6 Hal yang Perlu Kamu Lakukan Untuk Meraih Beasiswa S2

Sesekali ngomongin sekolahan, ah.. 

Tahun lalu saya memutuskan dengan nekatnya kembali ke kampus untuk mendapatkan gelar S2. Sebenarnya sudah lama saya berencana kuliah lagi. Saya menghargai pendidikan dan suka mempelajari hal-hal baru, (tsahhh). Pengen banget rasanya mempelajari ilmu yang berbeda dengan jurusan yang saya ambil di program S1. Maunya sih ilmu yang baru ini bisa dikombinasikan dengan kepentingan kerjaan juga, 

Tapi kuliah program master itu gak murah kan, yah. Lagipula saya kan anaknya suka gratisan, hihihihi.. Jadi tentu saja yang incar adalah program beasiswa. Awalnya saya mengincar beasiswa luar negeri dong, biar sekalian bisa jalan-jalan seperti teman-teman penerima beasiswa lainnya (hihiihi.. ayo ngaku kaliaaan, itu niatnya belajar atau mau traveling?). 

Apa daya karena sesuatu dan lain hal, saya batal mengejar beasiswa luar negeri. Akhirnya beasiswa dalam negeri pun dihajar. Gak apa-apa deh!  Yang penting biaya kuliah dibayarin, ngampus di universitas negeri terakreditasi A, bukan yang abal-abal, ilmunya dapat, dan urusan pekerjaan (mudah-mudahan) lancar.  



Setelah melewati serangkaian seleksi hingga test masuk berupa TPA dan test TOEFL, alhamdulillah saya berhasil diterima di universitas negeri yang kebetulan kampus almamater juga sih. Selain biaya pendidikan, biaya operasional bulanan juga termasuk dalam beasiswa. Saya hanya harus menyelesaikan masa belajar selama gak lebih dari dua tahun dan tidak DO atau memutuskan keluar sebelum selesai. Dengan kata lain : Study well, get my degree on time and I'll be just fine. 

Pretty easy? 

Bagi beberapa orang, kelihatannya sangat mudah. Saking mudahnya di mata mereka, jadi salah kaprah. Mereka menganggap karena saya menerima beasiswa dari kementerian tempat saya bernaung, maka beasiswa ini adalah 'pemberian'. Duh, kalau benar begitu adanya saya dengan senang hati minta beasiswa ke Sunkyungkwan University supaya bisa sealmamater dengan Song Joongki. Atau minta dibiayain sekolah ke Belanda supaya bisa traveling pas weekend ke Inggris. 

Kalau mau diterusin, ntar jadi curhat. Jadi mari kita abaikan saja! Hahaha.. 

Sebenarnya setiap orang berhak mendapatkan beasiswa. Sama halnya dengan setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan seperti yang tercantum dalam pasal 31 UUD 1945. Namun, tentu saja beasiswa hanya ditawarkan kepada orang-orang 'terpilih' yang dianggap mampu secara intelektual dan mempunyai visi, misi yang jelas terhadap ilmu yang akan dipelajarinya nanti. Itu kata pemberi beasiswa loh.. 

Dengan biaya kuliah dan biaya hidup ditanggung, gak cuma satu orang kali yang pengen. Buanyaaaaak.. and when i said 'buanyak' itu bisa ratusan, ribuan bahkan puluhan ribu orang. Untuk menentukan siapa saja yang berhak dibiayai ini gak cukup pake cap-cip-cup-kembang-kuncup. Diperlukan 'seleksi' yang prosesnya lebih dari sekedar memakai topi seleksi seperti di film Harry Potter. 

Jadi kalau sudah tahu yang pengen dapat beasiswa itu banyak dan kita harus melewati proses seleksi, lalu apa yang harus kita lakukan? 

USAHA DONG............... bukan bakar menyan! (Kecuali kalau menurut kamu, bakar menyan masuk dalam kategori berusaha). 


