Sudden Deafness Sebuah Pengalaman Hidup

Tiba-tiba kehilangan pendengaran di salah satu telinga dengan efek yang gak biasa, tentu bikin panik dan bingung. Bagaimana tidak, ini bukan hal biasa dan menyangkut salah satu panca indera. Sudden Sensorineural Healing Loss atau Sudden Deafness, menimpaku di penghujung tahun 2021. 

Sudden Deafness Sebuah Pengalaman Hidup

Hearing Loss
Photo by Kindel Media from Pexels

Minum obat dan bed rest adalah jalan ninjaku, waktu itu saya berpikir itu yang terbaik. Padahal bed rest di rumah adalah hal yang bisa dibilang gak mungkin. 

Di chat sudah ramai yang bertanya saya sakit apa. Bahkan ada salah seorang teman di IG yang marah-marahin saya di DM karena saya belum ke IGD juga. Iyah, saya 'semalas' itu. Rasanya tidak ada tenaga. Thinking back, mungkin aku bukan lelah secara fisik, lebih ke psikis. 

Meskipun saya sebenarnya bisa menelpon meminta bantuan, saat itu aku merasa, karena sudah terbiasa melakukan apa-apa sendiri, selalu jadi tumpuan dalam melakukan sesuatu, ketika kemudian aku berada dalam posisi 'membutuhkan', I don't know who to turn to. I don't even know if there's someone who can take care of me. 

Yahh... kok jadi sedih sih, ceritanya. 

Anyway, lanjut, tiga hari pertama adalah cobaan keimanan yang berat buat saya. Denial, tidak ikhlas, marah, kecewa, numpuk jadi satu. Yang difitnah itu aku, kenapa yang dapat musibah ini malah aku ya? Sudah gitu, sebelum sudden deafness ini menyerang, aku sudah tahajud, curhat sepenuh hati minta pertolongan ke Allah, lalu kenapa paginya malah kena penyakit ini? 

Berat banget cuy! Tiga hari pertama itu kalau ada yang bilang 'Sabar....', berarti sudah lupa gimana rasanya kena musibah ketika sedang berserah diri kepada Maha Kuasa. Awalnya pasti kalian akan terguncang dulu perasaannya, seiring waktu baru kemudian bisa menemukan 'the definition of sabar'. 

Sementara waktu terus berjalan dan SSHL ini seperti stroke ternyata punya 'golden time' penyembuhan. 

Akhirnya ke IGD 


Hari ke empat, saya memutuskan ke IGD. Sebenarnya saya agak ragu mengingat kondisi pelayanan IGD di rumah sakit di kota saya. Jangan sampai saya ditolak karena menganggap SSHL ini tidak penting. Tetapi tidak ada salahnya mencoba. 

Datanglah saya ke salah satu Rumah Sakit dan diterima dokter yang balas bertanya,"Kenapa tidak ke dokter prakteknya saja?" 

Ya menurut ngana? Hari ini hari Natal, dokter gak ada yang buka praktek! Saya ke Rumah Sakit ini karena ini RS terdekat dari rumah saya. Seandainya dokter tadi berkata,"Apa tidak sebaiknya kami alihkan ke Rumah Sakit tempat dokter yang menangani Anda pertama kali?" mungkin lebih bagus. 

Karena sejujurnya dokter yang menangani saya itu adalah dokter senior spesialis telinga yang reputasinya sudah bagus sekali. Jika saja dokter IGD tersebut menyarankan seperti itu, saya pasti lebih bisa tertangani dengan baik di Rumah Sakit yang tepat. Tetapi begitulah, mungkin jalannya sudah begitu. Saya tetap diterima dan langsung mendapat tindakan. Rawat inap, sudah tidak bisa ditawar lagi.  

