The Stories Of Mr. Taxi

Ini bukan tentang lagunya Girls Generation, tapi ini sedikit cerita tentang taksi-taksi yang saya tumpangi seminggu belakang ini. 



Mr. Taxi Banyak Tingkah 


Dimulai ketika pagi itu saya harus berangkat ke Jakarta demi tugas negara. Segera setelah sholat Subuh saya menelpon salah satu armada taxi yang nomer hotlinenya paling teringat. Kira-kira lima menit kemudian taxi yang ditunggu pun datang.

Dari luar taksi nya terlihat masih baru dan cling. Supirnya pun menyapa sangat  ramah dan sigap membantu mengangkatkan koper kecilku ke bagasi. Tapi begitu naik ke dalam taksi, bau rokokpun mulai menyeruak. Ah, pak supir tadi baru saja merokok sepertinya. Dia pun berusaha menghilangkan bau itu dengan membuka dua kaca depan sampai hampir mentok. A cold wind menerobos masuk tapi tetap saja tidak bisa mengusir bau rokok sepenuhnya. Dalam hati saya menyabarkan diri untuk tidak mengomel pagi-pagi buta.

Sayangnya supir taksi ini seakan menguji kesabaran saya. Dia mengambil rute memutar lewat tol padahal saya sudah menyebutkan rute biasa.  Begitu memasuki ruas  tol teman saya sudah menelpon dan mengabari dia sudah tiba di bandara. Saya menjawab bahwa saya juga sudah di perjalanan dan segera akan tiba, padahal taksi baru saja melewati Gedung Keuangan. Pak supir dengan antengnya menyetir dengan kecepatan yang ingin membuat saya menginjak kaki kanannya untuk menekan pedal gas dalam-dalam. Malah taksi sempat berhenti di tengah tol untuk mengecek sesuatu di bagian belakang mobil yang menimbulkan bunyi aneh. Oh gosh!

Ketika teman seperjalanan saya itu kembali mem-BBM menanyakan posisi dan mengabari mengabari penumpang GA tujuan Jakarta sudah dipersilahkan masuk ke ruang tunggu,saya mulai kesal level tiga. Dengan nada sedatar-datarnya saya meminta dia mempercepat laju taksinya yang tidak di tanggapinya. Barulah ketika saya bilang rute yang di pilihnya ini lebih jauh dan memutar dia menanggapinya dengan,"Oh ya?". Supir ini memang minta di geplak sepertinya. Saya hanya bisa menyabarkan diri dan berdoa semoga saya tidak terlambat.

Dan tibalah saya di depan sign keberangkatan. Pak supir itu mengangkat koper saya dari bagasi dan meletakkan di emperan. Dia tidak berbalik ke taksinya hingga saya memanggilnya. Saya berikan dia uang selembar seratus ribu rupiah yang di terimanya dengan ucapan "Terima kasih" yang luar biasa ramah, menutup pintu dan hendak berlalu. Jelas saja saya langsung menegurnya mengingatkan argo yang tercantum hanya 70 ribu sekian. Dengan senyum liciknya dia bilang sekalian dengan uang tol. Uang tolnya gak lebih dari tujuh ribu, kata saya dalam hati.

"Argo hanya tujuh puluh ribu pak, bapak harusnya ngasih saya kembalian,"jelas saya keukeuh. Dia menjawab dengan nada paling ramah,"oiya, ini saya punya kembalian," dan menyodorkan saya sepuluh ribu lalu dia langsung ngacir .

Anger management banget yah pagi-pagi. Saya tidak pernah keberatan memberi tips kepada supir taksi yang nyetirnya efisien,baik dan gak banyak tingkah. Tapi ini bener-bener keterlaluan buat saya. Sengaja mengambil rute paling jauh dan mengakali argo. Untuk taksi sekelas Bosowa yang merupakan taksi pertama dengan armada paling besar di Makassar,hal ini sangat di sayangkan. Jelas-jelas merugikan penumpang, bukan hanya dari segi uang tapi juga waktu. Saya hampir saja telat boarding. Taksi dengan nomer 146 itu gak bakal saya lupakan.

Mr. Taxi dengan Corporate Value


Cerita tentang taksi ini masih berlanjut sampai ke Jakarta. Begitu keluar dari ruang kedatangan Bandara Soekarno-Hatta saya dan teman langsung menuju pool Blue Bird, taksi andalan sejuta traveler bahkan yang sudah berkali-kali ke Jakarta sekalipun. Bapaknya tidak terlalu banyak ngomong seperti supir Bosowa nomer 146 yang tadi saya tumpangi di Makassar. Dia hanya menanyakan secara spesifik letak gedung yang kami tuju.

