Staycation di Whiz Prime Hotel Sudirman Makassar

Pekan lalu aku dan bapak sepakat runaway dulu dari rumah kami yang berantakan pasca banjir bulan lalu yang sampai saat itu belum selesai juga diberesin. Iya nih, akhir Desember tahun lalu gak disangka gak diduga, kawasan rumah aku yang adem ayem bebas banjir itu tiba-tiba aja tergenang hampir selutut orang dewasa.

Hujan yang deras siang malam tercurah dan sukses membuat rumah pun kemasukan air yang cukup tinggi. Karpet-karpet harus digulung dan diangkat ke tempat yang lebih tinggi, kulkas dan mesin cuci harus dinaikin ke atas meja dan masih banyak perintilan lainnya. Ketika banjir surut, ngepel, menjemur segala barang dan dokumen yang basah  dan beberes isi rumah itu loh yang ternyata gak beres-beres sampai seminggu. Akhirnya karena lelah dan sumpek, aku atas saran bapak, memilih untuk staycation di hotel aja. 2D1N itu cukup lumayan kan, daripada lu manyun.

Staycation di Whiz Prime Hotel Sudirman Makassar

Pilih punya pilih, aku memutuskan untuk menginap di Whiz Prime Hotel yang menurut aplikasi pemesan hotel adalah hotel bintang tiga. Di Makassar, Whiz Prime Hotel ada dua. Whiz Prime yang pertama terletak di jalan Sultan Hasanuddin dan yang baru aja opening di bulan July 2017 lalu adalah Whiz Prime Hotel Sudirman. Tertarik dengan lokasinya yang terletak di jalan protokol dan menjadi salah satu lokasi car free day di Makassar, aku pun akhirnya ngebooking kamar lewat salah satu aplikasi pemesanan hotel. Lumayan dapat diskon pula.



Pada Sabtu siang sekitar pukul setengah satu siang, aku dan bapak sudah sampai di Whiz Prime Hotel. Berhubung waktu check-in itu sebenarnya pukul dua siang, aku agak ragu juga, bisa gak ya early check in. Waktu booking kamar via aplikasi aku sempat ngasih note minta early check in sih, tapi kan belum tentu dipenuhi juga. Pun aku sudah telpon sebelumnya dan petugas yang saat itu menerima telpon aku bilang jika ada kamar yang sudah ready, bisa aja early check-in. Masalahnya aku dan bapak sudah kadung keluar rumah dan makan siang di luar, jadi sekalian aja daripada muter-muter lagi. Hayati lelah.. pengen leyeh-leyeh segera. Maklum, aku anaknya lemah pada kasur saat weekend. Maunya tiduuurrrr mulu. Hahahhaa..

Sebelum masuk ke lobby tentunya aku cari tempat parkir dulu buat si Merah. Dari luar tampaknya parkiran di  Whiz Prime Hotel ini sangat terbatas. Jadi jelas saja aku Alhamdulillah banget dapat space parkiran yang nyaman buat si Merah. Setelah masalah parkiran aman, baru deh aku masuk ke lobby buat check in.

Petugas resepsionis yang bertugas siang itu menjelaskan bahwa aturan yang berlaku di Whiz Prime Hotel untuk check in yah sama aja dengan hotel-hotel yang lain. Pukul dua siang. Tapi namanya juga rejeki blogger bermodal senyum dan banyak doa, ada kamar yang sudah ready dan akhirnya aku bisa check in saat itu juga. Yippie!!! Let's start the staycation!

Baca juga: Staycation di Zenrooms Bawakaraeng Makassar

Kamar yang aku tempati adalah kamar 501 yang terletak di lantai non-smoking. Kesan pertama yang aku dapatkan begitu aku membuka pintu adalah...  Pintunya keras juga ya dibukanya. Hahaha.. Selebihnya, keadaan kamar sama persis dengan foto yang ada di website. Putih minimalis dengan aksen hijau warna Whiz Prime Hotel. Dua jendela besar cukup memberi akses sinar matahari masuk. Bagus banget buat pencahayaan untuk foto atau rekam vlog. #eh



Ada meja tulis juga di sudut dekat jendela, bisa buat menempatkan laptop sambil berharap ada ide yang bisa ditulis buat ngeblog. Meja ini sekaligus buat naruh coffee maker sih, kali aja mau ngeteh atau ngopi sambil melihat pemandangan atap-atap rumah orang, kantor Pelni atau mobil yang lalu lalang di jalan Jenderal Sudirman seberang sana.  

