60 Tahun Universitas Hasanuddin dan Ikatan Alumni : Sinergi Dua Peran di Zaman yang Terus Berubah

Beberapa belas tahun yang lalu saya adalah salah satu dari dua ratusan mahasiswa baru yang diterima di jurusan Elektro Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin. Senangnya bukan kepalang. Universitas Hasanuddin atau kerap disingkat Unhas adalah perguruan tinggi negeri terbaik di kawasan Indonesia Timur.  

Lulus di salah satu fakultas dan jurusan favorit adalah kebanggaan tersendiri. Orang tua saya bersyukur anak bungsunya tidak perlu jauh-jauh bersekolah di kota lain. Tak perlu uang kos, ke kampus pun hanya sekali naik pete-pete kampus dan yang paling penting SPPnya terjangkau. Paket lengkap. Saya senang, orangtua bahagia. Kurang apa lagi coba?



Begitu lulus dan berhasil menyandang gelar Sarjana Teknik, bahagianya gak ketulungan. Rasanya sudah seperti Jack Dawson di film Titanic,"I'm the king of the world...!" Lalu setelah euphoria kelulusan itu lalu muncul pertanyaan : kerja di mana?

Ini adalah masalah klasik yang kerap menghantui para lulusan yang baru wisuda. Selamat tinggal masa-masa menyenangkan menjadi mahasiswa, selamat datang di dunia nyata. Mencari pekerjaan tidak semudah yang diduga. Seringnya malah banyak yang masih bingung apa yang harus dilakukan. Jadi begitu ada lowongan pekerjaan, apapun yang mensyaratkan pendidikan S1 langsung disikat. Tidak peduli apa sesuai dengan background pendidikan atau tidak. 
   
"Lapangan kerja di Indonesia itu terbatas jadi terpaksa belok haluan cari bidang kerja lain,"kata salah seorang alumnus yang kini bekerja di perusahaan listrik negara. 

Setelah lulus dia tidak semerta-merta langsung bekerja di perusahaan yang menyerap banyak mahasiswa Teknik Elektro itu. Dia sempat bekerja sebagai pengajar di salah satu bimbingan belajar di Makassar. Meski sebenarnya di kampus dia mengambil jurusan telekomunikasi takdir membawanya bergabung dengan perusahaan listrik BUMN tersebut dan kini berada di jajaran managerial di Jakarta.

Lain lagi cerita salah satu alumni Teknik Elektro Unhas dengan IPK 3,0 ke atas. Setelah lulus, dia sempat menganggur beberapa lama. Ketika pada akhirnya mendapat pekerjaan, dia malah bekerja di sebuah perusahaan pembiayaan. Tak ada hubungannya memang namun tetap dijalaninya sambil bertahan hidup menunggu kesempatan berikutnya.

Ilmu jaringan telekomunikasi yang pernah dipelajari di bangku kuliah akhirnya sejalan dengan pekerjaannya ketika berhasil lulus menjadi pegawai negeri di Kementerian Komunikasi dan Informatika. Meski begitu dia yang kini memegang jabatan yang cukup penting di direktorat Telekomunikasi berpikir,"Semua yang kita pelajari di kampus itu hanya sekedar tau tapi cuma kulitnya saja. Kalo orang luar kan, satu ji na tau. Tapi mereka benar-benar expert di bidang itu."

Itu hanya dua contoh dari sekian banyak alumni Unhas yang berhasil di bidang yang sesuai dengan apa yang mereka pelajari dulu di kampus. Ada lebih banyak lagi alumni yang berada di top level management di berbagai perusahaan. Senang ya, bisa bekerja di perusahaan atau kantor pemerintahan  yang sejalan dengan pendidikan yang kita dapatkan. Tapi ternyata banyak juga loh alumni Unhas yang berprofesi di bidang yang sama sekali 'Tidak Elektro Banget!'

Saya mengenal beberapa alumni Teknik Elektro Unhas yang kini menjadi politikus, pemimpin media, sekretaris, bankir, pengusaha, pengajar atau pengusaha. Jangan jauh-jauh deh, saya aja dulunya bekerja di perusahan telekomunikasi pun tidak ditempatkan di bagian teknik malah di bagian pelayanan dan marketing. Begitu jadi PNS saya malah ditempatkan di bagian graphis sampai administrasi sambil tetap nyambi jadi penyiar radio (dan blogger. Uhuk!).  Kakak saya lulusan Arsitektur kini menjadi manager di perusahaan food & bevarage perusahaan multinasional dan masih banyak contoh yang lain. Teman saya dulu anak Kehutanan jadi karyawan BPJS, pengusaha shopping online malah jadi manager radio ternama. Gak rindu hutan? Enggaaaaakkk!!!

