[REVIEW] 5 CM, The Movie


Musim liburan telah tiba.. Seperti biasa,itu berarti banyak film-film baru berkualitas yang beredar di cineplex. Salah satunya adalah film Indonesia berjudul 5 CM ( Baca : Lima Sentimeter). Film ini based on  sebuah novel best seller yang sudah melewati berpuluh kali cetak ulang berjudul sama, 5 Cm. karya Donny Dhirgantoro.  

Saya gak bakal berpanjang-panjang membahas kisah novel ini (baca aja reviewnya disini).  Jadi apakah film ini sebagus bukunya? Mmmh.. let me put it this way :

1. The Cast.
Begitu tahu Fedi Nuril main di film ini,saya langsung kepikiran: DIA HARUS JADI GENTA. BUKAN YANG LAIN!! (Eh lah kok jadi tagline tv berlangganan). Karakter Genta di novel itu pas banget dengan sosok Fedi. Surprisenya adalah begitu tahu Igor Saykoji lah yang akan berperan sebagai Ian. Diluar proporsi bodinya yang emang mendukung banget, gambaran saya Ian itu haruslah super lucu,norak dan "muka pengen" banget. Untungnya Igor bisa mengambarkannya sebaik yang dia bisa. Maklum aja sih, dia kan rapper.Lagian ini filmnya perdananya.Yang gak bisa saya maklumi adalah Raline Shah yang berperan sebagai Riani. Mungkin dia satu-satunya yang menurut saya gagal casting. Dari segi akting sepertinya dia gak bisa dapat feelnya jadi Riani. Ketawa dan nangis sama datarnya. Tapi berhubung doi pemenang kontes cantik-cantikan,keknya yang cowok-cowok bakal puas aja liat tampangnya. Gak kalah cakep dari  Pevita Pierce,yang awalnya sempat saya underestimate jadi Dinda. Pevita ini malah lebih berasa aktingnya menghidupkan Dinda di layar di bandingkan Raline sebagai Riani. Entahlah yah apa alasan kenapa Raline yang terpilih. Tapi memilih Herjunot Ali menjadi Zafran adalah pilihan yang tepat. Zafran yang romantis,puitis dan gokil abis ini tergambarkan dengan sempurna. Lalu bagaimana dengan Denny Sumargo yang berperan sebagai Arial? Ahai! Silahkan menilai sendiri..

2. The Story
Banyak novel yang diangkat ke layar lebar sering membuat pembacanya kecewa karena imajinasi setiap pembaca berbeda-beda.  Tidak bisa di salahkan juga,like and dislike termasuk juga selera setiap orang berbeda. Bagi yang sudah membaca novel ini sebelumnya,pasti tahu betapa banyaknya memorable dialog bahkan puisi  yang bikin terharu dan menyentuh banget.Sayangnya, begitu di jadikan naskah film, hal itu berubah menjadi hal yang bikin ngakak geli. Banyak hal-hal yang penting banget malah hilang hingga akhirnya film ini serasa kehilangan arah. Apa sih yang mau lebih di tonjolkan? Persahabatan ? Percintaan ? Atau nasionalisme nya? Kalau ketiga-tiganya, kok rasanya porsinya nanggung banget. Seperti berpindah dari satu sisi ke sisi lainnya dengan terburu-buru. Memang sih,buku dan film adalah dua media yang berbeda. Rentang waktu dalam kisah dalam sebuah buku bisa sepanjang yang dinginkan penulis. Dia hanya "dibatasi" oleh halaman. Sementara film "dibatasi" oleh durasi. Semakin panjang durasinya,biaya produksinya bisa semakin mahal kan?Walaupun begitu, esensinya harus tetap sama. Sayangnya film ini lebih menitik beratkan ke masalah percintaan segi empat di bandingkan rasa nasionalisme dan kegigihan mereka untuk meraih cita-cita. Padahal seandainya skenarionya bisa lebih digarap,sisi-sisi itu bisa lebih membuat penonton pulang dengan kecintaan pada negara dan motivasi untuk meraih impian lebih besar lagi. 

3. The Scenes
Ada beberapa adegan di film ini yang menurut saya maksa banget. Misalnya adegan antara Zafran dan Dinda  di pintu kereta. Mungkin maunya sutradara ini bisa menjadi adegan percintaan yang romantis. Tapi kok saya malah kepikiran ini adalah adegan Jack and Rose di Titanic tapi di pindahin settingnya ke kereta api.Hal yang di paksakan juga adalah adegan pengibaran bendera di puncak Mahameru. Mengapa harus mereka yang memimpin upacara itu? Lengkap dengan akting lebay mereka masing-masing. Lalu kenapa pula harus serempak salaman? Kek yang punya hajatan di kelurahan aja. Tapi ada juga scene-scene yang lucu dan menggugah sampai bikin laper.Apalagi kalo adegan Ian makan Indomie..aah,ada yang jualan dalam bioskop gak ya?

4. The Cinematography
Saya bukan orang film walaupun sehari-hari bergelut dengan pertelevisian, tapi cinematography dalam perjalanan mereka ke puncak Semeru itu emang ajib banget. Didukung dengan pemandangan alam yang emang Subhanallah indah,membuat mata penonton disuguhkan tampilan yang keren. Kalau buat saya,coloringnya khas Rizal Mantovani banget. Jadi ingat video klip :D 

5. The Soundtrack
Gak nyangka dan Gak Salah! Nidji memang pilihan yang tepat. Sounds mereka yang energik ini menggambarkan semangat,persahabatan bahkan kerinduan dari kelima sahabat ini.I have no complain at all.Sayangnya scoring film ini sedikit banyak ngingetin saya dengan (lagi-lagi) Titanic dan The Lords Of The Ring.Kenapa juga ya gak diselipin musik gamelan sedikit biar lebih terasa Indonesianya..Tanya kenapa?

Anyway,banyak yang bilang rasa nasionalismenya semakin tebal setelah menonton film ini. Bagi saya pribadi, film ini memang tidak sedasyat efeknya seperti novelnya. But it's not bad after all.. Kalau tidak percaya,silahkan di tonton.. Yuk,mari!



No comments:

Silahkan share postingan ini jika suka, tapi.. jangan dicopas ya. Boleh banget titip komen tapi gak perlu mencantumkan url blog kamu di badan komen. Cukup isi nama dan url blog kamu di bagian name and url. Otomatis keliatan dan akan saya BW kembali. Sering-sering mampir, ya! A happy reader is one of my excitement of being blogger. Terima kasih sudah berkunjung.

Powered by Blogger.