Destination Anywhere : Half Day Trip To Samalona Island

Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada berakhir pekan jauh dari rutinitas. Hari Sabtu yang lalu, saya dan beberapa teman lama jaman kuliah sepakat untuk ngumpul kembali. Tidak di mall, bukan juga di cafe seperti biasanya. Kali ini kami memilih untuk menyebrang ke Pulau Samalona.

Terletak di gugusan Kepulauan Spermonde yang terdiri dari puluhan pulau kecil yang tersebar di perairan selat Makassar, Pulau Samalona menjadi objek pariwisata Bahari Kota Makassar seperti Pulau Kayangan, Lae-Lae, Barrang Lompo, Barang Ca'ddi dan Kodingareng Keke. Pulau Samalona berjarak 7 km dari kota Makassar dan secara administratif masuk ke kecamatan Wajo.

HOW TO GET THERE ?

Untuk menuju ke Pulau Samalona dapat dicapai dengan perahu motor tempel (biasa disebut pappalimbang/jollorok). Ada beberapa akses menuju ke ke Kepulauan Spermonde termasuk ke Pulau Samalona.  Kita bisa lewat dermaga Kayu Bangkoa, pelabuhan Paotere, dermaga Popsa, dermaga Galangan Kapal dan dermaga Barombong. Saya bersama teman-teman memilih untuk bertemu di dermaga Kayu Bangkoa di jalan Penghibur. Letaknya di pusat kota tidak jauh dari Pantai Losari memudahkan sebagai meeting point.
Kayu Bangkoa dalam bahasa Indonesia adalah kayu bakau. Konon, nama itu diberikan karena daerah tersebut dulunya menjadi lokasi persinggahan sampah berupa kayu bakau. Pelabuhan Kayu Bangkoa difungsikan sejak tahun 1970. Keberadaannya  hampir menyamai Pelabuhan Paotere. Bedanya Pelabuhan Paotere terkenal dengan aktivitas kapal phinisi dengan rute hingga ke luar negeri sedangkan Kayu Bangkoa hanya mencakup pulau-pulau yang berada dalam wilayah Makassar. 
Bagaimana Ke Samalona
Suasana Pelabuhan Kayu Bangkoa, Makassar
Sekitar pukul setengah delapan pagi saya bersama seorang teman tiba di dermaga Kayu Bangkoa. Seperti biasa dermaga ini selalu ramai dengan orang yang masuk dan keluar dengan maksud yang beragam. Kebayakan orang yang masuk dermaga ini adalah orang-orang 'kota' yang berniat plesiran walaupun disela-selanya juga ikut pula orang-orang yang membawa jerigen, galon air mineral, tabung-tabung gas 3 kg,buah kelapa dan beragam sandang pangan yang menjadi kebutuhan di pulau-pulau yang tersebar di sekitar perairan Makassar. Sekitar 400 orang  hilir mudik di dermaga ini per harinya. Saya pikir ini semacam pertukaran wisatawan.

traveling Samalona

Diantara orang-orang yang hilir mudik masuk dan keluar saya mencari-cari wajah teman-teman lama. Ternyata mereka menunggu di depan jembatan penghubung gerbang dan dermaga. Beberapa teman lain duduk di sisi dermaga dengan barang bawaan masing-masing juga menyambut dengan salaman dan pelukan. Seperti mengadakan halal bi halal di dermaga, tapi tidak mengapa. Seharusnya dua hari yang lalu saya menghadiri 'reuni' angkatan namun berhalangan. Hari Sabtu itu semacam 'made up' atas ketidakhadiran. So, let's go! Dimana perahunya?

Pulau Samalona
Kapal Motor Siap Membawa Ke Pulau-Pulau Gugusan Spermonde

Tidak ada pelayaran regular menuju gugusan Kepulauan Spermonde, namun ada banyak perahu motor dan beberapa kapal kayu besar yang bersandar di dermaga Kayu Bangkoa. Umumnya kapal kayu besar menjadi alat transportasi menuju pulau-pulau yang letaknya lebih jauh seperti Pulau Barang Lompo, Pulau Barang Ca'ddi dan Pulau Kodingareng Lompo.

Untuk pulau yang berjarak lebih dekat seperti pulau Lae-Lae, Kayangan atau Samalona yang menjadi tempat tujuan kami perahu motor seperti inilah yang siap mengantarkan kita. Lama perjalanan menggunakan perahu motor menuju Pulau Samalona sekitar 15-20 menit tergantung kecepatan perahu dan kondisi cuaca. Katanya semakin pagi kita berangkat, perjalanan semakin lancar karena ombak belum tinggi.