Pada awalnya bisa jadi karena lapangan kerja yang terbatas akhirnya untuk bisa diserap dunia kerja para lulusan mencoba untuk bertahan di dunia nyata yang kejam ini. Eh gak taunya keterusan. Tapi apakah ini salah? Salah gue? Salah teman-teman gue?

*Maaf masih terbawa dengan Ada Apa dengan Cinta?*

Dunia Kampus dan Dunia Kerja adalah Dua Hal yang Berbeda


Tidak ada yang salah dengan bekerja di luar bidang ilmu yang kita ambil saat di kampus dulu. Seseorang mungkin menemukan passionnya setelah kuliah atau yang paling biasa disebut orang,"memang sudah takdirnya begitu."Dunia kampus dan dunia kerja adalah dua hal yang berbeda. Bahkan ketika seseorang bekerja sesuai latar belakang pendidikannya, bisa jadi dia merasa ilmu yang didapatkannya pada masa perkuliahan dulu tidak mencukupi.

Salah seorang dosen saya pernah mengatakan, mungkin yang salah adalah kurikulum pendidikan yang digunakan. Kurikulum yang ada jarang diupdate khususnya jurusan-jurusan yang ada hubungannya dengan teknologi seperti Teknik Elektro, misalnya.

Ketika seorang mahasiswa baru memasuki dunia kuliah, kurikulum yang menaunginya adalah yang sesuai dengan jaman itu. Begitu mahasiswa tersebut lulus empat atau lima tahun kemudian, teknologi sudah makin berkembang. Apa yang dipelajari selama empat tahun bisa jadi cenderung basi dan menimbulkan kegamangan tersendiri bagi mahasiswanya. Persis seperti apa yang dirasakan oleh salah seorang alumni yang saya ceritakan sebelumnya.

Selain jarang diupdate, kurikulum pendidikan kita lebih banyak membentuk mahasiswa untuk menjadi pekerja dan bukan pencipta lahan pekerjaan. Jadi ketika pasar kerja membutuhkan pekerja di bidang A, lulusan dengan latar belakang pendidikan bidang ilmu B pun akhirnya menyesuaikan hanya untuk diserap dunia kerja. Sesuai atau tidak dengan passion dan latar belakang pendidikan akhirnya tidak menjadi masalah. Yang penting sudah punya kerja aja.

Pun ketika memasuki dunia kerja, banyak lulusan yang kebingungan menghadapi persaingan di dunia baru ini. Seringkali yang IPKnya bagus pun nasibnya kurang beruntung dibanding lulusan yang IPKnya standar saja. Belum lagi bayangan indah tentang dunia kerja saat menjadi mahasiswa dulu.

Berpakaian bermerk, dandan cantik dan menggunakan gadget mahal. Masuk kantor jam 8, say hi dengan teman sebelah kubikel. Jam makan siang, makan bareng di tempat gaul. Pulang nunggu macet berakhir ngopi-ngopi dulu di coffee shop yang harga kopinya selangit. Tugas ke berbagai kota dalam dan luar negeri. Cuti liburan ke Maldives. Kelihatannya keren banget ya?

Iyah. But we never really know dunia kerja itu seperti apa until you get in to it. Bahwa ternyata karir seseorang gak semena-mena cemerlang hanya karena dia pintar dan tahu segala yang ada. Bahwa orang-orang yang bekerja dengan kamu tidak selamanya baik dan menyenangkan. Bahwa persaingan antar rekan kerja itu lebih kejam daripada persaingan kamu dulu rebutan tempat duduk strategis waktu ujian final di kampus.

Untuk beberapa orang. Dunia kerja tidak sesederhana seperti waktu gagal test pra praktikum sewaktu kita kuliah dulu. Sakitnya tuh bukan hanya di sini, tapi juga di situ dan di sana.  Saingan kita gak cuma dari sesama alumni tapi dari juga kampus lain,loh. Malah mulai tahun ini persaingannya lebih ketat lagi karena saingan kita adalah lulusan universitas dari negara-negara ASEAN. Sudah siapkah Unhas, mahasiswa dan para alumninya?

Siap atau tidak, Masyarakat Ekonomi ASEAN sudah di depan mata. Universitas memang menyediakan dasar keilmuan tapi tentu saja mahasiswa dan alumni pun harus punya inisiatif agar tidak tertinggal dengan negara lain. Apa saja yang bisa dilakukan? Silahkan simak video berikut ini :

Universitas Hasanuddin dan Ikatan Alumni : Sinergi Dua Peran di Zaman yang Terus Berubah 

Saya masih ingat saat pertama kali memasuki dunia yang kerja yang sesungguhnya (dalam arti sebagai karyawan full time) di Makassar, kebetulan big boss provider telekomunikasi tersebut adalah lulusan Universitas Hasanuddin dari fakultas dan jurusan yang sama dengan saya. Jadi tidak ada kejutan yang berarti dalam wawancara kerja. 