Meski saya hanya penerima beasiswa dalam negeri dan saya tahu banyak yang lebih jago diluar sana, berikut beberapa hal yang (telah) saya lakukan untuk meraih beasiswa : 

Mencari Informasi 

Beasiswa itu banyak kok dan setiap tahun selalu ada. Kamu hanya perlu cari informasi lewat mana saja. Paling gampang sih, googling aja keuleus. Mulai pencarian informasi sedini mungkin, supaya punya cukup waktu untuk melengkapi semua persyaratan dan dokumen yang dibutuhkan. Baca persyaratannya dengan baik dan pilih mana yang cocok buat kamu. Berangan-angan dapat beasiswa boleh saja, tapi perlu tindakan untuk menghasilkan karya nyata. 

Memastikan Kualitas Diri Sesuai dengan Kualifikasi 

Persyaratan beasiswa itu bermacam-macam. Mulai dari umur, IPK, skor TOEFL/IELTS/JLPT/TOPIC (tergantung negara yang dituju) hingga skor TPA. Umur dan IPK saat di program S1 memang sudah tidak bisa diganggu gugat. Kalau tidak memenuhi syarat, ya sudah skip aja. Masih ada beasiswa yang lain. Tapi kalau skor TOEFLTOEFL/IELTS/JLPT/TOPIC  dan TPA kamu belum mencukupi, masih bisa diusahakan. 

Jika misalnya persyaratan TOEFLnya minimal berskor 550 sementara skor kamu hanya 547 misalnya (apes banget sih!), siapkan diri untuk test TOEFL sampai melampaui skor minimal. Jangan puas hanya 550 saja. Pengalaman, dari IPK aja sudah diranking. Setelah itu penyeleksian berkas dipersempit dengan meranking skor TPA dan skor kemampuan bahasa kamu. 

Menentukan Bidang Studi dan Universitas yang Diinginkan

Ini penting karena beberapa beasiswa mensyaratkan Letter of Acceptance dari perguruan tinggi. Biasanya yang pelamar beasiswa yang sudah memiliki LoA kemungkinan untuk menerima beasiswa lebih besar. Tapi ada juga malah membantu proses LoA itu. Pelamar beasiswa hanya perlu menentukan bidang studi dan universitas yang terdaftar dalam kerjasama pihak pemberi beasiswa. Jika lolos seleksi administrasi , test masuk perguruan tinggi dan wawancara, pihak pemberi beasiswa yang mengurus proses penerimaan hingga terdaftar sebagai mahasiswa. Lagipula kalau belum tahu mau kuliah di bidang apa, buat apa kuliah lagi? 

Menyiapkan Dokumen-Dokumen Penting

Ijazah, transkrip nilai,sertifikat yang dilegalisir, essay dan surat rekomendasi adalah dokumen-dokumen yang penting untuk disiapkan. Surat rekomendasi biasanya dari dosen atau pimpinan tempat kamu bekerja atau organisasi tempat kamu bergabung. Jika kamu memburu beasiswa luar negeri, siapkan dokumen-dokumen tersebut dalam bahasa Inggris. 

Bingung gimana mentranslasikan ijazah dan transkrip nilai? Ada badan tertentu yang berkompeten. Berbayar tentunya. Pastikan saja badan yang mentranslasikannya bisa dipercaya dan akurat. Paling aman, datang ke pusat bahasa universitas negeri di kota kamu. 

Fokus dan Pantang Menyerah

Memang ada banyak beasiswa yang tersedia, namun fokuslah hanya pada beasiswa yang relevan saja. Melengkapi persyaratan dan dokumen itu butuh waktu dan usaha yang tidak sedikit. No pain no gain, tentu saja berlaku. Makin besar dan terkenal beasiswa yang kamu kejar, makin besar pula usaha yang harus dikerahkan. 

