Kantong Plastik Tak Lagi Gratis

Hari Minggu kemarin saya tiba-tiba pengen makan pizza. Sebenarnya gampang aja sih, tinggal beli jadi, tapi ada rasa-rasa pengen turun ke dapur buat sendiri. Jadilah saya cek en ricek bahan di dapur dan ternyata gak nemu ragi.

Mampirlah saya ke sebuah supermarket besar sebelah kompleks. Seperti biasa, perempuan kalau belanja, niat awalnya bisa jadi cuma mau beli ragi. Endingnya, ragi, barang utama yang ingin dibeli malah out of stock. Di kasir malah nyodorin keju, sosis, kopi sampai buah semangka, hihihi.. Gak ngagetin itu sih.

Yang sedikit mengagetkan adalah, pas di kasir ada pengumuman bahwa mulai hari Minggu itu, tanggal 21 Februari 2016, supermarket tersebut memberlakukan program kantong plastik berbayar. Setiap pemakaian kantong plastik, ukuran kecil dan besar dihargai Rp.200/lembar. Katanya mengikuti peraturan pemerintah.


Kebijakan kantong plastik berbayar yang diterapkan oleh supermarket tersebut sesuai dengan Surat Edaran Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor S.1230/PSLB3-PS /2016 tentang Harga dan Mekanisme Penerapan Kantong Plastik Berbayar.

Disebutkan didalam surat edaran, kantong plastik ditetapkan berbayar Rp 200 dan sudah termasuk Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Kebijakan ini dilaunching bertepatan dengan hari Peduli Sampah Nasional 2016, tanggal 21 Februari kemarin. Demikian yang saya dengar dari mas-mas pusat informasi yang membacakan pengumuman.

Saya sempat bertanya bagaimana kalau besok-besok belanja lagi tapi bawa tas belanjaan sendiri. Ada tuh tas belanjaan ala tote bag yang kapan hari sempat dikampanyekan juga oleh pihak supermarket. Mbak kasirnya bilang boleh aja, malah boleh bawa kantong plastik sendiri.

Saya pribadi sebenarnya setuju saja dengan kebijakan ini. Selama ini sering banget mendapati kasir yang 'boros' kantong plastik. Apa-apa diberi plastik terpisah, padahal satu kantong plastik aja sebenarnya bisa muat lebih banyak barang. Saya sering terpaksa minta jangan terlalu banyak pake kantong plastik dan ngatur-ngatur sendiri barang belanjaan di kasir. Kebiasaan itu sempat menuai komentar dari salah seorang kasir,"Kantong plastiknya gak dibayar kok, bu." Nah loh, sekarang gimana?

Sebelum diterapkannya kebijakan kantong plastik berbayar ini pun sebenarnya sudah ada gerakan 'goes green' di beberapa swalayan besar. Mereka menyediakan tas-tas belanjaan yang bisa dibeli seharga 10 - 20 ribu rupiah. Saya ikutan dong, beli juga. Kantong plastik di rumah sudah kebanyakan.

Ternyata ketika beberapa waktu kemudian saya kembali ke sana dengan tote bag tersebut, tidak semua karyawan supermarket mengerti tentang program 'go green' ini. Tas 'Goes Green' saya malah ditahan pihak security karena dianggap termasuk tas besar yang tidak bisa dibawa masuk. Lucu juga ya? Batal deh, jadi pelanggan peduli lingkungan.


Nah, berhubung di supermarket pertama ragi yang saya perlukan sedang out of stock, saya pun melipir ke supermarket lainnya di mall sebelah. Ternyata di supermarket tersebut juga diterapkan kebijakan kantong plastik berbayar. Saat mengantri di kasir, saya sempat mendengar komentar dari beberapa pelanggan di depan dan di belakang saya. Reaksi pertama, mereka cukup kaget kalau harus membayar kantong plastik. Gak sampai ada yang menolak sih. Mungkin mereka berpikir, hanya dua ratus rupiah ini.

Sementara saya saat itu memilih untuk tidak memakai kantong plastik berhubung belanjaan saya hanya sekotak ragi dan keju slice. Jadi dengan memegang kedua item itu saya pun berlalu dengan selembar struk belanja.