Namun ketika saya dipindahkan ke Jakarta, saya bertemu dengan atasan-atasan yang mengernyitkan dahi ketika mendengar jawaban saya,"Saya lulusan Universitas Hasanuddin." Reaksinya hanya ada dua. Pertama bertanya,"Di mana itu? atau yang kedua,"Oooh yang suka tawuran, demo dan bakar ban di jalan itu ya?" 

Di saat seperti itu terkadang saya merasa sedih. 

Pun ketika saya kembali lagi ke Makassar dan bekerja sebagai PNS di sebuah satuan kerja. Saya lagi-lagi mendapat 'kejutan' menarik. Beberapa tahun sebelumnya reaksi orang ketika mengetahui orang lain adalah alumni Unhas sangat 'wow'. Lulusan Unhas sudah menjadi jaminan mutu dibanding lulusan kampus lainnya. Kali ini, di satuan kerja tersebut, saya terkejut bahwa mereka lebih menyukai lulusan institusi pendidikan swasta yang mereka anggap lebih tahu tentang Informatika. 

Tiba-tiba menjadi lulusan teknik elektro Unhas seakan tidak ada harganya di satuan kerja tersebut. Di saat seperti itu saya kembali menjadi sedih. 

Hal serupa meski tak sama saya dapati ketika saya memutuskan kembali melanjutkan kuliah ke jenjang S2 di jurusan Komunikasi Universitas Hasanuddin. Saya kerap mendapat pertanyaan seperti ini : ‘Kenapa di Unhas lagi? Kenapa kamu tidak lanjut kuliah di luar negeri?”

Saya kok jadi bertanya-tanya memangnya ada apa dengan Universitas Hasanuddin ?

Gedung Rektorat Universitas Hasanuddin, Makassar


Faktanya universitas ini berdiri sejak 60 tahun lalu dan merupakan salah satu dari dua perguruan tinggi negeri berakreditasi A di luar pulau Jawa. Situs pemeringkat kampus-kampus terbaik di dunia, 4 International Colleges & Universities, melansir data terbaru tentang 400 kampus terbaik yang ada di Indonesia untuk tahun 2016 dan Universitas Hasanuddin berada di posisi 20.

Fakultas Teknik jurusan Teknik Elektro dimana saya menimba ilmu di jenjang S1 telah terakreditasi A. Begitu pula dengan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik jurusan Komunikasi tempat saya saat ini menjalani perkuliahan di program pascasarjana pun berakreditasi A. Pantas kan menjadi kampus pilihan?

Menurut saya pantas-pantas saja. Toh belakangan ini Universitas Hasanuddin semakin mempermantab diri dengan berubah dari konsep yang sebelumnya Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang bersifat Badan Layanan Umum (BLU) dinaikkan statusnya menjadi Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH).

Dengan perubahan status ini Universitas Hasanuddin memiliki kewenangan mandiri baik akademik maupun non akademik serta memiliki kekayaan tersendiri yang dipisahkan dari kekayaan negara kecuali tanah.

Kewenangan mandiri akademik yang dimaksud kewenangan mengubah kurikulum, membuka dan menutup program studi. Sementara dibidang non akademik, Unhas dapat melalukan tatakelola sendiri baik manajemen, dan mengelola aset-aset yang dimilikinya dan membangun kemitraan dengan dunia usaha dan lembaga-lembaga lainnya.

Secara ide dan tujuan, perubahan status ini jelas menguntungkan. Universitas Hasanuddin dapat berevolusi, memperbaiki diri, mengolah dan meramu 'jurus-jurus' pendidikan agar keluarannya bisa bersaing secara akademik dan skill di pasar kerja global. Namun beberapa pihak khususnya sekelompok mahasiswa menganggap perubahan status ini hanya akan membawa Universitas Hasanuddin kehilangan ruhnya sebagai  perguruan tinggi  untuk mencerdaskan bangsa.

Pengelolaan keuangan secara mandiri akan memaksa universitas untuk mencari pendanaan yang cukup untuk keberlangsungan dan pengembangan kampus, sehingga universitas lambat laun akan memiliki mentalitas menuju arah pendanaan. Uang SPP akan semakin mahal dan beragam tergantung dari mana jalur masuknya. Betulkah seperti itu ?



