Tentang Rating dan Drama Korea

Beberapa hari yang lalu teman sekantor  ngabarin kalau drama "Ex-Girlfriend Club" yang tayang di tvN sebentar lagi akan selesai masa tayangnya. "Cuma duabelas episode saja coba..,"katanya dengan ekspresi sedih. Ketika drama favorit dihentikan karena rating yang rendah, bisa jadi ada yang berkomentar : 
"Kenapa peduli amat sama rating sih, orang ceritanya seru juga. Emang kita nonton rating yah, bukan drama?"
Sebagai orang yang bekerja di dunia penyiaran televisi dan radio, gue merasa tergelitik  pengen  nulis mengapa industri penyiaran sangat peduli dengan sesuatu yang bernama : Rating.


Bagi orang awam rating itu gak berpengaruh sepanjang menurut yang bersangkutan drama itu disukainya. Tapi bagi orang yang bekerja di televisi dan radio dan berprofesi sebagai eksekutif produser, produser dan asisten produser, rating itu penting banget. Jika ratingnya jeblok bukan pemain dramanyanya yang dimarahin, bukan juga penyiarnya tapi tiga orang yang berkompeten ini yang digetok-getok palanya oleh kepala bagian program yang kemudian bakal digantung lagi sama yang punya perusahaan televisi atau radio. Gambaran visualnya tuh seperti PD Joon Mo di drama The Producers episode pertama yang dipanggil menghadap ekskutif produser dan kepala bagian program hanya untuk diberi tahu program acara yang dipegangnya 2D1N dihentikan penayangannya karena ratingnya rendah.

Tapi by the way. apa sih rating itu? Sebegitu pentingnya kah sampe bisa menghentikan sebuah program acara radio dan televisi?

Secara sederhana rating sebuah acara itu bisa digambarkan sebagai persentase jumlah penonton suatu program televisi/radio tertentu terhadap populasi televisi/radio pada saat tertentu. Unit waktu terkecilnya adalah 1 menit dan terbesar adalah 60 menit (tergantung durasi program acara tersebut). Yang diukur adalah kuantitas keluar-masuk penonton dengan unit waktu tertentu, bukan kualitas program.

Contoh perhitungan sederhananya seperti ini, anggap saja di blok kompleks di Seoul ada 10 rumah yang masing-masing bisa menangkap 3 stasiun televisi : KBS, MBC, dan SBS . Di jam sembilan malam rumah 1,2,3 dan 4 menyetel KBS, sementara rumah 5 dan 6 tongkrongin MBC, rumah 7 dan 8 nonton SBS sedangkan rumah 9 dan 10 matiin televisinya. Maka rating untuk KBS 4 dari 10 rumah : 40%, MBC dan SBS, masing-masing 2 dari 10 rumah adalah  20%.

Masih ingat gak dengan drama Hyde, Jekyl Me di MBC dan Heal Me, Kill Me di SBS? Kedua drama tersebut tayang di hari dan jam yang sama. Dengan plot cerita yang hampir sama juga, Hyde, Jekyl Me mendapat rating yang jauh lebih rendah dibandingkan Heal Me, Kill Me. Tapi itu bukan berarti kalau misalnya yang lebih suka Hyde, Jekyl Me  berselera rendah hanya karena ratingnya 4,2%. Jangan salah tanggap. Rating yang diukur adalah kuantitas, jadi gak ada hubungannya dengan kualitas sebuah program acara atau dalam hal ini drama yah. Bisa jadi ada  drama yang menurut sekelompok pemirsa kualitasnya biasa-biasa aja punya rating bagus sementara yang kualitasnya bagus malah berating jelek.

Sekali lagi yah perlu diingat : Rating mengukur kuantitas dan bukan kualitas. Jadi misalnya lo suka Hyde,Jekyl Me terus ada yang komentar, "Berarti lo termasuk yang 5,3% itu," jangan tersinggung dulu. Orang itu bukan bermaksud ngejudge selera lo jelek, tapi yah emang segitu jumlah orang yang nonton Hyde, Jekyl Me menurut rating.

Kalau anak sekolahan punya raport, blogger selalu ditanyain Alexa ranking dan Google pageranknya sebelum diberi job review, maka begitu pula rating dan share bagi industri penyiaran. Dari rating dan share itu didapatkan data seberapa banyak audience sebuah program acara, seberapa berpengaruhnya stasiun televisi atau stasiun radio terhadap sesamanya, juga kelas/strata dan umur audiencenya. Dari data tersebut sebuah program acara bisa 'dinilai' harga jualnya dan keberlangsungannya  di time slot siaran tersebut.

