya kritikus film. Ada yang bentar-bentar liat hapenya entah ngecek apa. 

Begitu juga nonton AADC2 nya dengan siapa. Ada yang nonton rame-rame serumah, teman segeng jaman sekolah atau kuliah, teman sekerja, sendiri atau sama pasangan bahkan bawa anak. Nonton sekali atau dua kali seperti saya pun ada. I'm not surprised AADC 2  bisa menyabet 3 juta penonton and still counting. 
Jumlah penonton AADC2
Pic from Official Line AADC2 
Saya sih sebenarnya gak ada masalah dengan siapa atau bagaimana penonton bereaksi terhadap tayangan yang disimaknya. Beberapa orang terlalu ekspresif sementara beberapa orang lain butuh ketenangan dalam menikmati tontonannya. Saya sempat baca tweet dari akun Alexander Thian yang mengeluhkan betapa ia terganggu banget dengan orang di barisan atas dia, Berisik, ngobrol, norak. Begitu komentarnya. Baca punya baca twitnya si kokoh ternyata orang-orang itu adalah teman-teman dari seorang penyanyi solo ngetop Indonesia. Si penyanyi itu sedang nonton bareng teman-temannya, tapi sayang banget kelakuan temannya ganggu abis sampai nendang-nendang kursi koh Alex segala.

Tweet Amrazing penonton berisik AADC2

Kesimpulannya, gak semua orang suka ada komentator saat film ditayangkan. Ini nonton film di bioskop, bukan pertandingan sepak bola atau upacara bendera tujuh belasan di Istana negara. Kalaupun you got carried away alias terbawa suasana, gak perlu harus kedengaran satu bioskop.

Gak semua orang juga nyaman mendengar suara bayi menangis tanpa henti. Si bayi juga mungkin gak nyaman  karena terkaget-kaget gara-gara soundsystem yang menggelegar atau tawa penonton seruangan.  Setidak nyamannya kita jika kursi kita ditendang-tendang oleh penonton di barisan belakang. 

Anyway, 14 tahun perjalanan AADC ternyata tidak hanya cerita, karakter dan pemainnya yang berubah. Penontonnya juga. Dulu penonton AADC 1 baper diam-diam, sekarang bapernya berjamaah. Dulu nontonnya bareng sama teman segeng atau sama pacar, sekarang nontonnya bisa jadi sudah gak sama teman segeng atau sama pasangan yang baru (lengkap sama anak). Yah, semoga saja tidak sambil mengenang yang telah berlalu sambil mengaduh sampai gaduh.

Puisi AADC2
Pic from : aadc2.com
Ah.. alangkah menyenangkan jika kita bisa duduk bersama menonton film (apapun itu), sembari  menjaga kenyamanan nonton bersama. Setuju?