Hari ini saya ketika saya ngobrol dengan beberapa rekan kantor mengenai kebijakan ini, mereka tidak mempermasalahkan mengeluarkan uang dua ratus rupiah per lembar kantong plastik. Dengan alasan kepraktisan daripada harus bawa kantong belanja sendiri, mereka memilih untuk membayar saja.

Jika kebanyakan orang berpikir seperti itu, kebijakan yang bermaksud untuk mengurangi limbah kantong plastik ini kemungkinan besar gak bakal ngefek. Tapi kalau harga kantong plastik ini dinaikkan menjadi Rp.5000 atau Rp.20.000 misalnya, bisa-bisa masyarakat banyak yang demo. Repot juga kan?

Kantong Plastik Berbayar, Program Ramah Lingkungan 

Sebenarnya kebijakan ini dibuat katanya untuk membantu mengurangi penggunaan kantong plastik dan membiasakan masyarakat membawa tas belanja sendiri dari rumah. Produksi sampah nasional dalam setahun bisa mencapai 64 juta ton, dimana 8,9 juta ton adalah sampah plastik. Maunya sih dengan kebijakan ini bisa menekan jumlah produksi sampah plastik.

"Kantong plastik itu kan bisa dipake buat wadah sampah juga. Kalau gak pake kantong plastik, kita buang sampah pake apa?"komentar salah seorang ibu. 

Penggunaan kantong plastik memang tidak dilarang, hanya disarankan oleh pemerintah agar dikurangi. Tujuan jangka panjangnya adalah agar Indonesia bebas sampah di tahun 2020. Selain itu menurut para pencinta lingkungan dengan mengurangi sampah plastik, kita bisa membantu menyelamatkan bumi dari pemanasan global.



Kantong Plastik Berbayar di Luar Negeri


"Kira-kira di luar negeri kantong plastiknya berbayar juga gak ya?" tanya seorang rekan di kantor. 

Setahu saya sih sudah ada beberapa negara yang menerapkan kebijakan kantong plastik berbayar, meski hanya di daerah tertentu saja. Misalnya di Australia selatan dan utara, wilayah ibukota (Canberra) dan kota Freemantle menerapkan hal tersebut.

Di Amerika Serikat menurut plasticbaglaws.org, 16 negara bagian seperti Alaska, Arizona, California, Colorado, Connecticut, Hawaii, Indiana, Maryland, New York, Oregon, Pennsylvania, Texas, Vermont, Virginia, Washington state dan Washington DC juga turut menerapkan hal yang sama. Di salah satu drama Korea juga sempat ada adegan pembelinya dikenakan biaya kantong plastik.

Mungkin ada yang mau menambahkan?

Donasi Kantong Plastik Berbayar, Untuk Siapa? 


Biaya kantong plastik yang disebut sebagai 'donasi' di nota belanja, sempat pula dipertanyakan dalam obrolan para pegawai di kantor saya.

"Uang dua ratus rupiah itu buat apa ya? Jangan-jangan gara-gara ada harga kantong plastik, penjual di warung-warung kecil ikut-ikutan membebani pembeli dengan biaya kantong plastik. Lebih parah kalau biaya kantong plastiknya dibebankan ke harga barang. Harga-harga bisa naik dong gara-gara program kantong plastik berbayar,"pendapat seorang rekan kerja. 

Menurut yang saya baca di Antara News, Pakar Lingkungan Hidup dari Universitas Indonesia Emil Salim mengatakan uang yang didapat dari kantong plastik berbayar dapat digunakan untuk menanggulangi kemiskinan di Tanah Air.

Sementara menurut Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI), nantinya seluruh hasil penjualan kantong plastik yang disediakan oleh perusahaan retail minimarket dan pasar swalayan akan dialokasikan untuk pembinaan edukasi konsumen.

Entah bagaimana langkah kongkrit dari donasi kantong plastik berbayar tersebut. Saya sendiri pesimis ya. Tapi lihat dari sisi baiknya, dengan kebijakan kantong plastik berbayar ini, kita bisa pake tote bag yang lucu-lucu. Bisa jadi lahan bisnis baru juga untuk memproduksi tote & shopper bag , mungkin? *wink*

Semoga saja kepercayaan kita pada kebijakan pemerintah ini tidak disalahgunakan demi kepentingan lain. Toh katanya kebijakan ini akan diberlakukan selama enam bulan mulai 21 Februari hingga 5 Juni 2016 mendatang. Jika tidak berhasil atau terjadi polemik, kebijakan ini akan ditinjau kembali.

