STPC - LONDON, Hujan dan Misteri Cinta


Saya membeli novel ini dari sebuah shopping online tanpa membaca sinopsisnya. Saya hanya sempat mencari tahu siapa pengarangnya. Setelah blogwalking dan membaca beberapa entry postingan penulisnya, Windry Ramadhina, saya memutuskan memesan novel ini. Terus terang ada perasaan seperti "Judge The Book By Its Cover". Saya sebenarnya agak malas membaca novel non-sastra penulis Indonesia karena sering ketipu cover dan back cover story. Namun mengingat bahwa ini adalah terbitan Gagas Media saya hanya berharap pilihan saya tidak salah. 

Begitu novel itu tiba ditangan saya, segera saja novel bersampul sederhana itu saya baca. Sebuah postcard sebagai bonus terselip di belakang sampul. Ok, seperti biasa bonus novel STPC pada umumnya (padahal mungkin akan lebih menyenangkan jika yang terselip adalah tiket Jakarta-London PP, misalnya). Sebuah kalimat "Untuk Para Pencinta Hujan" tercetak di halaman setelah ucapan terima kasih penulis. Pencinta Hujan? Ok, that's me. Jadi apakah kita akan berhujan-hujan bersama di London?



STPC - LONDON, Hujan dan Misteri Cinta


Cerita dibuka dengan Prolog yang makin menarik perhatian saya. London yang terkenal dengan cuaca yang berkabut dan berhujan sudah terhampar di depan mata. Namun penulis mengajak saya kembali ke Jakarta di Bab pertama. Diawali Oleh Wiski, menggambarkan latar belakang kisah ini terjadi. Gilang, seorang penulis yang memendam cintanya bertahun-tahun pada tetangga sekaligus sahabatnya, Ning memutuskan untuk mengejar Ning ke London. Di kota itulah tempat Ning kuliah dan akhirnya bekerja di Tate Museum, tempat yang selalu menjadi impian Ning selama ini. Terpisah ribuan kilometer membuat Gilang dikomporin empat sahabat terbaiknya untuk segera menuntaskan ketidakpastian hubungannya dengan Ning. 

Dan berangkatlah Gilang dengan segala keberanian yang dia punya. Ternyata perjalanannya ke London untuk mengejar cintanya membawanya banyak bertemu dengan orang-orang yang tak pernah disangkanya. Seorang lelaki blasteran Indonesia-Eropa yang serupa tampangnya dengan Guy Fawkes, karakter V for Vendetta di pesawat. Seorang lelaki Inggris tua yang selalu setia datang berkunjung ke penginapannya hanya untuk bertengkar dengan wanita berwajah masam pemilik penginapan. Seorang blasteran Inggris India yang bekerja di tempatnya menginap, perempuan Indonesia yang terobsesi memiliki buku cetakan pertama dan tentu saja dia. Seorang perempuan yang selalu muncul di saat hujan, cantik dan selalu membius Gilang dengan pesonanya. Tanpa nama, dia datang, tersenyum,menyapa lalu kemudian hilang disaat hujan reda. Tak ada jejak kemana perempuan serupa malaikat itu pergi. Hanya ada sebuah payung merah miliknya yang tertinggal. Itupun ternyata dibawa lari si lelaki bertampang Guy Fawkes.Sial! 


Gilang merasa kesialannya belum berkurang. Bertemu dengan Ning ternyata tak semudah skenario yang direncanakannya di Jakarta. Saat bertemu pun tak membuat semuanya jadi mudah untuk Gilang mengungkapkan perasaannya yang terpendam. Seorang lelaki, Finn,  serupa Ethan Hawkes di Great Expectation diperkenalkan Ning padanya. Hanya teman,kilah Ning. Namun dimata Gilang ia merasa lelaki ini diam-diam sudah merebut gadisnya. Waktu yang semakin sempit membuat Gilang harus segera mengungkapkan cintanya pada Ning. Diluar ketakutannya langkahnya didahului si Ethan Hawkes, ternyata Gilang juga takut jika Ning tak akan bersikap sama lagi padanya jika ternyata Ning tak merasakan perasaan yang sama. 

Persahabatan antara lelaki dan perempuan memang selalu bisa dijadikan latar belakang cerita. Entah siapa, tetapi biasanya salah satu diantara mereka punya perasaan yang lebih dibanding lainnya. Klise, namun benar adanya. Jika keduanya ternyata menyimpan perasaan yang sama, tentu saja akan menjadi happy ending. Sedihnya, kemungkinan sad ending pun bisa terjadi. Nah apakah novel ini berakhir bahagia atau sedih? Silahkan baca sendiri yah..

Yang jelas saya sangat menikmati membaca novel ini. Selalu ada kejutan disetiap babnya.Bikin penasaran. Seperti potongan puzzle,satu demi satu pieces dari tokoh yang berbeda terekat oleh satu kesamaan. Mengapa perempuan cantik tanpa cela itu selalu datang saat hujan dan pergi ketika hujan reda? Mengapa payung merah yang tampak sederhana ternyata sangat berharga? Semuanya akan terjawab di akhir cerita. Selamat membaca dan mari larut dalam hiruk pikuk kota London yang berkabut cinta.

XoXo
V

1 comment:

  1. hmmm kalo vita yang bilang jadi pengen baca nih :D

    ReplyDelete

Silahkan share postingan ini jika suka, tapi.. jangan dicopas ya. Boleh banget titip komen tapi gak perlu mencantumkan url blog kamu di badan komen. Cukup isi nama dan url blog kamu di bagian name and url. Otomatis keliatan dan akan saya BW kembali. Sering-sering mampir, ya! A happy reader is one of my excitement of being blogger. Terima kasih sudah berkunjung.

Powered by Blogger.