Semarang (Akhirnya) Aku Datang

Sepucuk surat undangan tiba di mejaku siang itu di awal Januari tahun 2020 ini. Bukan, ini bukan surat undangan pernikahan dari mantan. Ini adalah surat undangan rapat kerja dari kantor pusat. Tidak seperti biasa, kali itu rapat kerja diadakan di Semarang. Yes, Semarang!! 



Jelas saja aku excited. Sekian lama aku traveling dan business trip seputar pulau Jawa, belum pernah sekalipun aku menginjakkan kaki ke Semarang. Pernah diniatkan untuk liburan sekalian ke Karimun Jawa, malah batal. Sekalinya dipasrahkan, tiba-tiba ada undangan rapat. Alhamdulillah yah. Artinya meski dalam rangka kerja, setidaknya ada sedikit kemungkinan untuk mengeksplor kota Semarang di sela waktu tersisa. 

Semarang, ibukota provinsi Jawa Tengah ini, sudah sejak lama mengusik keinginan tahuku. Berawal dari sejak SMP membaca buku karya NH.Dini seperti Sebuah Lorong di Kotaku, Padang Ilalang di Belakang Rumah, Langit dan Bumi Sahabat Kami dan Sekayu untuk tugas pelajaran Bahasa Indonesia. Tulisannya walaupun menggambarkan kota Semarang di jaman penjajahan Belanda dan Jepang, dalam pikiranku aku membayangkan seperti apa kota Semarang di jaman modern. Hawanya mungkin tidak seadem Sukabumi, bisa jadi selembab Makassar, tetap saja aku penasaran. Terlebih, aku tertarik mengetahui kota yang menjadi tempat kelahiran seseorang yang sempat singgah di hati. Iyah, sesederhana itu.  Sebuah kenangan akhirnya menggugah keingintahuanku hingga bertahun kemudian. 

Semarang (Akhirnya) Aku Datang !


Perjalan kutempuh dengan pesawat Wings Air dari bandara Tampa Padang Mamuju, transit ganti penerbangan di bandara Sultan Hasanuddin Makassar dan akhirnya tiba di bandara Ahmad Yani, Semarang. Tidak ada penerbangan langsung dari Mamuju, selain karena airlinesnya terbatas hanya ada Wings dan Garuda Indonesia, ukuran pesawatnya juga kecil. Sementara penerbangan dari Makassar ke Semarang pun kebanyakan tidak ada penerbangan langsung. Rata-rata harus transit di Surabaya atau Jakarta. Satu-satunya penerbangan direct dari Makassar ke Semarang menggunakan Sriwijaya Air adanya di hari Minggu. Maka berangkatlah aku di hari Minggu meskipun rapat kerjanya hari Rabu. Terpaksa ambil cuti demi traveling yang ditandem dengan perjalanan dinas. 




Cuaca cerah ketika aku tiba di bandara Ahmad Yani setelah lebih kurang 2 jam perjalanan dari Makassar. Perasaan bersemangat sekaligus penasaran dengan bandara Ahmad Yani. Katanya bandara ini adalah bandara pertama di Indonesia dengan konsep floating airport dan Terminalnya pun dibangun dengan konsep eco airport dan go green. Tampaknya memang seperti itu karena aku melihat lebih banyak dinding kaca untuk penghematan listrik dan ruang terbuka hijau. Terminal kedatangannya juga tergolong luas dan bersih. Tempat pengambilan bagasi pun lebih lapang dengan display yang informatif sehingga penumpang pun bisa lebih nyaman menunggu bagasinya. Sungguh berbeda dengan bandara Sultan Hasanuddin yang meskipun katanya bandara internasional tapi kondisinya tidak menampakkan ke internasionalannya. 