Perahu Motor Pappalimbang/ Jollorok

HOW MUCH DOES IT COST?
Sebuah perahu motor berkapasitas 8-10 orang bisa disewa seharga 400rb - 500rb tergantung pinter-pinternya nawar. Pagi itu kami sepakat dengan pemilik perahu di harga 400rb pulang pergi dengan 10 orang dewasa dan 2 anak kecil.


Perjalanan menuju Pulau Samalona  dapat ditempuh dalam waktu sekitar 15 menit. Tapi karena kapal kami mampir sebentar di Pulau Lae-Lae untuk mengambil pelampung sewaan (hasil usulan dari yang punya kapal, mungkin krn rumahnya di pulau itu) maka kami tiba di pulau Samalona sekitar 20 menit. Cuaca bagus, ombak tidak besar karena kami menyebrang masih cukup pagi. Pemandangan gedung-gedung tinggi yang menjulang dan kapal-kapal besar yang berlabuh kami tinggalkan dibelakang. Perlahan tapi pasti sebuah pulau kecil dengan gerombolan pohon hijau dan pasir putih terlihat. Itu dia, Pulau Samalona!

Pulau Samalona Makassar
Dermaga Pulau Samalona Dengan Papan Nama Pemilik Pulau

WHAT TO DO ?

Sejak pertama kali berkunjung di tahun 2010 Pulau Samalona membuat saya teringat pada pulau-pulau privat eksotis di film-film. Tidak terlalu salah sebenarnya, karena memang Pulau Samalona ini bukanlah milik pemerintah walaupun menjadi objek pariwisata kota Makassar. Pulau ini dimiliki oleh 7 bersaudara yang sudah beranak pinak sekian lama. Nama-nama pemiliknya terpajang di papan yang diletakkan di dermaga.

Dermaga Pulau Samalona

Pulau Samalona Makassar
Selamat Datang Di Pulau Samalona
Untuk yang hobi snorkling, diving atau hanya ingin bermain air sambil menjejakkan kaki di pasir putih yang hangat dengan pemandangan jernihnya air laut yang berdegradasi turquoise dan biru tua, berkunjung ke Pulau Samalona adalah pilihan yang tepat (eitss bukan Pizza loh ya..)

Begitu kapal merapat di dermaga, saya rasanya sudah tidak sabar untuk segera menyusuri tepian pantai berpasir putih yang hangat di pulau Samalona ini. Berhubung lagi flu berat saya berpikir untuk leyeh-leyeh cantik aja di pantai sambil baca buku which is impossible. Masih diatas kapal saja, air lautnya yang bening sudah mengajak banget untuk dicemplungin. Warna biru dan turquoise yang berdegradasi seakan menggoda,"Yakin lo gak mau snorkling?"

Pulau Samalona Makassar
Abaikan Kakinya

Untungnya emang hati saya yang pisces ini (baca:gak bisa liat air laut bawaannya pengen nyebur aja) masih bisa memberi tahu pikiran saya untuk membawa baju buat nyebur-nyebur manis. Walhasil setelah menyikat sarapan tertunda yang disiapkan seksi rempong (which is i thank you for that!) akhirnya saya resmi menyatu dengan air laut yang hangat. Flu dan bindeng berat itu entah kabur kemana. Entahlah.. yang jelas saya malah snorkling dan dadah-dadahan sama ikan-ikan kecil sampai ikan pari di bawah sana.

Pulau Samalona memang dikenal sebagai salah spot snorkling dan diving yang tidak begitu jauh dari Makassar. Peralatan snorkling dan diving bisa disewa. Sebagai informasi kata sang empunya kapal harga paket snorkling 50rb. Bahkan jika tidak tahu berenang bukan jadi halangan untuk tidak snorkling. Sewa aja pelampung seharga 10rb dan minta gandengan sama teman kamu yang jago renang dan nyelam. Biar teman kamu yang nge-guide, kamu mah rileks aja liat pemandangan di bawah sana. Jangan lupa bernafas santai pake mulut lewat snorkle, jangan pake hidung ya! Hehehe...

Ada beberapa spot terumbu karang tempat berkumpulnya ikan-ikan lucu. Semakin dalam lautnya biasanya ikannya makin banyak. Jangan khawatir, walaupun snorklingnya di air yang berwarna turquoise yang tidak terlalu dalam kita masih bisa ketemu ikan-ikan. Tapi kecil-kecil.. (kek iklan jaman dulu).