Sebuah program acara bisa dihentikan karena rating diatas kertas rendah walaupun penonton banyak yang bilang bagus, percaya deh, bukan cuma penonton atau pendengar setia aja yang kecewa. Orang-orang yang berada didepan dan dibelakang layar juga sama kecewanya. Gue bisa bilang seperti ini karena gue sempat mengalami gak enaknya program acara yang gue produseri  dan gue hosted dihentikan gara-gara hasil rating AGB Nielsen berbeda dengan kenyataan yang gue lihat di lapangan. Mau gak mau gue harus terima kenyataan dan merelakan program acara yang gue created, gue produseri dan hosted itu tamat setelah satu setengah tahun berjalan.

Gue jadi teringat 'teriakan' seseorang di timeline twitter. Dia ngetwit begini :
"Percaya tuh sama Tuhan, bukan sama rating."
Gue cuma bisa senyum miris aja membacanya. Tuhan dan Rating adalah dua hal yang tidak bisa dibandingkan. Ketika kita berbicara tentang industri penyiaran maka angka rating adalah panglima. Mau produsernya jungkir balik ngasih bukti respon audience kek, debat masalah format program kek, kalau yang punya stasiun sudah bilang 'cut', semua harus kembali ke pasal satu : UUD, Ujung Ujungnya Duit, sebagai penggerak roda keberlangsungan sebuah stasiun televisi/radio yang didapat dari iklan.

Cha Tae Hyun, Kim Soo Hyun
 PD Joon Mo 'Disidang" Gara-gara Rating di The Producers 
Rating akhirnya menjadi indikator bagi advertiser atau pemasang iklan yang selalu mencari stasiun televisi/radio atau program acara dengan pemirsa/pendengar yang banyak. Logika pemasang iklan semakin banyak yang menonton atau mendengar program siaran tersebut maka kemungkinan besar iklan untuk mendorong penjualan produk atau jasa mereka lebih banyak diketahui oleh orang banyak. Sedangkan bagi pemain industri penyiaran, dengan rating dan share yang tinggi mereka bisa memainkan harga iklan untuk slot tersebut. Semakin banyak iklan, maka keuntungan bagi perusahaan juga makin banyak bukan?

Begitu juga jika rating jeblok, pemasang iklan tentu mikir dua kali menempatkan iklan di acara atau stasiun televisi/radio tersebut. Bagi pihak manajemen rating jeblok menjadi tanda seru. Untuk apa mempertahankan sebuah slot tayangan yang kurang peminatnya, semacam ngomong sendiri tak ada yang mendengarkan atau ngeblog tapi gak ada yang baca.  Buang buang duit aja untuk biaya produksi dan tetek bengeknya. Mending slot acara tersebut dipakai untuk program acara lain.

Jadi jangan merasa kecewa berlebih jika drama favorit lo ratingnya jeblok yah. Itu bukan berarti selera lo jelek. No offense! Mungkin yang sependapat dengan lo kalau drama itu keren aja yang kurang banyak atau karena range surveynya cuma sebatas Korea dan gak nyampe Indonesia.

Jika pun drama favorit lo harus dihentikan karena rating, apa boleh buat? Rating memang bukan Tuhan, juga bukan sesuatu yang ditonton atau didengar secara langsung oleh audience tapi bagi pihak penyelenggara industri penyiaran, rating akhirnya menentukan kebijakan melanjutkan atau malah menghentikan sebuah program acara termasuk drama Korea.

Salam
V

Note: Dituliskan based on experienced sebagai sharing pengetahuan semata, tidak bermaksud menyinggung akun social media  tertentu atau yang bergerak dibidang industri penyiaran dan survey. 

27 comments:

  1. Berarti rating ini cuma dihitung dari yg nonton pas dramanya tayang di stasiun TV ya mak?
    Coba aja dihitung juga yg download/streaming :(
    eh bener gitu gak sih mak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Mak Anggi.. Terimakasih sudah berkunjung.
      Rating pada umumnya memang dihitung dari yang nonton pas drama tayang. Sekarang ini ada lembaga khusus yg juga dihired oleh industri penyiaran (yang mau) untuk menghitung berapa yg menonton/mendengarkan via streaming. Contohnya drama KBS "Discovery of Romance." secara AGB Nielsien (yg dihitung berdasarkan yg nonton langsung melalui televisi), ratingnya dibawah 10% kalo gak salah, tapi untuk streaming ratingnya malah bagus banget sampe 30%. Mudah-mudahan bisa menjawab yah..

      Delete
  2. Klo rating rendah diberentiin seh ok lah ya. Tapi klo di Indonesia suka sebel karena ratingnya tinggi suatu drama jadinya dipanjang panjangin tanpa melihat kualitas lagi.

