Kampung Pelangi, Melihat Warna Warni Semarang dari Ketinggian

Semarang masih menyisakan petang ketika akhirnya aku keluar dari hotel tempat menginap. Tujuan pertama adalah Kampung Pelangi. Tempat ini adalah salah satu spot pariwisata kekinian Semarang yang cukup viral. Letaknya di Jl. DR. Sutomo No.89, Randusari, Kec. Semarang Sel Kota Semarang. Di depannya berjejer penjual bunga segar dan hias untuk papan ucapan maupun buket. Terlihat asri dengan wangi bunga sayup sayup sampai tercium walaupun terkadang bergantian dengan bau dari kanal yang menyeruak. Padahal kanalnya sudah lumayan bersih,loh! 

Eniwei... Kampung Pelangi ini sedikit banyak mengingatkanku pada Ihwa Mural Village di Seoul, Korea Selatan. Selain karena lokasinya adalah perumahan penduduk yang dindingnya dihias lukisan mural nan artistik, konturnya pun nanjak abis. Harus kuat naik tangga. Untungnya tangga-tangga di Kampung Pelangi tidak sebanyak dan sejahannam tanjakan di Ihwa Mural Village, tapi lumayan lah buat olahraga sore. Siapin betis dan paha yang kuat aja ya, kak! Oiya, jangan lupa napas yang panjang.  




Awalnya Kampung Pelangi ini adalah perkampungan kumuh. Pemerintah Kota Semarang akhirnya menata perkampungan ini  agar terlihat menarik dan bersih. Menurut penduduk yang sempat aku temui, masing-masing rumah mendapat bantuan dari pemerintah setempat untuk membeli cat sedangkan untuk pengerjaan  mural dilakukan mandiri. Warnanya terserah, motif muralnya pun tergantung selera yang punya rumah. Pokoknya kelihatan menarik dan enak dipandang mata. 

Memang ada beberapa spot dimana pengerjaan muralnya dilombakan, ada pula dikerjakan khusus oleh anak muda kreatif yang bukan penduduk Kampung Pelangi. Apapun perkampungan ini pun bagai disulap menjadi tempat yang berseni dan jauh dari kesan kumuh. Mungkin karena diperlombakan dan mendapar bantuan dana, penduduk setempat pun makin semangat menghias rumah dan pekarangannya. Selain mural, hiasan-hiasan seperti lampion, payung-payung kertas mempercantik bagian atas jalan. Buat kamu yang suka foto-foto atau pengoleksi konten, Kampung Pelangi cocok banget jadi lokasi foto-foto instagram. Bahkan beberapa penduduk mengkhususkan halaman rumahnya menjadi spot foto yang instagramable. Tentu saja tidak gratis, tapi gak mahal kok! 




Dari sekian banyak spot Instagramable di Kampung Pelangi, ada satu spot yang menjadi favorit aku. Letaknya berada di bagian paling atas perkampungan dan menjadi lokasi penempatan nama Kampung Pelangi. Lumayan ngos ngosan juga untuk mencapainya, tapi begitu sampai di atas pemandangan yang disajikan luar biasa. Penampakan Kota Semarang berhias sunset dan langit bersemu jingga. Apalagi jika ada pesawat yang bergerak ke dan dari bandara, rasanya kayak sudah di drama Korea aja. Tak ada kebisingan yang terdengar, hanya suara angin dan sesekali suara unggas peliharaan warga. Kalau tidak ingat hari sebentar lagi gelap, masih betah nongkrong aku di sana. 

Oiya, saat menuju puncak (kek lagu ya..) Kampung Pelangi, mau tidak mau kita melewati jalan setapak menanjak di samping dan depan perumahan warga. Waktu sore adalah waktu di mana kebanyakan mereka duduk-duduk di depan rumah. Jadi sebaiknya jangan lupa permisi dan gak berisik. Pengalamanku dulu di Ihwa Mural Village, awalnya warga setempat senang-senang aja wilayahnya didatangi turis. Lama kelamaan dengan semakin banyaknya turis yang datang, mereka mulai merasa tidak nyaman. Beberapa turis terkadang lupa bahwa tempat yang mereka datangi ini meskipun menjadi objek wisata tapi tetap saja adalah wilayah perumahan. Mereka terkadang berisik karena terlalu heboh berfoto atau terlalu senang sehingga ngobrol keras-keras. Namanya juga kompleks atau perkampungan, orang-orang yang tinggal di situ tentu butuh ketenangan. Pada akhirnya dibuatlah pengumuman di beberapa titik untuk mengingatkan para turis agar tidak berisik. 

Saat aku berkunjung ke Kampung Pelangi, aku belum menemukan pengumuman atau teguran tertulis agar para pengunjung tidak berisik, sih. Mungkin karena pengunjung belum sebanyak turis yang datang ke Ihwa Mural Village di Seoul. Bisa jadi karena pendatang sudah tahu diri dengan kesopanan dan keramahan warga Kampung Pelangi. Meski begitu, tidak ada salahnya aku mengingatkan melalui tulisan ini. Ya siapa tahu ada yang berniat ke sana. Menikmati suasana boleh, tapi tetap harus jaga sikap ya gaes! 


Hari beranjak malam ketika aku memutuskan untuk mengakhiri eksplorasiku di Kampung Pelangi. Lampu-lampu mulai dinyalakan, adzan Magrib pun terdengar entah dari sudut yang mana. Aku pun mulai bergegas keluar dari kampung yang penuh warna. Terus terang aku tak tahu keluar dari pintu yang mana padahal aku butuh informasi itu agar pengemudi taksi online tidak salah menjemput. Untungnya mba mba di salah satu kios penjual bunga di depan Kampung Pelangi memberi tahu di titik mana pengemudi harus menjemputku. Ini mungkin adalah keramahan yang sederhana, namun bagi pendatang seperti saya hal itu adalah bentuk pertolongan yang penuh warna. Layaknya pelangi, seperti nama tempat ini. 

Post a Comment

5 Comments

  1. Mirip seperti kampung jodipan di malang. Pemerintah setempat memang dituntut untuk lebih kreatif supaya wilayahnya terlihat lebih bersih dan menarik, syukur syukur bisa viral seperti ini

    ReplyDelete
  2. Pengen jalan-jalan :(, semoga corona ini cepat berlalu ^^

    ReplyDelete
  3. Pertengahan Agustus aku bakal ke solo, dan pasti lewatin Semarang sih. Sbnrnya pengen singgah juga, tp harus liat kondisi juga.

    Aku suka liat perkampungan yg dihias warna warni gini mba. Rasanya memang jd LBH cantik dan kesannya ceria yaaa. Asal warga tetep sadar untuk merawat dan kebersihan dijaga, pasti ga bakal kalah Ama ihwa mural village.

    ReplyDelete

Silahkan share postingan ini jika suka, tapi.. jangan dicopas ya. Semua komentar dimoderisasi terlebih dahulu. Komen dengan link hidup, mohon maaf tidak saya approve. A happy reader is one of my excitement of being blogger. Terima kasih sudah berkunjung.