Supernova Episode Gelombang, Keping ke 5 Di Tangan Alfa Edison

Gelombang adalah salah satu novel rangkaian dari Supernova yang ditulis oleh Dewi 'Dee' Lestari. Ini bukan pertama kalinya saya membaca karya-karya Dee, bisa dibilang saya termasuk fans beratnya (walaupun bukan hardcore fan ya.Uhuk!). Di tahun 2000, ketika pertama kali Supernova : Putri, Ksatria dan Bintang Jatuh terbit, saya tidak pernah menyangka bahwa ternyata cerita ini bersambung menjadi beberapa keping kisah yang ditulis masing-masing dalam satu buah novel. Sepanjang 14 tahun, Dee sudah menulis Akar, Petir, Partikel. Di tahun 2014  Gelombang dipublished dan menjadi keping kedua dari terakhir dari serial Supernova.

Supernova Episode Gelombang

Supernova Episode Gelombang, Keping ke 5 Di Tangan Alfa Edison 


Dalam setiap keping, selalu ada tokoh sentral yang berbeda dari keping sebelumnya. Untuk Gelombang, Dee 'menciptakan' Alfa Edison, seorang Batak dengan kecerdasan luar biasa. Orangtuanya bercita-cita ingin Alfa
menjadi orang yang tidak sekedar menjadi jago kampung. Persiapan telah dibuat namun kedua orangtunya dihadang dilema. Alfa diperebutkan oleh dua orang sakti mandraguna dari dua kampung berbeda. Orang-orang sakti ini berniat menjadikan Alfa sebagai murid spritualnya. Dari salah satu diantara mereka, Alfa diberi sebuah batu bersimbol aneh. Dia harus menjadi 'penjaga' kampung seperti batu itu menjaga dirinya. Untuk itu dia tidak boleh merantau. Sesuatu yang bisa menyia-nyiakan kecerdasan seorang Alfa Edison a.k.a Inchon.

Bukan tanpa sebab Inchon diperebutkan orang-orang sakti ini. Para tetua-tetua adat dan orang-orang sakti ini percaya Inchon telah dipilih oleh Si Jaga Portibi, mahluk gaib yang menjadi penghubung antara pencipta dan manusia. Inchon tidak hanya 'bertemu' dengan Si Jaga Portibi dalam keadaan sadar, tapi juga saat ia terlelap. Setiap kali dia tertidur, Inchon bermimpi aneh dan mencekam. Ada sesuatu dalam mimpinya yang berusaha untuk membunuhnya. 

Mimpi itu terus memburunya walaupun ia telah merantau jauh ke Amerika. Sebagai imigran gelap dia berusaha menembus belantara New York menjadi mahasiswa sekaligus karyawan perusahaan trader Wall Street ternama. Bermimpi jika ia tertidur menjadi ketakutan terbesar Inchon. Dia menjadi insomnia kelas akut. Suatu hari seseorang perempuan hadir dan memicunya untuk menghadapi ketakutan terbesarnya.

Dan itu membawanya jauh hingga ke Tibet, dimana satu demi satu jawaban dari semua pertanyaannya yang disimpan bertahun-tahun akhirnya terjawab. 

Hanya ada satu pertanyaan tersisa, dimanakah Inchon harus menemukan  keempat pemegang batu bersimbol seperti yang dipunyainya? 

My Impression

Dee selalu luar biasa dalam merangkai kata dan cerita. Saking luar biasanya saya sempat dibuat bingung dan agak mabok istilah-istilah di Supernova: Putri, Ksatria dan Bintang Jatuh. Untunglah makin kesini, serial Supernova semakin bisa mengeluarkan Dee dari keinginan terlihat pintar dan benar-benar memperlihatkan dia betul-betul cerdas dengan tidak menumpahkan semua istilah-istilah yang tidak familiar seenak hatinya. Selain Partikel, Gelombang adalah salah satu keping yang cukup santai dalam penuturan dan alur cerita. 

Hal yang menarik adalah, jika pun tidak pernah membaca novel sebelumnya, masih tetap akan mengerti jalan cerita. Namun Gelombang juga tidak luput dari kesalahan-kesalahan kecil. Saya sangat menikmati cerita pencarian Diva hingga ketika lampu sorot pindah pada tokoh Inchon kecil. Namun ketika Inchon pindah ke New York ada beberapa hal yang saya rasa sebagai 'pelajaran gaya hidup bebas' terselubung. Walaupun Alfa beragama penyembah berhala (menurut keluarga yang ditebengin Inchon) dan hidup di New York yang bebas, tidak bisakah Inchon digambarkan tidak ikut-ikutan tidak perjaka hanya karena teman-temannya menertawainya? I mean, buku ini dibaca oleh anak muda Indonesia. Jika ada contoh, bisa jadi ini dijadikan pembenaran : Cowok Perjaka sebelum menikah itu gak cool, meeen..... Apapun agamanya, bolehkan kalau bukan hanya perempuan yang menjaga diri tapi juga lelaki? 