    Ya masalah pribadi seh yak nganggap sinnetronnya gak bagus. Padahal banyak yang suka. Hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Mak Niee.. terimakasih sudah berkunjung.
      Rating memang tidak menjamin sebuah drama itu bagus, karena yg dihitungkan kuantitas dan bukan kualitas. Ketika kemudian ada peluang untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar memang terkadang tidak lagi memperhatikan masalah kualitas. Mumpung masih hot-hotnya, penonton lagi suka-sukanya, ya kan?
      Diluar masalah sinetronm gue mau ngasih contoh drama Korea yang ratingnya bagus dan penonton antusias banget dengan drama ini : MISAENG. Walaupun rating dan antusias penonton yang tinggi, pihak tvN tidak menambah episode, tetap pada rencana semula. Lain padang lain belalang, Mak. Kebiasaan dan selera orang memang beda-beda yah.. :D

      Delete
  3. Iya Ya, kalo di bidang media pasti rating yang diliat. Ya emang jadi tolak ukur respon masyarakat/pemirsa yang jelas-jelas berperan sebagai 'target pasar' nya media ya mak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener Mak Tetty, semacam raport buat anak sekolah.

      Delete
  4. Baru ngeh sama namanya rating.

    Makasih infonya mbak.

    ReplyDelete
  5. Aku nonton drama korea ga liat rating juga sih, kak. Misalnya aja dramanya Joo Ji Hoon yang medical top team, meski rating jelek tp karena suka sama Joo Jin Hoonnya, ya apa boleh buat? rating ga dengan mudah melunturkan cinta kasihku, #Eaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mmh... makanya di postingan ini saya nulis tentang pengaruh rating untuk kelangsungan suatu tontonan. Bukan tentang pengaruh rating denga selera. Mudah2an gak salah persepsi yah.. :D makasih sudah berkunjung.

      Delete
  6. Hai mbak vita...
    Sebelumnya, aku mau bilang dulu kalau aku newbie di blog-nya mbak *hehe*. senang tau ada blog yang bahas banyak tentang k-drama & k-varietyshow.

    Benar memang di Korea sana sangat-sangat memperhatikan rating. Jadi, ingat drama pinnochio ketika 2 stasiun televisi mendapatkan berita yang sama dan mengatur urutan berita untuk mendapat rating tinggi pada saat penyiaran. Bahkan terkadang rating mungkin dapat dijadikan bahan taruhan dan sebagai macamnya.

    Kalau aku pribadi sih mbak, nonton k-drama memang berdasarkan rating. Karna aku nontonnya di download setelah drama-nya airing dulu (sepengetahuan saja, rating bisa didapat setelah tayang karna dihitung berdasarkan berapa banyak yang menonton secara langsung baik di channel resmi maupun link streaming resmi) tapi tidak sebatas itu, aku juga liat spoiler dan komen tentang alur dibeberapa forum. Dulu, aku pernah nonton drama yang rating-nya sangat tinggi cuma pas ditonton menurutku biasa saja begitu sebaliknya. dan juga kalau boleh curhat nih , yang disuka dari k-drama atau k-variety show yang dipengaruhi rating, setinggi2nya rating para produser /pihak penyiaran akan melakukan tinjauan terlebih dahulu untuk penambahan episode dan kalaupun nambah tak-kan jauh dari alur dan tidak banyak-banyak hingga berseason.

    Memang rating belum menjamin kualitas tapi menjamin kelangsungan tontonan (seperti yang mbak tulis diatas). It's okay, kalau acara favorite harus berhenti karna rating asalkan nanti tetap bisa liat idola dia acara lainnya haha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Mba Nuraisyah.. wihh senang deh kalau dapat komen seperti ini, berarti esensi tulisanku nyampe yah. Memang ada kemungkinan rating tinggi mempengaruhi orang lain untuk menonton mungkin krn penasaran. Tapi memang selalu kembali lagi pada selera masing-masing. Makasih sudah berkunjung ya.. sering2 mampir.

      Delete
  7. kalo di Indonesia sinetron rating tinggi bisa ga selesai2 sampe kakek nenek :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benerr.. hahahaha.. bisa sampe mati-hidup-ternyatakembar-amnesia-sakitjiwa-sembuh-punyaanak-dts-dkk kasian yang nulis skenarionya hahahaha

      Delete
  8. Makasih mbak buat informasinya. Jadi mengerti sekarang tentang rating.
    Dulunya suka kesel aja ada drama bagus tapi kok ratingnya jeblok banget, etapi ternyata perhitungan rating tergantung kuantitas bukan kualitas :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin sama aja kalo kita ngeblog, kadang isi tulisan bagus tapi jatuh di judul. Gak menarik, jadinya diskip orang. Ada yang judulnya heboh tapi isinya gak bermutu. Selain cerita, drama juga butuh polesan marketing makanya suka ada tuh gosip-gosip biar org penasaran. Lahh ini dari rating jadi gosip hahahah ntar bikin postingan lain lagi deh.