Jika merujuk pada informasi di atas, harusnya kekhawatiran akan komersialisasi Unhas seperti asumsi sebagian mahasiswa tidak harus ada. Malah, dari diskusi kuliah Kebijakan Publik yang saya ikuti terungkap bahwa SPP yang bervariasi di Unhas saat ini adalah bentuk dari subsidi silang antara yang mampu secara finansial kepada yang kurang mampu namun berprestasi. Kesempatan bagi calon mahasiswa dari Indonesia bagian timur pun dibuka lebih lebar agar pemerataan pendidikan dapat terlaksana.

Lagi-lagi saya teringat jaman saya masih mahasiswa S1. Saat itu tidak ada perbedaan uang SPP antara mahasiswa yang masuk melalui jalur matrikulasi dan mahasiswa dari jalur ujian. Perbedaan SPP hanya ada berdasarkan fakultas eksak dan eksakta dimana fakultas eksak sedikit lebih mahal. Tidak terlalu banyak fasilitas yang kami dapatkan but we survived and we made it through kejamnya persaingan di dunia kerja. Apatah sekarang dengan keleluasaan dan keluwesan dalam penyelenggaraan tata kelola non akademik.

Meski pada kenyataannya seringkali alumni Unhas belum terlalu dianggap dibandingkan universitas ternama lainnya seperti UI, ITB, UGM, Unpad dan lain sebagainya, secara personal alumni Unhas tidak kalah dibandingkan alumni universitas 5 besar itu. Buktinya saya bisa lulus bersaing dengan mereka memperebutkan tempat di provider telekomunikasi yang ngetop itu. Bahkan ketika kemudian saya banting setir menjadi abdi negara, lagi-lagi saya masih bersaing dengan lulusan universitas terbaik di seluruh Indonesia.

Dan karena itu saya bangga menjadi alumni Universitas Hasanuddin. Sama bangganya ketika mengetahui bahwa banyak alumni Unhas berprestasi yang tersebar diberbagai sektor pekerjaan dan wilayah Indonesia. Itu berarti para alumni mampu memberikan manfaat seluas-luasnya bagi diri sendiri, keluarga, almamater, dan bangsa.

Universitas Hasanuddin memiliki banyak potensi yang dapat disinergikan bersama alumninya untuk mewujudkan kiprah Unhas yang lebih baik. Tak hanya Unhas yang harus berbenah, para alumni semestinya dapat memiliki ikatan antar alumni dan merasakan adanya kemanfaatan bergabung dan aktif bersama IKA Unhas.

Banyak Orang-Orang Hebat dari Angkatan Ini
"Ini pe-er banget buat kita,"ujar salah satu teman yang saat ini menjabat sebagai manager PLN area Makassar Utara. "Saya melihat para alumni universitas lain selalu merangkul sesamanya, sementara alumni Unhas terkesan malah kurang saling mendukung dalam karir."

Terdengar sederhana, ya? Bahkan saking sederhananya sering terabaikan. Jika alumni universitas lain bisa saling mendukung, kenapa kita tidak? Mendekatkan yang jauh dan merangkul yang dekat, ini adalah pekerjaan rumah Ikatan Alumni Unhas. Tentu saja ini  agar  ada ikatan dan kemanfaataan sesama alumni baik yang berkarir maupun yang fresh graduate. Suatu hal yang menjadi penting karena dapat menciptakan ruang komunikasi yang membantu mempermudah mereka dalam berkarir dan bersaing di pasar kerja global.

Sementara itu perubahan status dan tujuan mulia sebagai PTNBH agar bisa menghasilkan lulusan yang berkualitas memang masih harus dipantau selama beberapa tahun ke depan. Namun, tak ada salahnya memberi kesempatan untuk Universitas Hasanuddin untuk membuktikan bahwa kampus merah berlogo ayam jantan ini pun bisa.

Semoga!

-----------------------------

Diikutsertakan dalam Lomba Blog 60 Tahun Unhas .


Disclaimer : 

Atas permintaan yang bersangkutan, nama lengkap para narasumber yang diwawancarai untuk tulisan ini tidak disebutkan secara langsung. 

7 comments:

  1. Suka banget ma tulisan ini vit. Aku juga salah satu contoh yg banting setir dari pertanian ke pendidikan.

    ReplyDelete
  2. tulisannya menohok hati..(termasuk yang banting setir kiri kanan kiri lagi dan kanan lagi)

    ReplyDelete

Silahkan share postingan ini jika suka, tapi.. jangan dicopas ya. Boleh banget titip komen tapi gak perlu mencantumkan url blog kamu di badan komen. Cukup isi nama dan url blog kamu di bagian name and url. Otomatis keliatan dan akan saya BW kembali. Sering-sering mampir, ya! A happy reader is one of my excitement of being blogger. Terima kasih sudah berkunjung.

Powered by Blogger.