Review Kuliner Makassar : Umami Eatery, No MSG Food

Bagaimana rasa makanan tanpa MSG? 

Seringkali kita terpapar informasi di media bahwa penggunaan MSG pada makanan itu bisa membuat makanan lebih gurih dan lebih enak, tapi dapat memberi efek  samping juga pada kesehatan jika terlalu banyak. Mungkin pernah dengar  ada istilah 'Chinese Restaurant Syndrome', sebuah istilah lama yang rame diperbincangkan sejak tahun 1960an.

Awalnya bermula dari sekelompok gejala yang dialami beberapa orang setelah makan makanan dari restoran Cina. Gejala ini sering termasuk sakit kepala, pembilasan kulit, dan berkeringat. Penambah rasa pada makanan yang disebut monosodium glutamat (MSG) sering disalahkan setelah makan makanan China. Maka terciptalah istilah Chinese Restaurant Syndrome itu, meskipun gak cuma masakan China aja sih sebenarnya yang menggunakan MSG saat ini.

Aku salah satu orang yang peka terhadap MSG ini. Makanan yang mengadung banyak MSG bisa bikin kepala aku sakit.  Beberapa saat setelah makan, tertinggal rasa pahit di lidah. Gak enak banget lah , pokoknya. Padahal tanpa MSG pun sebenarnya suatu masakan ada rasanya, kok. Hanya saja kebanyakan orang merasa suatu masakan lebih gurih dan nikmat dengan tambahan MSG tanpa perlu ngulek bumbu apalah-apalah yang cukup merepotkan.

Tapi benerkah MSG itu gak aman? Penelitian yang dilakukan oleh Food and Drug Administration (FDA) di Amerika Serikat menganggap MSG sebagai bahan yang aman. Setelah itu  kebanyakan orang kembali mengonsumsi makanan yang mengandung MSG tanpa mengalami masalah. Memang sih masih ada sebagian kecil orang memiliki reaksi  terhadap MSG, seperti aku misalnya. Karena kontroversi tersebut, banyak restoran sekarang mengiklankan bahwa mereka tidak menambahkan MSG ke makanan mereka. Salah satu tempat makan yang menklaim menu masakan tanpa MSG ada Umami Eatery di kawasan jalan Mesjid Raya, Makassar. Awalnya aku tahu keberadaan tempat ini melalui hastag  di Instagram yang biasanya aku kepoin setiap jam makan siang di kantor. 

Review Kuliner : UMAMI EATERY, NO MSG FOOD


Dari namanya aja UMAMI, mengingatkan saya pada kata dalam bahasa Jepang yang merupakan kata serapan  dari kata “umai” yang artinya lezat dan kata “mi” yang berarti rasa. Jadi, makna kata umami bisa diartikan dengan “rasa yang lezat”. Kata “umami” pertama kali diperkenalkan secara ilmiah oleh seorang profesor Jepang dari Tokyo Imperial University, yaitu Profesor Kikunae Ikeda di tahun 1908 yang menginspirasinya untuk menciptakan suatu zat bernama MSG yang mudah disimpan dan digunakan. Bisa jadi tempat makanan ini mengambil kata UMAMI sebagai pencerminan bahwa masakan dalam menu mereka ini , rasanya lezat sebelum MSG tercipta. Tsaah..



Seperti taglinenya, Umami Eatery menghadirkan menu ala Asia yang terinspirasi oleh masakan Jepang, China dan Indonesia. Ragam masakan yang disediakan di tempat ini mulai dari yang ringan semacam snack dan dessert buat ngemil cantik sampai makanan berat untuk makan siang atau malam. Minumannya juga cukup beragam mulai dari air mineral, teh, juice hingga minuman kekinian semacam Thai Tea atau Ice Coffee yang dikemas dalam botol.

So what did I order?

Berhubung Aku lagi gak pengen makan nasi, aku milih Chick and Chip, which is ternyata there wasn't any chip, melainkan French Fries. Padahal aku mikirnya menu ini adalah potongan ayam yang cukup besar dengan chip kentang ala-ala Chitato gitu. Hehehe..

Chick and Chip - Rp. 30.000,- (sebelum pajak dan service) 


Chick and Chip ini merupakan perpaduan fillet ayam di goreng dengan balut tepung disertai french fries. Rasanya berbeda dengan fillet ayam restaurant fast food kebanyakan, which is actually good. Sayangnya menurut aku teksturnya cukup keras, gak tahu apa terlalu garing atau daging ayamnya yang kurang empuk.

Sementara itu teman makan siangku milih Chicken Kariage yang tampaknya sepintas seperti Nasi Campur Rawon di rumah makan Jawa Timur-an (sorry!). Mungkin karena plattingnya, ada kuahnya juga dan dilengkapi acar. Aku gak sempat nyoba karena lagi gak makan nasi kan yaaa.. Tapi teman aku ngabisin pesanannya, which is aku asumsikan tidak mengecewakan. Meskipun ada kemungkinan porsinya pas, gak kebanyakan, gak sedikit pula.