Sampai detik itu saya cukup puas sampai saya menemukan bahwa slippernya cuma satu dan wastafel di kamar mandi yang mungil itu penutup di bagian bawahnya keras banget untuk ditarik. Saya perlu menelpon ke front desk, yes? Apa daya telpon di kamar 501 is out of service. Terpaksa saya ke lantai bawah dong untuk menginformasikannya.

Untungnya gak pake drama. Staff yang bertugas di front desk dengan sigap menginformasikan pada petugas bersangkutan untuk menyelesaikan ketidakberfungsian fasilitas di kamar 501. Wastafel sudah beres, telpon sudah bisa dipakai, slipper sudah lengkap, eh ternyata ada satu lagi yang ganggu. Sarung bantalnya.

Duh, mohon maaf lahir dan batin ya Whiz Prime, harusnya sih sebagai hotel jaringan tentunya Anda punya standarnisasi kerapihan dan kebersihan. Aku baru nyadar pas mau leyeh-leyeh ternyata pada salah satu sarung bantal terdapat tapak sol sepatu. Gak tahu deh, ini noda yang susah dihilangkan atau jangan-jangan gak dicuci apa gimana. Apalagi melihat seprei dan bed covernya tampak lecek kek gak disetrika. Gak mau suudzon, akhirnya aku laporkan ke house keeping. Diganti sih, tapi kan.. mmmh.. pointnya turun lagi.

Jalan Sore di Lapangan Hasanuddin dan


Ya sudahlah ya.. sementara bokap nonton televisi, aku memilih tidur siang aja sebagai anak yang baik dan masih dalam masa pertumbuhan (ke samping). The bed is so so so hard meskipun gak sekeras spring bed hotel di Korea. Alhamdulillah ya ACnya adem dan nyes banget, akhirnya bikin aku pulas sekitar sejam an sebelum akhirnya aku memutuskan untuk jalan cantik di lapangan Hasanuddin yang terletak di seberang Whiz Prime Hotel.

Ini dia salah satu benefit nginap di Whiz Prime, masih bisa olahraga meskipun gak ada ruangan gym apalagi kolam renang. Tinggal nyebrang aja, ada lapangan Hasanuddin dengan track lari, lapangan sepak bola, lapangan volley, lapangan basket yang sementara direnovasi dan lapangan tenis. Lapangan ini sejatinya berada di tanah milik TNI, tapi bisa dipergunakan untuk umum kok! Saya sempat 10 kali putaran jalan kaki loh! Ini prestasi buat saya yang gak kuat lari, hahaha! Jalan cantik is enough for me. Lalu kemudian saya lapar dan memutuskan untuk mampir makan bakso di jajaran penjual bakso yang tekenal dengan nama kawasan bakso Kachak a.k.a Kartika Chandra Kirana. 10 kali putaran lenyap ditelan semangkok bakso mas Boy. Bhay!!

Selain lapangan Hasanuddin, gak jauh dari Whiz Prime Hotel terdapat salah satu icon kota Makassar yaitu Monumen Mandala. Tidak perlu membayar untuk memasuki monument ini. Sayangnya, monument yang berdiri dengan gagah ini tampak tidak terurus. Seharusnya bisa jadi tempat wisata sekaligus pembelajaran sejarah buat anak sekolah dan turis. Apa daya, tampaknya pemerintah kota (atau provinsi?) kurang memberi perhatian yang memadai. Yah... sedih!

Monumen Mandala Makassar


Drama Pindah Kamar


Setelah ngebakso dan aku mulai gerah, balik lah ke aku ke hotel buat mandi. Disinilah drama terjadi, sodara-sodara. Ketika aku mandi di area shower, airnya sih lancar ya, baik itu air panas maupun air dingin. Enaklah mandinya. Sayang, airnya menggenang hingga ke area toilet yang dipisahkan pintu kaca. Menggenangnya gak kira-kira, nutupin jari-jari kaki. Aigooo.. mau gak mau aku nelpon lagi dong ke front office. Mana air yang menggenang itu menyisakan kenangan air yang agak lama surutnya. Bokap aku sudah agak sepuh ya dan beliau pernah kena stroke jadi kakinya gak sekuat yang dulu lagi, Selain lantainya jadi basah dan gak nyaman untuk dipijak, aku gak mau bokap aku tergelincir dan kenapa-napa. Memang hotelnya mau nanggung apa? The best way is, aku minta pindah kamar which is itu dipenuhi oleh pihak managementnya.