      Delete
  9. Terima kasih berpanjang lebar untuk info rating ini.
    Saya jadi lebih mengerti arti penting rating buat orang penyiaran sejak menonton King of Drama ( judul bener ga ya, itu lho yang pemeran penulis ceritanya adalah si princess jamyung), ada yang sampai berani nawarin harga tinggi buat pak ojek agar kaset rekaman sampai di stasiun dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin PDnya belum kenal GoJek ya mba.. hehehe.. Iya bener, tayang on time itu keharusan. Kalau enggak ya penonton dengan gampang bisa mindahin channel kan?

      Delete
  10. waaahhh pecinta drama korea juga ya kak, ngomongin soal rating film drama Blood yg di bintangi Ahn jae Hyun, juga sempat turun rating di chart drama korea, hello monster juga sempat turun rating, jadi aku sekarang labih mengerti tentang rating sekarang, awalnya aku pikir karna kualitas filmnya dan alur cerita yg tidak jelas yg dinilai dan dimasukan ke dalam rating ternyata ada hal lain yg menyebabkan naik turunnya rating, nice post kak, bytheway salam kenal :)

    http://litarachman.blogspot.com/

    ReplyDelete
    Replies
    1. Rating berpengaruh banget dgn selera pemirsa. Bisa jadi di tv sebelah ada cerita lain yg lebih menarik untuk disimak. Terima kasih komennya ya mba.. lain kali boleh dong gak usah nitip link hidup :D

      Delete
  11. Terima kasih ka penjelesan tentang ratingnya. Baru tau ternyata rating sangat dipengaruhi sama selera para viewers. Ka aku mau tanya drakor dpt dikatakan ratingnya bagus itu kalau menembus angka brp? Terus juga aku suka denger "wah rating segitu udah bagus buat tv kabel" maksudnya tv kabel di korea itu seperti apa ka? Terus pertanyaan terakhir ka, kalau search rating drama korea itu ada rating menurut agb sama nielsen atau apalah. Itu perbedaanya apa ka? Yg mana yg lebih dilihat sebagai pengukuran rating itu sendiri. Terimakasih kak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Rating drama tertinggi di pertelevisian Korea bisa menembus 65,8% (First Love - KBS). TV Kabel itu TV berbayar jadi penontonnya terbatas pada yang langganan saja. Tentunya scoopnya berbeda dibanding drama yang tayang di TV nasional. AGB Nielsen itu badan riset, bedanya dengan apa ya? AGB NIELSEN yah AGB NIELSEN, sama aja. Mungkin maksud kamu yg lain.. Ini buat bahan paper/penelitian atau tulisan? Jangan lupa cantumkan sumbernya yah dari aku. Thx

      Delete
  12. Bisa dikatakan rating ini bergantung selera penonton ya. Kalau serial yang kita sukai ternyata ratingnya jelek, mungkin karena kita antimainstraim..hihihi..*kesimpulan yang ngasal

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa jadi... jadi jangan berkecil hati lah ya :D

      Delete
  13. Sebenrnya saya blm ngerti baca rating. Rating paling tinggi berapa? Paling rendah berapa? Nonton di tv berbayar dan tidak berbayar pengaruh banget di rating kan ya ?

    ReplyDelete
  14. Mbak,, maaf.. bukannya kill me heal me MBC, dan drama hyunbin SBS?

    ReplyDelete
  15. Kali kedua baca postingan ini dan baru sekarang sempet komen. Rating jeblok selalu bikin miris. Bukan tentang kualitas drama atau programnya. Tapi kerja keras orang dibalik drama/programnya. Belom ngomongin pemasukan iklan juga. Overall tulisan ini bagus banget. Jelasin rating dalam bahasa sederhana.

    ReplyDelete

Silahkan share postingan ini jika suka, tapi.. jangan dicopas ya. Boleh banget titip komen tapi gak perlu mencantumkan url blog kamu di badan komen. Cukup isi nama dan url blog kamu di bagian name and url. Otomatis keliatan dan akan saya BW kembali. Sering-sering mampir, ya! A happy reader is one of my excitement of being blogger. Terima kasih sudah berkunjung.

Powered by Blogger.