Dibanding sewaktu saya snorkling pertama kali tahun 2011 di tempat ini, terumbu karang di pulau Samalona sudah lebih sehat. Memang ada beberapa yang sudah mati dan diselingi dengan botol-botol kosong ( i wonder, was that message in the bottle?) tapi beberapa waktu lalu di tahun 2015 ini, saya sempat membaca berita ada peremajaan terumbu karang. Mungkin itulah yang saya lihat. Sayang karena awalnya tidak niat snorkling saya tidak membawa case kedap air untuk kamera, jadi tidak foto-foto. *Duh mudah-mudahan tidak disangka hoax aja nih*

Jikapun tidak berminat untuk snorkling atau diving, berendam sambil belajar mengapung di pinggiran pantai pun cukup menyenangkan.

Pulau Samalona Makassar
Pantai Pulau Samalona 

Banana Boat bisa menjadi alternatif hiburan dengan tarif 150rb untuk 5 orang. Saya dan teman-teman setelah puas berenang-berenang cantik sepakat untuk mencoba permainan ini.

Banana Boat di Pulau Samalona
Banana Boat ( taken by kak Aca)

WHERE TO REST

Kami serombongan terdiri dari 12 orang dengan hanya 4 lelaki. Tidak mungkin jika hanya menyewa bale-bale saja sebagai tempat istirahat atau ganti baju. Memang di pulau Samalona tersedia kamar mandi umum untuk mandi dengan tarif 15rb perorang tapi kalau dihitung-hitung demi keamanan dan kenyamanan akhirnya kami sepakat untuk menyewa rumah 1 kamar dengan kamar mandi dalam. Berhubung weekend, harganya dipatok 400rb. Memang agak naujubileh untuk ukuran setengah hari saja dengan AC yang tidak nyala. Untuk hari biasa harganya cuma 200rb saja. Masih tetap merasa kemahalan? Ada bale-bale seharga 100rb tapi kalau mau bawa tenda sendiri boleh saja.

Pulau Samalona Makassar
Camping di Pulau Samalona

WHAT TO EAT ?

Ikan bakar? Mmmh.. boleh banget! Kebanyakan pengunjung datang dengan ikan segar dari Makassar lalu bakar sendiri di pantai. Harga ikan di pulau Samalona tergolong mahal karena mereka mengambil ikan dari nelayan di Makassar. Jangankan ikan, kelapa muda saja dipatok 25rb per biji dengan alasan yang sama : mereka beli di Makassar. Pulau ini bukan seperti pulau di serial Lost yang memiliki jajaran pohon kelapa, pun berpenduduk dengan profesi nelayan. Jadi harap maklum, semua supply kebutuhan di import dari Makassar. Jadi lebih gampang kalau bawa ransum sendiri. Kalau tidak mau repot di Pulau Samalona ada semacam warung yang menyediakan mie instant, minuman dan makanan ringan. Tentu saja harganya jangan disamakan dengan harga di kota Makassar ya!

DON'T FORGET TO TAKE PICTURES

Setelah beberes diri dan makan siang saya dan teman-teman perempuan memilih untuk mengelilingi pulau Samalona. Ukuran pulau ini terbilang kecil, jangan dibandingkan dengan Gili Trawangan yang bisa dipake sesepedaan.  Luas Pulau Samalona hanya sekitar 2,7 hektar itu juga sejalan waktu tergerus air laut dan mengecil. Pantesan ada beberapa spot menarik yang pernah jadi latar belakang foto saya di tahun 2010 sudah tak ada lagi. Ihh.. cedihh.. Serunya ternyata ada televisi (rusak) lengkap dengan remote yang dipajang di salah satu tiang penahan ombak. Entah siapa yang memasangnya disitu, lucu!

Pulau Samalona
Ada Televisi Di Pantai Pulau Samalona

Beberapa spot-spot menarik buat foto-foto tidak bisa dilewatkan untuk diabadikan dalam jepretan :

Pulau Samalona Makassar
Dari Tepi Pulau Samalona 
Puas foto-foto sebenarnya saya masih mau snorkling lagi di laut yang lebih dalam, tapi awak kapal yang datang ke rumah sewaan mengabari kami harus segera balik ke Makassar. "Ombaknya tinggi,"katanya. Eh, memang tidak terasa ternyata sudah pukul dua siang. Di jam-jam begini ombak memang kurang bersahabat. Apalagi di kejauhan langit agak gelap. Jadilah kami bergegas angkat barang dan segera meninggalkan pulau Samalona.

BYE SAMALONA! 