Banyak yang gagal karena sudah males duluan mikir harus urus ini itu, TOEFL harus sekian gak nyampe-nyampe, pengurusan ijin ke atasan dan lain sebagainya. Bahkan sudah capek-capek cari info, mengurus dokumen ini itu, belajar keras agar skor TOEFL dan TPA sesuai standar, tetap tidak diterima juga. 


Menyerah? Boleh..,asalkan jangan ngiri ya sama yang berhasil menerima beasiswa. Banyak kok yang berhasil mendapatkan beasiswa setelah beberapa kali mencoba. Ingat saja, setiap pintu yang tertutup, akan ada jendela yang terbuka. Belum terbuka juga ? Jangan lupa 'ketuk'lah dengan doa. 

Berdoa dan Stay Positive 

Mendapat beasiswa adalah salah satu bentuk rejeki juga, menurut saya. Tuhan itu maha adil dan maha tahu, seberapa besar keinginan dan usaha kita. Kerjakan apa yang bisa kita lakukan, berdoa minta yang terbaik dan stay positive. Kalau pun misalnya gagal juga hingga batas usia tidak lagi bisa apply beasiswa, yakin aja baik buruknya sesuatu untuk kita, hanya Tuhan yang tahu. Don't be greedy, ketamakan selalunya hanya membawa kita hal yang pada akhirnya memusingkan kita sendiri. Tsaah.. 

Dari saya sih, itu aja. Ada yang mau menambahkan pengalaman atau tips dan triknya? Boleh loh.. silahkan komen di bawah ya. Jangan lupa share jika kamu pikir postingan ini berguna. 

Keep on fighting till the end. Good luck!

11 comments:

  1. aku udah dua kali nyoba dan gagal, tapi mau lagi sih nyoba s2 by beasiswa, padahal anak udah mau dua, tapi gak apalah ya insya alloh dimudahkan kalau buat kebaikan, aku sama suami sampe beli bukunya a Fuadi penulis negeri 5 menara buat nyari tips and trik beasiswa, haha.. niat banget..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Insya Allah, mak.. Seperti yang saya sebutkan di atas Fokus dan Pantang Menyerah. Tetap berdoa dan stay positive ya mak..

      Delete
  2. wohooo, selamat atas beasiswanya dan salut akan niatnya untuk kuliah lagi.

    ReplyDelete
  3. pingin S2...beasiswa...tapi kok banyak yang syaratnya umur sebelum 37 yaa....udah lewaaatt

    ReplyDelete
  4. Tambah satu lagi bu ====> Relasi...
    Aseli ini kejadian sama isteri saya... ditawari beasiswa S2 gara2 dosen di Universitas tersebut kenal sama isteri saya :) Hehehe....

    BTW, selamat yuah.... dan sukses selalu :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tetap masuk dibagian 'cari informasi' itu mah.. Prosesnya tetap diseleksi kan?

      Delete
  5. Tipsnya boleh juga. Pas bangad momentnya, aku sendiri lagi memimpikan untuk melanjutkan pendidikan ke S2 kalau udah selesai tahun ini.

    ReplyDelete
  6. Wahaa tips-nya "leh ugaa" banget nih mbak :D Bisa disalurin ke temen2 yang udah lulus S1

    ReplyDelete
  7. Berguna skali tulisannya mba,, mulai semangat untuk mencoba. Makasih yahh

    ReplyDelete
  8. Manteb tipsnya,kebetulan lagi usaha nih mau nyari Be-es S2 Kalo bisa sekalian S3, wkwkwkk.. Maruk

    ReplyDelete

Silahkan share postingan ini jika suka, tapi.. jangan dicopas ya. Boleh banget titip komen tapi gak perlu mencantumkan url blog kamu di badan komen. Cukup isi nama dan url blog kamu di bagian name and url. Otomatis keliatan dan akan saya BW kembali. Sering-sering mampir, ya! A happy reader is one of my excitement of being blogger. Terima kasih sudah berkunjung.

Powered by Blogger.