Reuni, Buat Apa Sih?

  • Friday, October 06, 2017
  • By Vita Masli
  • 5 Comments

Akhirnya setelah sekian lama di gadang-gadang lewat whatsapp grup, melewati berbagai left dan join dari membernya, mute conversation saking ramenya percapakapan, pindah pindah calon venue dan endebre endebre, akhirnya hari itu datang juga. Reuni 20 tahun Fakultas Teknik Elektro Universitas Hasanuddin angkatan 1997 (iyaaahh.. saya sudah tua!) jadi juga digelar di tanggal 23 September 2017 lalu.

I came to the venue not expect anything. Gak berharap bertemu siapa (aahh untungnya gak pernah pacaran sama teman seangkatan) atau gak kepikiran mau menghindari siapa (ya kali ada yang punya 'urusan lama belum kelar' kan ye...). Tidak berharap apapun bukankah akan lebih menyenangkan karena tidak akan ada rasa kecewa, yes? (#teamBaper yeeesssss!!!).

Reuni, Buat Apa Sih? 


Hujan deras menyambut ketika akhirnya saya tiba di aula Gedung Pertemuan Ilmiah Universitas Hasanuddin. Teman-teman sudah duduk membentuk lingkaran, bapak ibu dosen senior sudah memberi sepatah dua patah kata. Saya pun segera bergabung sembari menebar senyuman to the familiar faces dan dadah-dadah kepada para hadirin. ((hadirin)).




"Salah satu kebanggaan dosen adalah melihat anak didiknya sukses dan tidak melupakan dosen-dosennya."  ( Ir. Tahir Ali, Dosen Fakultas Teknik Elektro Universitas Hasanuddin) 

Saya pernah baca satu postingan tentang seorang alumni yang berpapasan dengan dosennya . Pengen negur tapi kok malu, ntar gak dikenalin. Gak ditegur kok ya rindu pengen salim. Akhirnya dia hanya melewati dosennya begitu saja tanpa tahu dosennya sebenarnya ingat wajah walaupun gak ingat nama. Maklum, beribu mahasiswa sudah ditemui, gak mungkin juga hapal semua nama kan?

Makanya begitu memasuki sesi foto bersama, gak lupa saya nyamperin dosen pembimbing TA (Tugas Akhir) ku, ibu Ir.Hj.Nien Khamsawarni Nauman,yang diundang khusus di acara reuni ini. Gak berharap beliau ngenalin atau tahu namaku, yang penting salim dulu aja.

"Ibu apa kabar? Sehat, bu?"tanyaku sembari mengulurkan tangan untuk salim.

"Alhamdulillah, ibu sehat,"jawabnya ramah dengan senyum merekah menyambut tangan saya.

"Bu, boleh selfie bareng gak bu?"tanya saya hati-hati.

"Ayo ayo..!"jawab beliau. Teman-teman yang lain jadi ikut merapat dan akhirnya jadi wefie deh. hahaha...




"Mana hasilnya, coba liat. Bagus gak?"tanyanya. Saya memperlihatkan hasil groufie kami. Beliau tampak puas dan topik pembicaraan beralih ke hal lain.

Tak ada pertanyaan kerja di mana, sudah menikah atau belum, punya anak berapa atau pertanyaan-pertanyaan standar reuni gak penting yang terkadang bikin yang ditanya gak enak hati. Pengajar yang bijak tidak mengukur kesuksesan anak didiknya dari hal-hal seperti itu, bukan?



Walking The Memory Lane


Acara reuni 20 tahun angkatan 97 Teknik Elektro Universitas Hasanuddin di siang itu selesai setelah makan siang bersama dengan para dosen. Kami pun bergerak menuju pelataran Universitas Hasanuddin di mana beberapa tahun lalu menjadi lokasi foto angkatan. Mengulang yang sudah-sudah. Mengabadikan kembali yang pernah ada.

Seharusnya setelah itu kami bubar sejenak memberi kesempatan teman-teman dari luar kota untuk beristirahat sebelum menghadiri rangkaian acara berikutnya di malam hari. Tapi saya gak peduli. Kugandeng tangan Lenny, one of my partner in crime yang menjerumuskan saya ke lembah penyiaran radio ke arah studio EBS FM.

Radio EBS  adalah  radio kampus yang awalnya didirikan oleh kakak-kakak senior di jurusan Elektro jadi gak salah namanya EBS, singkatan dari Electro Broadcasting System. Pemancar sampai mixer dirakit sendiri oleh mereka sekalian mempraktekkan yang sudah dipelajari dari mata kuliah dan praktikum di lab. Gimana gak keren, coba? Dulu yang siaran hanya bisa dari mahasiswa Elektro saja. Saya dan Lenny termasuk salah satunya. Jadi gak ada salahnya nostalgia dulu kali yaaa....



Saat ini radio EBS gak lagi dimiliki sepenuhnya oleh jurusan teknik Elektro. Entah sejak tahun berapa radio EBS diakuisis pihak kampus dan berubah menjadi Education Broadcasting System. Penyiarnya tidak hanya dari Elektro atau anak Teknik saja namun juga terbuka untuk seluruh mahasiswa Universitas Hasanuddin. Gak apa-apalah, yang penting sejarahnya gak dilupakan oleh kru penerusnya.

Hari beranjak sore, saya pun segera melipir. Reuni menjadi semacam pintu terbuka melalui lorong masa lalu dengan rasa masa kini. Time change, memories still remain. Tinggal pintar-pintarnya kita aja menelusuri lorong waktu itu. Terkenang boleh, tersesat di dalamnya jangan sampai. Pun, tidak untuk membandingkan yang dulu dan yang baru. Datanglah kemudian bertemu dan membuat memori baru. Reuni buat saya, yah  seperti itu. Kalau kamu? 

You Might Also Like

5 comments

  1. Satenya gak dibahas yah? Hahahah... keren kk vitaaaa. Ditunggu postingan berikutnya

    ReplyDelete
  2. Manis Dan renyah bacanya, sperti orang yg menulisnya...
    See you on next reunion... 😘😘
    "Diana"

    ReplyDelete
  3. Setuju tentang boleh terkenang tapi jangan tersesat. Kalau saya sih suka aja reuni. Pertanyaan tentang sekarang di mana atau ngapain, gak saya jadikan beban. Pokoknya bersenang-senang aja selama reuni :)

    ReplyDelete
  4. reuni sih buat kangen2an dan cerita tentang masa dulu yang lagi bandel2nya

    ReplyDelete
  5. Reuni makes remembering about time, makes silaturahim and happy!

    ReplyDelete

Silahkan share postingan ini jika suka, tapi.. jangan dicopas ya. Semua komentar dimoderisasi terlebih dahulu. A happy reader is one of my excitement of being blogger. Terima kasih sudah berkunjung.