Naik BRT Trans Semarang dari Bandara Ahmad Yani 


Anyway, mumpung masih sore dan bawaan aku hanya 1 koper kabin dan ransel laptop, aku memutuskan untuk mencoba BRT bandara menuju pusat kota. Moda transportasi seperti taksi bandara atau ojek online sebenarnya ada. Berhubung aku selalu penasaran dengan moda transportasi publik di setiap kota yang aku kunjungi, maka kuputuskan untuk naik BRT aja. Lokasi halte BRT terletak tak jauh dari pintu keluar kedatangan. Hanya menyebrang dan jalan sekitar dua menit maka tibalah aku di halte BRT. 




Jadwal antar satu bus dengan bus lain berkisar 30 menit. Maka beruntunglah aku karena aku tiba di saat sekitar sepuluh menit sebelum bus tiba. Sebelumnya aku membeli tiket di loket sambil memastikan halte tempat aku turun. Hotel tempat rapat kerja yaitu PO Hotel terletak di jalan Pemuda. Letaknya tidak begitu jauh dari Halte Pemuda Balaikota. Pun hanya tinggal menyebrang jalan ke Joglosemar travel shuttle bus jika hendak ke Jogja. Lebih asiknya lagi, aku hanya perlu membayar Rp.3500 alias tiga ribu lima ratus rupiah menuju pusat kota Semarang. Dibandingkan naik Taksi Bandara atau Taksi Ojol dengan tarif puluhan ribu tentu BRT lebih murah, yes? 

Moda transportasi ini tidak aku sarankan untuk kamu yang datang dengan grup apalagi jika teman-teman kamu bukan tipe traveler penikmat transportasi publik. Meski BRTnya cukup nyaman dan penumpangnya cukup tertib, kamu harus berganti bus di halte transit untuk pindah koridor. Menurutku itu sudah biasa dan sebenarnya tidak terlalu masalah. Toh gak perlu bayar lagi, cuma sekali itu aja bayarnya. Pembayaran bisa dilakukan tunai maupun non tunai dengan e-money. Mudah, tidak merepotkan. 

Semarang, Pelan Pelan Saja 

Dari balik jendela bus BRT yang membawaku ke halte Pemuda di sebelah Balai Kota Semarang, kuperhatikan jalan dan segala perilaku penggunanya yang bisa kutangkap dengan mata. Aku mengharapkan kemacetan atau kesemrawutan layaknya kota besar dan ibukota provinsi. Tampaknya estimasiku tidak terpenuhi dengan lancarnya trafik sore itu. Penumpang BRT silih berganti naik dan turun di setiap pemberhentian. Tak sedikitpun kulihat mereka berdesakan. Mungkin mereka lebih baik menunggu bus berikutnya ketimbang harus berhimpitan di dalam. Tak ada keterburuan dalam gerakan. Begitu juga kendaraan yang lalu lalang. 

Hari berikutnya ketika aku hendak ke Kampung Pelangi, sempat aku mengobrol dengan supir mobil ojol yang mengantarkanku. Apakah di Semarang ada kemacetan, penjabretan atau pencurian kendaraan bermotor. Si mas menjawab santai,"Seperti kebanyakan kota besar ya pasti adalah mba. Tapi macetnya itu tidak separah Jakarta. Paling di pintu tol atau ada demo, banjir. Kawasan Simpang Lima ini ya paling gitu-gitu aja mba. Ramai lancar." 

Aku perhatikan juga cara mengemudi orang-orang di Semarang itu gak kesusu meski tidak bisa dibilang santai juga. Jarang ada yang mengklakson atau menyalip ugal-ugalan. Jadi aku juga sungkan minta supirnya nyetir agak cepat. Ya sudah, nikmatin aja lah. Namanya juga di tempat orang lain, ikuti aja kebiasaan setempat. 

Semarang Itu Manis, Seperti Kamu Kulinernya 

Mengunjugi satu tempat tidak akan afdol jika tidak mencicipi masakan khasnya. Terus terang aku hanya tahu kuliner khas Semarang itu hanya Lumpia. Jadi berburulah aku Lumpia yang katanya ngehits di kota ini. Sebenarnya Lumpia pun ada di Makassar, mungkin karena asal Lumpia itu hasil asimilasi Indonesia dan China yang dibawa oleh pedagang-pedagang di jaman lampau. Bedanya Lumpia di Semarang dimakan bersama acar timun, daun bawang dan cabe rawit. Isian Lumpia nya juga sedikit berbeda. Jika diminta memilih, mungkin karena sudah terbiasa, aku lebih memilih Lumpia Makassar saja. 