Chicken Kaariage - Rp. 33.0000, - ( Sebelum Pajak dan Service)  

Selain itu kami juga memesan makanan yang bisa dikategorikan snack yaitu Salted Egg Bao dan Chicken Kariage Bao. Aku tertarik pengen nyobain Bao ini karena beberapa waktu lalu sempat makan dimsum salted egg di salah satu restaurant hotel bintang 4 dan rasanya endezz banget (saking endezznya gak sempat difoto sudah habis duluan, jadi gak bisa direview deh!). Tapi kemudian aku ngerasa gak fair untuk membandingkan Salted Egg Bao di Umami dan Salted Egg Dimsum di restaurant itu karena harganya beda. Hehehe.. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan,lah. 


Salted Egg Bao - Rp. 15.000,- (Sebelum Pajak dan Service) 


Salted Egg Bao buatan Umami ini, baonya empuk dan soft banget. Rasanya yang manis melengkapi rasa asin dari salted eggnya. Begitu juga dengan yang bertopping chicken kariage. Hanya salted eggnya tuh kurang creamy menurut aku. Sementara chicken kariagenya sendiri, lagi-lagi menurut aku agak keras. Tampaknya olahan ayamnya sama dengan yang digunakan pada Chick and Chip. Jadi aku cuma makan bao nya yang super duper empuk itu dan teman aku yang menghabiskan toping chicken kariagenya. 



Minumanya aku milih teh tawar hangat yang penampakannya sekilas aku pikir kopi. Pas aku minum rasanya seperti cingcau. Enak, sih... ! Cuma aku bingung, ini sebenarnya aku pesan apa sih? Hehehe..

Oiya, sebagai bonus karena pembelanjaan kami itu diatas 100 ribu rupiah, kami dapat gratisan cake yang bisa dipilih dari tiga variant yang ada di display cake. Selain itu ada promo diskon 10% untuk pembelian cake apa aja selama bulan February ini. Yah lumayan..  

Cakenya lucu-lucu jadi sempat bingung mau pilih yang mana. Pada akhirnya aku tertarik untuk mencoba cake yang ini. Namanya 'Eve', cake perpaduan antara sticky rice a.k.a ketan hitam di dasar cakenya, trus ditambahin Kelapa dan ditutup dengan vla rasa Mangga dengan base berbahan pie. Rasanya manis, gurih, kecut-kecut segar gitu deh. Ini pas banget dengan teh tawar hangat yang aku pesan.




Aku cukup puas dengan rasa tanpa MSG yang ditawarkan oleh Umami Eatery ini. Ada rasa gurih berbeda yang belum tentu bisa kamu dapatkan pada makanan berMSG. Harganya cukup bersahabat, menu berkisar antara 5000 rupiah hingga 35 ribu rupiah. Total pembelanjaan aku siang itu adalah Rp. 116.655  untuk berdua. 

Tonton juga :  Vlog Review Kuliner Umami Eatery 




Tempatnya menurut aku lumayan, meskipun lumayan jauh dari pusat perkantoran dan  agak susah di temukan. Papan nama nya nempel di tempat semacam bengkel atau show room kendaraan merk China gitu, aku gak ngerti deh. Jadi aku perlu nanya dulu tempatnya. Ternyata ada di sebelahnya dong bo' dan agak masuk ke dalam. Tapi begitu masuk baru berasa, ohh ini tempat nongkrong.. karena didesain seinstagramble mungkin agar bisa dipergunakan untuk foto-foto.  Musiknya juga cukup mendukung, meskipun agak surprised juga karena playlistnya so random, dari Megan Traitor to My Chemical Romance. Jarang-jarang aku dapat tempat yang ngeplay Welcome to Black Parade hari gini. Hahaha.. 

So, if you're looking for something to eat without MSG, tasteful with reasonable price, you can try this one out!

Happy eating and stay healthy!  


Comments

  1. Samma.. dirumahku juga Vit sdh tdk pake MSG tp rasa masakannya tetap enak.

    ReplyDelete
  2. Looks yummy ya mbak...waktu mudik kemaren aku juga mampir ke resto jepang...makan aneka makanannya termasuk udon....muantaaap...

    ReplyDelete
  3. enak-enak banget menunya, jadi pengen coba

    ReplyDelete
  4. Makanan enak nggak enak kalau plating keren jadi terkesan menarik ya Mba. hehehe..

    ReplyDelete

Post a Comment

Silahkan share postingan ini jika suka, tapi.. jangan dicopas ya. Semua komentar dimoderisasi terlebih dahulu. A happy reader is one of my excitement of being blogger. Terima kasih sudah berkunjung.