Nah sekarang, mau pake tote bag atau tetap pakai kantong plastik berbayar? 

17 comments:

  1. sama kayak disini. kalo mau pake plastik mesti bayar karena bahan plastik nya jadi yang recyclable.
    kalo si ibu yang berkomentar untuk sampah pake apa, ya sama jawabannya kudu beli kantong plastik sampah yang emang bisa di recycle.

    ReplyDelete
  2. Agak ribet emang kalau tiap mau belanja harus bawa totebag. Buktinya udah punya goodiebag dan totebag aja tiap ke swalayan tetep ga bawa,hihi. Apalagi kalau belanjanya pas lagi dijalan sekalian mampir. *kebanyakan alesan*
    Mau coba dulu tiap belanja bawa tas sendiri. Kalau belanjanya beberapa kali kan sayang juga yak.. hehe #pelit

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaah coba dulu aja.. Siapa tahu lama kelamaan jadi kebiasaan.

      Delete
  3. Hiiy, saya sering geregetan lihat tumpukan plastik itu, Mbak :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu tumpukan plastik di rumah saya loh :)) #abaikan tolong fokus pada foto Manse aja di tengah.

      Delete
  4. sebetulnya idenya menarik mbak. cuma harus ada kelanggengan peraturan. artinya peraturan itu dibuat untuk dipakai selama minimal sekian puluh tahun, misalnya, dengan mengantisipasi adanya revisi peraturan oleh aturan di atasnya tentunya. jangan sampai aturan yang bagus tergerus saat ganti presiden, misalnya. nggak jadi keren dong kita.

    trus harusnya sudah dimulai juga daur ulang sampah. minimal tiap kabupaten/kota punya satu. daur ulang lho ya, bukan TPA.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju mas.. mudah2an bisa berjalan dengan baik.

      Delete
  5. Waaah bener-bener udah diterapkan ya di jakarata ya.. Kalo aku sih seuju-setuju aja. Untuk mengurangi sampah plastik juga kan. Berarti belanja bulanan bulan depan mesti bawa tas sendiri ya? Oke deh. Makasi infonya ya Maaaak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyah mak, diterapkan di 22 kota lainnya. Silahkan bawa tas belanja sendiri. Ditunggu loh cerita pengalamannya :)

      Delete
  6. tapi untungnya aku punya kebiasaan bawa tottebag kalau belanja..

    ReplyDelete
  7. Rp. 200 untuk sebuah kantong kresek menurut saya itu masih terlalu murah. Coba kalo dinaikin jadi Rp. 2.000, pasti bakal pikir-pikir lagi tuh buat beli kantong kresek lagi apa ngga :)

    ReplyDelete
  8. aku kalau ke minimarket malah nggak pernah diplastikin. soalnya udah bawa kantong sendiri. :D

    ReplyDelete
  9. Saya termasuk yang setuju dengan penguranagn kantong plastik, dan bener kata mba Vita,s eharusnya harganya dinaikkan agar jera, dan nggak beli beli plastik lagi.
    Halo mba Vita, maaf baru sempat berkunjung

    ReplyDelete
  10. Seharusnya anak muda Indonesia punya inovasi baru untuk mengelola kantong plastik itu.

    ReplyDelete
  11. kita harus mendukung program ini, aduh masih banyak yang belum sadar

    ReplyDelete
  12. Kalo laki-laki agak rempong kalo bawa tas belanja sendiri. Hahaha.

    ReplyDelete
  13. Klo aku sih buat urusan lingkungan hidup setuju banget.. krn aku jg klo belanja dikit klo masih bisa masuk tas ya masuk. Klo banyak pake tote bag.
    Yg jd pertanyaan aku, gimana dengan produk2 yg jg pake plastik n lebih tebal dari sekedar "kresek" botol2 minuman, minyak goreng, refille sabun,dll..

    ReplyDelete

Silahkan share postingan ini jika suka, tapi.. jangan dicopas ya. Boleh banget titip komen tapi gak perlu mencantumkan url blog kamu di badan komen. Cukup isi nama dan url blog kamu di bagian name and url. Otomatis keliatan dan akan saya BW kembali. Sering-sering mampir, ya! A happy reader is one of my excitement of being blogger. Terima kasih sudah berkunjung.

Powered by Blogger.