Karena saya baru sekali ke gedung tersebut dan itupun sudah hampir setahun saya lupa-lupa ingat. Seingat saya gedung ini walaupun berada di Jakarta Barat tapi dekat dengan perbatasan Jakarta Selatan. Ada dua akses jalan tol yang bisa di lalui, yaitu Tol Kebon Jeruk atau Tol yang keluarnya di daerah Slipi. Pak supir ini pun mengusulkan untuk melalu Tol Kebun Jeruk saja tapi atas saran teman yang berkantor di Jakarta akhirnya saya meminta dia untuk lewat tol ke arah Slipi saja. Alasan teman saya itu keluar dari Tol di Kebun Jeruk itu  macet.

Tanpa banyak tanya lagi bapaknya pun menyetir mobil dan saya sibuk mengobrol dengan teman setaksi. Begitu sampai di perempatan lampu merah Slipi-Palmerah Pak supir pun bertanya terus atau belok kanan. Jreng jreng.. saya lupa dong! Lebih tepatnya gak tahu sih.. Akhirnya saya menelpon teman saya lagi dan pak supir pun menelpon temannya seprofesinya. Dalam bahasa Jawa yang dia pikir saya tidak mengerti dia bertanya dimana sebenarnya letak Gedung Pusdiklat Kementerian saya ini. Sepertinya temannya itu menyebutkan nama halte busway terdekat dan dia langsung mengerti.

Di lain pihak teman saya di telpon pun meminta bicara dengan pak supir untuk meng-guidenya ke jalan yang benar (halah!). Setelah ber-iya iya beberapa kali, pak supir mengembalikan handphone saya dan bilang,"Seharusnya tadi lewat Tol Kebun Jeruk saja,mbak. Lebih dekat. Seperti ini sekarang kita harus mutar." Saya mengernyitkan alis,"Bukannya di Kebon Jeruk macet pak?"saya balas bertanya.

"Kami  tidak menawarkan jalan yang sekiranya kami tahu macet mbak.  Apalagi sengaja mengambil rute memutar. Rute pilihan teman mbak tadi ini bisa ngongkos seratus ribuan, padahal kalau lewat Kebon Jeruk mungkin hanya enampuluh sampai tujuh puluh ribu saja. Bagi kami bukan soal  uangnya mbak, yang penting penumpang kami tiba di tujuan cepat dan selamat.  Blue Bird itu tahu penumpang  mengejar waktu jadi sebisa mungkin kami ngambil rute terdekat mbak.Kalau macet,bukan Jakarta namanya kalau gak macet mbak, apalagi hari senin seperti ini,"katanya lagi tanpa nada menggurui apalagi menggerutu.

Duh,belum apa-apa saya sudah dapat petatah petitih dari supir taksi tentang value corporate-nya. Buntut-buntutnya saya malah ngobrol tentang jalan-jalan di Jakarta. Intinya : Corporate Value lebih penting dari selisih duit sekian rupiah. Daebak!

Mr. Taxi Sengaja Matiin AC


Lain Makassar,lain Jakarta, lain pula Bandung. Di kota ini sebenarnya saya sangat jarang sekali memilih moda transportasi taksi sebagai pilihan. Selain ada yang siap mengantar dengan kendaraan pribadi, kalaupun saya naik transportasi umum saya memilih angkot bahkan kalo perlu jalan kaki saja. Bukan karena apa-apa, jalan-jalan di Bandung itu banyak yang satu arah. Bisa jadi jarak A ke B itu hanya selemparan upil, tapi karena arus satu arah dan menggunakan kendaraan, kita harus mutar jauh. Begitu balik dari B ke A malah dekat banget.

Jadi ceritanya di Bandung saya dan teman yang sedang kunjungan kerja berniat nyari cimol dan jajanan Sunda lainnya. Niat tinggal niat ketika akhirnya kami sepakat menuju deretan FO di jalan Riau. Agar tak ribet kami memilih menggunakan taksi. Karena di Bandung Silver Bird terbatas, jadi gak bisa milih ketika akhirnya yang menepi malah Taksi Gemah Ripah.

