SABTU BERSAMA BAPAK Review

Judul : Sabtu bersama Bapak
Penulis : Adhitya Mulya
Penerbit : Gagas Media
Cetakan : I, 2014
Tebal : 277 halaman

Adhitya Mulya

Pertama tahu kalau Adhitya Mulya nulis novel lagi, i was very excited. Novelnya kali ini tentang apa ya? Semoga bukan novel cinta bersetting perjalanan atau kota-kota di luar negeri sana, which is i found it really bo to the ring, boring! Dilihat dari judul sih sepertinya gak akan lari ke novel jenis itu yah. Sabtu Bersama Bapak. Mmh.. jangan-jangan ini novel tentang menghabiskan liburan bersama Bapak di rumah kakek seperti karangan jaman kita SD dulu? ( KITAAAAA??? Ahh.. iyaa Kita. Ayo ngaku deh, jangan nunjuk ke saya aja dong!)
Hahahaha.. Ternyata bukan.


Sabtu Bersama Bapak, berkisah tentang keluarga Garnida. Sang Bapak, Gunawan Garnida, diusia relatif muda, 38 tahun, divonis dokter hidupnya tidak lama lagi. Sang Bapak sadar, dengan waktu yang tidak diketahui dia harus bisa memberi sesuatu yang berguna, terutama bagi anak-anaknya yang masih kecil, Satya dan Cakra. Atas bantuan sang istri, Bu Itje, Bapak merekam banyak pesan video untuk menemani langkah kedua anaknya hingga dewasa nanti. Setelah Bapak meninggal, video inilah yang dimainkan ulang dan ditonton oleh Satya dan Cakra setiap Sabtu sore. Bagi Satya dan Cakra, itu adalah waktu terbaik bagi mereka. 
Adhitya Mulya

Lewat pesan video itulah, Satya dan Cakra tidak sekedar melepas kerinduan pada Bapak, namun juga sebagai pembelajaran dan petuah-petuah bijak dari seseorang yang mereka kagumi dan jadikan panutan. Terlebih saat mereka beranjak dewasa. disaat mereka tidak lagi hanya menjadi seorang anak, tapi juga mulai membangun keluarga sendiri. 

Satya, si anak sulung, adalah enginer NGO di lepas pantai Denmark. Dia sudah punya seorang istri, Rissa dan tiga orang anak, Ryan, Kumi dan Dani. Karena pekerjaannya yang keras dan bawaannya yang tegas, akhirnya Satya menjadi orang yang emosional. Dia menjadi bapak yang meyeramkan bagi anak-anaknya dan suami yang bawaannya ngomel melulu menurut istrinya. Setiap kali Satya berkomunikasi dengan anak dan istrinya selalu berbuntut pertengkaran hingga akhirnya sang istripun mengirimkan email agar Satya tidak usah pulang dulu ke rumah. Disaat itulah Satya teringat lagi dengan video-video buatan bapak.

Adhitya Mulya

Berbeda dengan adiknya, Cakra, si Gembel Cinta (paling gak itu nama Cakra yang tersimpan di phonebook Satya). Karir oke, masa depan cerah, rumah sudah punya, tapi pacar belum ada. Bukannya gak ada yang mau, cuma si Cakra ini tipe orang yang lebih memilih menyiapkan segala sesuatunya sebaik mungkin sebelum mencari calon istri.
Adhitya Mulya

Sang ibu ingin sekali melihat Cakra segera menikah agar hatinya tenang ditengah sakit yang dideritanya diam-diam. Sudah seringkali sang ibu berniat memperkenalkannya dengan anak perempuan kenalannya, namun Cakra sama sekali tidak berminat. Hingga akhirnya Caka menemukan perempuan yang membuatnya jatuh cinta,  Ayu, salah seorang karyawan di kantornya. Tidak hanya pintar, perempuan ini pun juga cantik. Sayangnya Ayu tidak memberikan respon sesuai harapan Cakra. Patah harapan, Cakra kembali diingatkan oleh ibu Itje  pada salah satu pesan di video sang bapak.
Adhitya Mulya

Akankah Cakra berhasil tidak jomblo lagi? Bisakah Satya kembali jadi kecintaan istri dan anak-anaknya? Dapatkah ibu Itje mengatasi sakitnya tanpa diketahui kedua anaknya?

Novel ini menurut saya adalah novel keluarga yang penting banget dibaca tidak hanya sekedar mengingatkan kita pada sosok ayah, tapi juga penggambaran bagaimana menjadi ayah, ibu sekaligus menjadi anak yang baik yang menyenangkan hati kedua orangtua.  Pesan-pesan yang mungkin sudah pernah  kita dengar sebelumnya dibuat jadi lebih ringan, santai tapi pelan-pelan bikin kita mikir,"Iya yah.. bener juga!" Misalnya nih untuk memelihara jodoh (penting banget nih!), ambil contoh Satya yang bela-belain ngebentuk badannya karena tahu istrinya juga jaga penampilan dan kesehatannya banget.
"I can't ask for a better you.
You, however, deserve a better me. "
Dan masih banyak lagi potongan-potongan kalimat yang 'nampar' di novel ini, very touching yet very funny karena seperti biasa Adhyta Mulya kayaknya gak bisa nulis sesuatu yang seriuuuuussss banget panjang-panjang. Ada saat dimana tulisannya berubah menjadi sangat lucu dan konyol sampai bikin ngakak sendiri * lalu dipelototin orang banyak*
Trust me, jangan baca novel ini tempat rame atau anda akan terlihat seperti orang gila yang mencoba bertampang serius lalu kemudian tertawa geli secara tiba-tiba. Ini satu kekurangan novel ini yang menjengkelkan, so be aware of this, readers.

I highly recommended this novel for you, seorang anak yang akan jadi bapak, sudah jadi bapak atau seorang anak yang lagi nyari bapak buat calon anak-anakmu nanti. Karena kita semua pernah menjadi anak, punya orangtua dan mungkin menjadi orangtua. Selamat membaca!


6 comments:

  1. tQ banget maak atas review nya,, aQ tuh maniak banget sama buku, sampe2 dijuluki "hantu buku" .. gegara buku juga usia 11 thn bermata empat alias kaca mata :D
    udah ga sabar mo narik2 yayang segera ke toko buku
    sukses terus ya mak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama mak Meirida. Thanks sdh mampir. Selamat membaca ya

      Delete
  2. Hahh...jadi penasaran nih sama buku ini, temanya keluarga ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyah Mak..genrenya Family gitu. Beda aja dengan novel2 hari gini yang berjejer di rak tokobuku. Cobain baca, ntar kabarin yak.. :D

      Delete

Silahkan share postingan ini jika suka, tapi.. jangan dicopas ya. Boleh banget titip komen tapi gak perlu mencantumkan url blog kamu di badan komen. Cukup isi nama dan url blog kamu di bagian name and url. Otomatis keliatan dan akan saya BW kembali. Sering-sering mampir, ya! A happy reader is one of my excitement of being blogger. Terima kasih sudah berkunjung.

Powered by Blogger.