Pindahan lah aku ke kamar 524 dengan bantuan staffnya yang ngangkatin barang-barang aku. Kamar 524 ini masih selantai dengan kamar 501, sama-sama di lantai kawasan non-smoking. Bedanya kamar ini ada di ujung yang lain. Namun begitu aku buka pintu kamar, bau asap rokok jelas sekali tercium. Bikin sesak buat aku yang memang sensitive banget dengan debu dan asap rokok. Staff yang ngebantu kita pindahan sudah berusaha untuk menyemprotkan pengharum ruangan, which is itu gak berhasil sama sekali. Aku gak bisa membiarkan diriku batuk-batuk melulu sepanjang malam. Lagian siapa juga sih yang merokok dalam kamar berAC di lantai non-smoking? 

Lagi-lagi aku minta pindah kamar dan menobatkan aku menjadi tamu yang paling banyak komplainnya. Ya abis gimana, dong! Jadilah aku dapat kamar di lantai 3 area non smoking room, kamar 310.  Kamar tampak bersih dan rapih, tidak berbau asap rokok, air tidak mengenang di kamar mandi, it seems perfect.



Abaikan keberantakan baru aja pindahan kamar dan belanja cemilan ini, gaes!

Sampai kemudian aku pengen ngeblog dan meletakkan laptop di meja tulis. Kok ada semut sih? Periksa punya periksa, semut itu berasal dari sisa rebusan Indomie yang tampak sudah mengering di dasar kettle. Oh My God!

Hotel ini kok drama banget sih menurut gue? Untuk ukuran hotel bintang tiga dan masih baru, masa kebersihan peralatan gak diperhatikan sih? Mau gak mau aku angkat telpon lagi dan menghubungi house keeping. Segera diganti sih, tapi kan.. Ya sudahlah ya, sebenarnya masih ada lagi yang pengen aku pertanyakan dari kamar 310 ini yaitu masalah salah satu colokan listrik dekat telpon yang tidak berfungsi. Tapi karena sudah keseringan komplen, aku pasrahin aja lah. Toh di kamar tersedia 6 colokan kok, 1 gak berfungsi aku rasa gak perlu terlalu dipermasalahkan. *Sigh*

Sayang banget sih menurut aku, karena sebenarnya hotel ini masih cukup baru beroperasi. Artinya secara fasilitasnya harusnya hotel ini gak memiliki kekurangan. Kamarnya sih lumayan spacious ya untuk ukuran Superior. Desainnya juga simple, modern minimalis gitu.  Lokasinya juga cukup strategis memudahkan ke mana-mana. Untuk traveling atau business trip ini cukup penting. Mau makan, tempat makan banyak kok di sekitar hotel, mulai dari kelas bakso sampai café juga ada. Sebelah sanaan dikit bisa ngelayap ke mall, mau ke pantai Losari juga gak jauh.

Hotel ini juga memiliki restaurant. Aku gak makan malam di situ sih, cuma sarapan aja. Dari segi menu, sarapannya cukup beragam. Mulai dari makanan berat seperti nasi, sayur, ayam rica-rica, mie goreng, bubur ayam, coto Makassar sampai roti  dan buah. Minumannya cukup bervariasi dari kopi, teh dan jus Jambu serta air putih tentu saja. Rasanya sih biasa aja, gak fantastis sampai terkenang-kenang gitu (ealaaah...).

Sarapan Pilihan Aku


Hal yang membuat aku senang nginap di Whiz Prime Hotel Sudirman adalah karena aku bisa memanfaatkan waktu aku buat jalan sehat, entah di lapangan Hasanuddin atau di car free day sepanjang jalan Jenderal Sudirman. Sesuatu yang seringkali hanya sebatas janjian ama teman di WA dan gak terwujud karena aku sudah males duluan mikirin jarak antara rumah ke Sudirman. Sebenarnya gak lebih dari 7 km sih, tapi aku males aja, hahaha! Jadi dengan nginap di Whiz Prime Hotel Sudirman, ibaratnya aku tinggal keluar hotel aja sudah bisa olahraga. Staycation yang sangat berfaedah, kan?