Tanpa banyak komentar dan sapaan pak supir membawa kami dari Cihampelas ke Jalan Riau. Satu-satunya yang mengganjal di hati adalah pak supir menurunkan kedua kaca depan hingga setengahnya. Udara Bandung sedang dingin-dinginnya malam itu di iringi gerimis yang mengundang lapar. Saya meminta pak supir menaikkan kaca dan menyalakan AC saja. Sekali di minta tampaknya pak supir tak mendengar. Dua kali di minta dia hanya menaikkan kaca tapi tidak rapat serta tidak menyalakan AC.

Awalnya saya pikir mungkin pak supir ini juga sudah merokok jadi ingin menghilangkan jejak-jejak bau rokoknya. Tapi penciuman saya cukup sensitif dengan bau rokok dan tidak mendeteksinya. Saya meminta ketiga kalinya ditambah pesan,"Sekalian nyalain AC aja deh pak," supaya jelas maksud dan tujuan saya untuk menutup kaca mobil. Barulah bapaknya mengikuti permintaan. Sepertinya tipikal supir ini memang harus di sebutkan sejelas-jelasnya :).

Setelah mengubek jalan Riau ( lebih tepatnya jadi pelanggan terakhir yang siap diusir dari FO) saya mengajak teman ke daerah Dago atas untuk ngemil-ngemil cantik di Warung Ngebulnya Vabyo. Sekali lagi kami memilih naik taksi saja daripada ribet di jalan naik angkot di jam sembilan malam. Dan sekali lagi yang menepi adalah taksi Gemah Ripah. Supir taksinya pun punya kebiasaan yang sama, membuka kaca setengah sampai kami harus mengingatkan untuk menaikkannya serta menyalakan AC. Supirnya tidak banyak ngomong dan walaupun ngomong nadanya pun datar saja tidak di ramah-ramahkan.Tapi nurut juga akhirnya.

Mr. Taxi Scammer 


Ketika keluar dari Warung Ngebul, kami di sambut hujan derasnya Bandung. Beberapa taksi yang lewat terisi semua. Hingga akhirnya ketika hujan semakin deras, berhentilah Taksi Putra. Dengan buru-buru karena tak mau kehujanan kami masuk dan mengatakan tujuan kami. Pak supirnya mengiyakan ramah.

Ketika taksi berjalan argo belum nyala juga, teman saya pun menegur. Pak Supirnya menjawab dengan nada sangat bersahabat,"Tidak pake argo neng, karena ke daerah situ dari sini sekali jalan dua puluh ribu. Memang sudah tarifnya." Dan kami di belakang melotot gak karuan. "Gak bisa dong pak, kami mau pake argo,"protes teman saya. Tapi bapaknya keukeuh dan saya tidak punya tenaga lagi untuk berdebat apalagi keluar dari taksi berhujan hujan menunggu taksi berikutnya.

Jarak dari Dago atas ke Cihampelas itu gak jauh. Paling banyak sepuluh ribuan saja. Tapi pemberitahuan gak pake argo ketika sudah berada di perjalanan itu yang gak enakin banget. Sebenarnya saya dan teman gak pelit-pelit banget ngasih tips tapi pada akhirnya dengan setengah hati saya pun membayar sejumlah yang bapak itu minta tapi pake catatan sangat besar di ingatan : Bahkan di Bandung pun ada scamming.

My Two Cents.. 


Lain lubuk lain ikannya, lain kota lain pula tipe pengendara taksinya. Tapi walau bagaimana pun image sebuah produk tergantung pelayanannya. Mungkin yang berbuat kesalahan cuma satu orang, tapi kejelekan lebih gampang tersebar daripada kebaikan. Beruntunglah jika nilai-nilai suatu produk bisa di jaga oleh para employeesnya. Bayangkan jika satu keburukan itu tersebar menjadi word of mouth yang lebih powerful dibanding iklan yang beredar. Bad image tentu saja tidak bisa di hindarkan.

2 comments:

  1. Taxi yang bau rokok itu memang nyebelin. Dan supir taxi yang pertama minta digamparin berulang-ulang.

    Thank you udah sharing pengalaman menarik.

    ReplyDelete
  2. Cerita ketika memakai jasa taksi. wah menarik mbak.
    kudu ati2 dan milih taksi nih
    thanks :)

    ReplyDelete

Silahkan share postingan ini jika suka, tapi.. jangan dicopas ya. Boleh banget titip komen tapi gak perlu mencantumkan url blog kamu di badan komen. Cukup isi nama dan url blog kamu di bagian name and url. Otomatis keliatan dan akan saya BW kembali. Sering-sering mampir, ya! A happy reader is one of my excitement of being blogger. Terima kasih sudah berkunjung.

Powered by Blogger.