Infus



Rawat Inap Pertamaku 

Orang dengan SSHL sering menganggap gangguan pendengaran yang mereka rasakan ini akan berlalu dengan sendiri. Terkadang, orang dengan SSHL menunda ke dokter karena mengira gangguan pendengaran mereka disebabkan oleh alergi, infeksi sinus, kotoran telinga yang menyumbat saluran telinga, atau kondisi umum lainnya. Sampai kemudian tidak tahan dengan perasaan penuh di telinga, pusing, dan/atau telinga berdenging. 

Jangan pernah anggap remeh gejala tuli mendadak. Ini adalah keadaan darurat medis dan harus segera mendapat penanganan dokter. Termasuk juga untuk tidak menunda rawat inap. Saya termasuk orang yang terlambat. Saya rawat inap di hari ke empat. Meski sudah mengkonsumsi obat-obatan oral yang diresepkan dokter dan itu sama dengan obat yang diinjeksi, tetapi efektivitas penyerapan di tubuh berbeda. 

Kenapa? Karena pengobatan pertama lebih efektif diinjeksi bersama cairan infus dibarengi dengan bed rest. Tidak melakukan aktivitas apapun selain istirahat. Tidak berpikir yang berat-berat. Makan yang teratur dengan gizi seimbang. Menerima perawatan tepat waktu sangat meningkatkan kemungkinan akan pulih setidaknya sebagian dari pendengaran. 

Selama tiga hari rawat inap di Rumah Sakit, tidak ada perubahan sama sekali. Telinga kanan saya masih tetap tidak bisa mendengar. Kepala saya masih berat sebelah. Saya masih sering merasa pusing dan mual, kecuali setelah saya minum obat anti vertigo yang diberikan dokter. 

Tak ada solusi lain dari dokter yang menangani saya di Rumah Sakit itu selain, bed rest dan jangan stress. Bagaimana saya tidak stress sementara waktu melaju sedangkan perawatan yang tertunda selama lebih dari dua hingga empat minggu cenderung tidak mengembalikan atau mengurangi gangguan pendengaran. Dengan kata lain, kehilangan pendengaran sebelah ini bisa jadi permanen. 

Pengobatan Sudden Deafness

Meskipun sekitar setengah dari orang dengan SSHL memulihkan sebagian atau seluruh pendengaran mereka secara spontan, biasanya dalam satu hingga dua minggu sejak kejadian, menunda diagnosis dan pengobatan SSHL (bila diperlukan) dapat menurunkan efektivitas pengobatan.  

Para ahli memperkirakan bahwa SSHL menyerang antara satu dan enam orang per 5.000 setiap tahun, tetapi jumlah sebenarnya kasus SSHL baru setiap tahun bisa jauh lebih tinggi karena SSHL sering tidak terdiagnosis. SSHL dapat terjadi pada orang-orang pada usia berapa pun, tetapi paling sering menyerang orang dewasa di usia akhir 40-an dan awal 50-an. 

Ada beberapa pengobatan yang bisa dilakukan. Pengobatan yang paling umum untuk tuli mendadak, terutama bila penyebabnya tidak diketahui, adalah kortikosteroid. Steroid dapat mengobati banyak gangguan dan biasanya bekerja dengan mengurangi peradangan, mengurangi pembengkakan, dan membantu tubuh melawan penyakit. Steroid dapat diberikan dalam bentuk pil, bisa juga melalui injeksi baik itu  steroid intratimpani (melalui gendang telinga) atau di pembuluh darah. 

Infus



Saya sebenarnya pernah membaca sebuah penelitian dimana dokter bisa melakukan injeksi steroid intratimpani langsung ke telinga tengah; obat kemudian mengalir ke telinga bagian dalam. Suntikan dapat dilakukan dan merupakan pilihan yang baik untuk orang yang tidak dapat menggunakan steroid oral atau ingin menghindari efek sampingnya. Setidaknya dari yang saya baca steroid harus digunakan sesegera mungkin untuk efek terbaik dan bahkan mungkin direkomendasikan sebelum semua hasil tes keluar.  