Benar saja, perjalanan pulang terasa sangat berat dan lama. Ombak besar dan muatan yang cukup berat (uhuk!) membuat kapal tidak boleh melaju terlalu kencang. Beberapa kali mesin kapal dimatikan jika bertemu dengan ombak yang sungguh bikin kami deg-degan karena kapal terasa goyang dan berat sebelah dihempas gelombang.

Kapal yang kami tumpangi mulai melaju dengan kecepatan normal kembali setelah melewati Pulau Lae-Lae. Ombak tidak setinggi dibelakang kami karena adanya pembatas penahan ombak. Ahh.. leganya. Tidak berapa lama dermaga Kayu Bangkoa terlihat dan akhirnya kapal kami berlabuh dengan selamat.

Pulau Samalona, Makassar  Sulawesi Selatan
Pulau Samalona, Makassar - Sulawesi Selatan

Jadi jika suatu hari berkunjung ke Makassar, sempatkan diri menyebrang ke pulau Samalona menikmati wisata bahari tak jauh dari kota Makassar. Dengar kabar pulau ini diprediksikan menghilang di tahun 2020 karena gerusan air laut. Mudah-mudahan ada tindakan dari pemerintah untuk menyelamatkan pulau Samalona. Sayang jika pemandangan seindah ini hilang begitu saja. Gak nginap pun seperti yang sudah dua kali saya lakukan tak mengapa. Half day trip to Samalona, once is never enough.

Yuk, mampir ke pulau Samalona!

13 comments:

  1. Kalau Samalona, memang sudah jadi pengembangan objek wisata sejak dari dulu, Kak.
    Sekali waktu, coba berkunjung ke Pulau Lanjukang, yang masih benar-benar belum terjajah tangan-tangan komersil. hanya sekira Hanya saja, kalau berencana kesana, harus siap sandang, pangan, papan sendiri. Tapi, itu bagian yang paling menyenangkannya a.k.a menjauh dari hiruk-pikuk teknologi. :D Hehehe....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyahh kan saya bukan sekali ini ke Samalona. Posting ttg Samalona supaya org dri luar Makassar lebih banyak yang tahu, jdi mrk punya alternatif lain untuk berlibur.

      Delete
  2. Saya baru tau klo kayu bangkoa itu adalah bakau. Tq... tulisan yg menarik, lengkap terpercaya hehee

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bantaeng mana Bantaeng...Hahahaha.. Eh yuk ke Rammang Rammang. Ada lombanya katanya.

      Delete
  3. wah ada tempat bagus juga ya di makasar, pantainya asik dan unik tuh ada televisi di atas batu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tau nih, terakhir ke sana belum ada tuh TV hahaha.. Nelayan juga butuh hiburan, kata yang masang.

      Delete
  4. Bagus tulisannya, kapan2 kesana ah

    ReplyDelete
  5. Yang di Jawa aja belum kesentuh :( ini udah di godain lagi. Oh iya Ka, ini first time aku mampir kemari, ternyata kita sama-sama suka korea! cheers dulu ah :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dicatat aja dulu, kapan tau mampir ke Makassar bisa ke Samalona deh.. Toss dulu deh sama2 suka Korea. Manse!!

      Delete
  6. Terakhir ke sana dermaganya rusak parah jadi tidak bisa digunakan lagi. Terumbu karangnya juga rusak parah, alhamdulillah kalau sudah ada peremajaan. Rumah di sana semakin banyak gak? Ada pohon favoritku yang jadi sarang banyak tupai ditebang u.u untuk membangun rumah.
    Btw, selama ini ke Samalona saya berangkat dari dermaga popsa ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo tdk direhab kemungkinan besar orang-orang malas ke Samalona, jdi yah memang harus disehatkan lagi terumbu karangnya. Rumah disana makin banyak, tidak memperhatikan pohon yang dweedy maksud sih cuma ada satu pohon yang sudah dak ada disitu. I donno why

      Delete
  7. Itu ada tivi emang beneran buat nonton para nelayannya ya mak? Kepikiran gitu ya masangnya diatas batu, malah sekalian jadi objek foto deh... unik soalnya.. hehehe.

    ReplyDelete

Silahkan share postingan ini jika suka, tapi.. jangan dicopas ya. Boleh banget titip komen tapi gak perlu mencantumkan url blog kamu di badan komen. Cukup isi nama dan url blog kamu di bagian name and url. Otomatis keliatan dan akan saya BW kembali. Sering-sering mampir, ya! A happy reader is one of my excitement of being blogger. Terima kasih sudah berkunjung.

Powered by Blogger.