Selain Lumpia, jajanan khas Semarang adalah Wingko Babat. Nah kalau ini, aku suka. Gurih kelapa, ketan dan manisnya gula ditambah dengan perasa lain seperti durian, cokelat dan keju. Cocok banget sebagai teman minum kopi. Sayang masa berlaku Wingko Babat hanya 3 sampai 4 hari. Gak bisa nyetok banyak-banyak. 

Makanan berat lainnya yang menarik rasa dan teringat sampai sekarang adalah Garang Asem. Aku gak tahu apa ini masakan khas Semarang atau Jawa Tengah secara umum. Bagi aku yang suka masakan asem asem gurih dan pedes, Garang Asem ini cocok sekali. Apa mungkin karena aku mencobanya tepat sedang lapar laparnya? Saking laparnya, difoto pun tak sempat? 

Tampaknya tidak, karena terkadang saat lapar banget pun jika ada makanan yang tidak sesuai selera bisa jadi akan kita makan juga tapi tidak akan terkenang. Garang Asem ini berbeda. Terkadang pengen banget makan masakan ini, sayang di Mamuju gak ada yang jualan. 

Sebenarnya ada beberapa makanan lain yang sudah kucoba dan menjadi khas Semarang. Beberapa terasa sangat manis buatku hingga tidak kumasukkan dalam daftar favorit. Sekedar sudah pernah mencoba rasa yang pernah ada  khas setempat. Paling tidak aku jadi tahu kenapa orang Semarang manis-manis, seperti kamu eh seperti rasa masakannya. 

Semarang, Kutinggalkan Secuil Hatiku Untuk Kembali 


Beruntunglah sebelum pandemi Covid 19 aku masih berkesempatan mengunjungi Semarang meski hanya untuk beberapa hari saja. Belum banyak tempat yang kukunjungi, belum banyak makanan yang kucicipi dan belum  banyak waktu yang bisa kuhabiskan dengan orang-orang di sana. Setidaknya aku sudah sempat menjejakkan kaki ke Semarang dan melengkapi cerita perjalananku ke ibu kota seluruh provinsi di pulau Jawa. 



Semoga setelah pandemi berakhir, ada kesempatan lagi untuk kembali. Mengulik kota ini lebih banyak, menikmati panas mataharinya yang garang namun tak terik, kerlap kerlip lampu di Simpang Lima dan keramahan  serta kelembutan khas Jawa Tengah. Kutinggalkan secuil hatiku, agar mudah aku untuk menemukan jalan kembali ke hatimu  tempat itu. Semarang, sampai bertemu lagi ya! 

Post a Comment

2 Comments

  1. Ceritamu manis seperti rasa kuliner khas semarang yang emang berasa lebih manis jika dibandingkan dengan kuliner kota jawa tengah lainnya. Sudah ke kampung pelangi ya, mungkin jika ada kesempatan lagi ke semarang kamu juga bisa mampir mengunjungi kabupaten semarangnya, di kabupatennya kamu akan menemukan banyak wisata yang indah dan sejuk-sejuk. Tapi untuk kota semarang, datanglah saat minggu pagi. Sekalian CFD an dan kamu akan menemukan asyiknya Semarang hihi

    ReplyDelete
  2. Wah BRT? baru tahu saya,
    dan saya pun belum pernah ke semarang. Coba nanti ah...

    ReplyDelete

Silahkan share postingan ini jika suka, tapi.. jangan dicopas ya. Semua komentar dimoderisasi terlebih dahulu. Komen dengan link hidup, mohon maaf tidak saya approve. A happy reader is one of my excitement of being blogger. Terima kasih sudah berkunjung.