Sayangnya, tiga dokter yang saya temui selama lebih kurang sepuluh hari sejak pertama kali mengalami Sudden Deafness ini tidak ada yang mengambil tindakan ini. Mereka hanya memberi saya obat oral. Ada beberapa test yang harus dilakukan selain audiometrik seperti MRI tidak dapat dilakukan dengan alasan-alasan tertentu yang menurut saya mungkin lebih terkait pembiayaan BPJS Kesehatan dibanding urgensi pasien. 

Tentunya saya tidak mau tinggal diam hingga akhirnya saya minta dirujuk ke dokter dan rumah sakit yang memungkinkan saya melakukan perawatan. Saya meminta untuk dilakukan terapi Hiperbaric. Di hari ke sepuluh saya dirujuk ke salah satu rumah sakit pemerintah berdasarkan dokter speasialis yang dianggap lebih bisa menangani kasus ini. 

Lagi-lagi, qadarullahnya belum bisa bertemu dengan dokternya karena beliau sedang operasi saat saya datang dan terpentok akhir pekan dan libur tahun baru, insya Allah di hari ke 14 baru kemudian saya bisa konsul dengan dokter tersebut.

Baru konsul loh ya, belum terapi hiperbaricnya dimulai. Saya sudah baca beberapa research tentang efek Hiperbaric Therapy terhadap Sudden Deafness, ada beberapa tahapan persiapan pasien sebelum memulainya. Pengen nangis rasanya kalau mengingat penelitian itu menunjukkan hasil terbaik ditemukan ketika pasien dirawat dalam waktu 14 hari dari onset gejala dan dengan steroid bersamaan (baik sistemik atau intratimpani). Hiks... I'm starting to worry, but still need to keep on going. 

Rawat Inap Bagian Ke Dua 

Sepuluh hingga empat belas hari adalah masa perawatan efektif untuk Sudden Deafness ini. Di hari ke 14, dokter menyarankan rawat inap lagi. Kali ini pengobatan dimulai dari awal kembali. Teorinya sih bed rest, tapi lagi-lagi saya banyak di'ganggu' dengan pemeriksaan PTA di jam setengah tujuh pagi (karena yang tugas adalah residen semalam, which is mungkin dia mau pulang). 

Lanjut dengan injeksi stereoid di telinga sebanyak tiga kali di siang hari dan kunjungan dokter dan suster yang selalu memantau obat  yang diinjeksikan melalui cairan infus. Lumayan, selama 8 hari di rumah sakit, 5 kali gonta ganti pembuluh darah untuk dijadikan area jarum infus.  

Hasil PTA memberi gambaran yang tidak sesuai harapan. Ada perubahan, namun sedikit. Normalnya manusia bisa mendengar di kisaran 20-30 db. Nah, hasil PTA ku, telinga kiri normal sementara telinga kanan hanya bisa mendengar di 50db saja. Sementara itu, telinga kanan masih tetap terasa penuh dan berdenging meskipun aku sudah tidak lagi merasakan oleng saat bergerak. Artinya, Merenier belum sepenuhnya hilang. 

Di hari ke 7 rawat inap, yang berarti adalah hari ke 21 aku mengalami Sudden Deafness, akhirnya aku menjalani terapi Hiperbaric untuk pertama kalinya. 

Next di postingan berikutnya, ya! Please share postingan ini agar makin banyak yang paham tentang Sudden Deafness. Terima kasih sudah membaca. 


1 komentar

  1. Jadi bagaimana kak saat ini kondisinya, ditunggu kelanjutan pengalamanya ya kak

    BalasHapus

Silahkan share postingan ini jika suka, tapi.. jangan dicopas ya. Semua komentar dimoderisasi terlebih dahulu. Komen dengan link hidup, mohon maaf tidak saya approve. A happy reader is one of my excitement of being blogger. Terima kasih sudah berkunjung.