Selain itu harga kamar superiornya gak mahal-mahal banget sih. Aku dapat harga 294rb untuk kamar superior Queen Bed dengan sarapan untuk dua orang. Lumayan terjangkau kan, ya? Tingkat keamanannya juga cukup baik. Akses lift ke setiap lantai hanya bisa menggunakan kartu kamar, jadi kalau ada tamu harus selalu lewat recepcionist dulu. Staffnya juga ramah dan sigap membantu. Ini adalah salah satu value yang bisa diandalkan dari Whiz Prime Hotel ini.

Sudut Andalan Untuk Ngeblog atau Foto

Meskipun begitu, ketelitian dalam kebersihan dan kerapihannya harus ditingkatkan. Kalau kata bokap aku sih, bisa jadi supervisor atau managernya kurang intens ngecheck cara kerja staff dan kedisplinan housekeeping. I mean, jangan sampai ada kejadian sarung bantal yang kotor, kamar non smoking yang berbau rokok atau kettle yang belum dicuci. Masalah kamar mandi, suara dari luar yang bisa kedengaran dengan jelas,pintu kamar mandi yang harus ditarik dan push sekuat tenaga untuk membukanya,  misalnya, itu mungkin akibat pembangunan hotel ini yang terkesan buru-buru banget. Padahal Whiz Prime Hotel Sudirman ini desainnya keren, seperti jaringan Whiz Prime Hotel pada umumnya . Internetnya aja lumayan lancar meskipun channel televisi terbatas. At least ada tvN dan aku bisa streaming video, aku sudah bahagia kok. Hotelnya juga masih baru ini...
Mudah-mudahan cukup aku aja yah yang mendapatkan 'drama pindah kamar'  kayak gini. Saran aku, kapan-kapan kamu traveling ke Makassar, business trip, lokasi buat ngevlog, pengen cari tempat untuk nulis or just getaway from your daily life for staycation dan kamu  butuh hotel dengan harga terjangkau di lokasi yang strategis, Whiz Prime Hotel Sudirman Makassar ini bisa kamu jadikan opsi. Paling sederhananya, sebaiknya menurut aku mending milih kamar di lantai 2 atau 3 untuk non smoking karena menurut aku pembuangan air di showenya nya lebih lancar. Carilah kamar yang berada di area 01 sampai 10 yang relative lebih gak berisik. Tapi mudah-mudahan dengan serentetan complain, pihak management hotel bisa lebih meningkatkan kualitas fasilitas dan layanan.

Happy staycation ya, gaes!

You Might Also Like

9 comments

  1. Hehe pas yang nemu kekurangannya blogger, ditulis deh..semoga jadi bahan masukan pihak hotel ya mba untuk lebih baik lagi. Semoga rumah ta' aman mi dari banjir aamiin..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya nih. Mikir juga sih, ditulis gak ya? Mudah2an manajemennya menerima masukan dengan pikiran terbuka. Untuk kebaikan mereka juga kan ya..

      Delete
  2. Harganya berapaan mbak per malam?

    Kalo mahal ya berarti gabener tuh manajemennya. Kalo murah ya anggap aja wajar haha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Harganya aku sudah cantumkan di atas kak.

      Delete
  3. Pas-pasnya tong blogger na dapat hahahhaa

    Kadang-kadang toh saya agak gimana gitu kalau kebanyakan komplen tapi ya kalau nda sesuai masa nda dikomplen 😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah itu dia. Saya jg dilemma sbnrnya, posting gak, posting gak? hahahaha

      Delete
  4. Hestek #pertumbuhanKEsamping hahaa

    ReplyDelete
  5. LOL ive got the same experience, but well so far is good tho... the bathroom is ridiculous, it turn into a pool after we used it. Smogaaa budget hotel ini bisa lebih baik, aaamin!

    ReplyDelete
  6. Bisa jadi ulah anak-anak HK yang asal-asalan kerjanya Mba. Hotel model jaringan gini biasanya minim banget staff HK, mereka kerja ditarget tapi minim personil. Jadi kerja asal cepet dan hasil sering kurang maksimal.

    ReplyDelete

Silahkan share postingan ini jika suka, tapi.. jangan dicopas ya. Semua komentar dimoderisasi terlebih dahulu. A happy reader is one of my excitement of being blogger. Terima kasih sudah berkunjung.