Untuk hal yang lain seperti jalan hidup Inchon yang terlalu mudah, dari ke Jakarta, pindah ke New York, dapat beasiswa hingga kerja di perusahaan ternama dengan gaji luar biasa tidak mengesankan buat saya. Namanya juga fiksi, tokoh utama tetap harus dipermudah jalannya walaupun kadang ada beberapa hal yang terlalu dipaksa. Semisal kenapa harus ke Amerika dulu untuk akhirnya bertemu sebuah buku yang ditulis Kalden? Bukannya dia sering nongkrong di toko buku bekas bapaktua? 

Inchon juga digambarkan jago bermain gitar dan berhasil memenangkan kontes di sebuah club. Bisa jadi ini penggambaran Dee untuk tokoh Inchon agar dia kelihatan lebih keren daripada sekedar jadi geek, mahasiswa peraih beasiswa di universitas ivy league. But that don't impress me much! Tidak ada hubungannya juga dengan inti cerita. Kecuali kalau tiba-tiba dia jadi ksatria bergitar dalam mimpinya lalu menemukan jawaban tanpa harus ke Tibet. (Lah, jadi Bang Rhoma dong... ). 

Dan walaupun ini bukan novel agama, saya merasa banyak unsur-unsur ajaran agama Budha yang disuntikkan dalam pemaparan kisahnya. Sesuatu yang pernah membuat saya jadi sedikit antipati pada Dee saat ia menuliskan Zarah yang beragama Islam namun dengan entengnya menjawab Jamur sebagai Tuhannya. *Sigh* But,hey! Dee hanya menulis untuk dirinya sendiri dulu, memang bukan untuk memenuhi selera pasar. Salah pembaca kalau kemudian jatuh suka. Ya kan?

Ada hal yang saya kagumi, ada pula yang harus saya maklumi. Yang jelas Dee adalah seorang penulis dengan segudang ide namun terkadang terlalu liar berimajinasi. Keliaran imajinasinya itu bisa jadi membawa pembaca jadi penasaran atau malah berhenti ditengah jalan karena kelelahan.

Gelombang adalah salah satunya buah pemikiran dan hasil riset Dee yang akan berlanjut pada Intelensia Embun Pagi yang akan menghubungkan novel-novel sebelumnya. Diantara beberapa hal yang tidak memuaskan tadi saya masih tetap penasaran ingin membaca ending dari serial Supernova. Sementara itu, mari terbawa gelombang hingga waktu yang belum ditentukan. 

Selamat membaca!

12 comments:

  1. Aku mengaku blm pernah baca supernova, terlalu berat....hidup terlalu berat ditambah baca novel berat lg penuaan dini dong eike...hihihi....tp aku baca filosopi kopi dan perahu kertas yg ini lebih light dan suka bacanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apalagi kalo bacanya sambil angkat barbel..pasti lebih berat. Hahaha. Aku rasa sih Supernova Series ini proyek idealisnya Dee. Kalo Filosofi Kopi dan Perahu Kertas lebih kompromi pasar. Tapi heran, sama-sama laku aja. Hahahaha

      Delete
  2. review nya keren. cukup lengkap...
    banyak yang bilang bagus memang gelombang ini,
    beberapa hari yang lalu saya baru berniat untuk beli filosofi kopi :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Baca yg ringan2 dulu aja kek Perahu Kertas. Setelah itu baru lanjut ke Filosofi Kopi. Kalo sdh ngerasa pas frekuensinya dgn Dee baru naik baca Supernova Series. Mulai dari yang paling ringan dulu deh, Petir.

      Delete
  3. Aku punya seri sebelumnya, tapi ngga berani baca lebih jauh karena aku mabok. Hahah.. Diksinya lumayan rumit dan nalar ku ngga sampai buat memahami maknanya.. Hiks.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Partikel, sebelum Gelombang gak rumit2 amat kok Beb.. Coba dibaca dulu pelan-pelan. Atau kalo iseng, baca Petir dulu deh. Itu lbh ringan dibanding yg lain diantara Supernova Series.

      Delete
  4. uda beli dari kapan tau, tapi belom sempet kubaca :)

    ReplyDelete
  5. Kalo aku belum pernah baca semua bukunya dee nih mbak. hehe
    Jadi gak tauuu itu buku nyeritain apa -.-
    Ketinggalan banget yah aku.

    ReplyDelete

Silahkan share postingan ini jika suka, tapi.. jangan dicopas ya. Boleh banget titip komen tapi gak perlu mencantumkan url blog kamu di badan komen. Cukup isi nama dan url blog kamu di bagian name and url. Otomatis keliatan dan akan saya BW kembali. Sering-sering mampir, ya! A happy reader is one of my excitement of being blogger. Terima kasih sudah berkunjung.

Powered by Blogger.