Jangan Abaikan Sudden Sensorineural Hearing Loss (Tuli Sebelah Mendadak)

Hari itu tanggal 21 Desember 2021. Saya terbangun karena mendengar bunyi dengingan di kedua telingaku yang lebih besar dan nyaring daripada biasanya. Ada apa ini? Saya bertanya-tanya sendiri. Bunyi dengingan itu makin menjadi dari telinga kanan dan kiriku. Tidak biasanya seperti ini. 

Saya masih berbaring dengan mata tertutup sambil merapal doa dan dzikir. Please...please.. jangan sekarang, pintaku. Kebiasaan dari dulu, jika terdengar dengingan di telinga, entah di kiri atau di kanan, selalu ada kabar duka dari orang-orang yang saya kenal. Semakin besar bunyi dengingannya, makin dekat orang tersebut dengan saya. Dekat bisa dalam artian jarak fisik, bisa pula kedekatan personal. 

Biasanya hanya bunyi berdenging yang tidak nyaring. Hari itu, bunyinya seakan memenuhi kepalaku. Bising. Lalu tiba-tiba berhenti dan aku tak ingat lagi kejadian setelah itu. 

JANGAN ABAIKAN SUDDEN SENSORINEURAL HEARING LOSS - TULI SEBELAH MENDADAK


Beberapa saat kemudian saya merasa mual, sakit kepala sebelah, pusing dan kepala terasa berat. Saat saya bangun dan berjalan, rasanya seperti berjalan di atas geladak kapal yang terombang ambing di lautan. Begitupun ketika saya naik turun tangga sensasinya seperti melanting di trampolin. 

Selesai mandi saya baru menyadari bahwa telinga sebelah kanan rasanya seperti kemasukan air, tersumbat dan membuat rasa tak nyaman. Saat itu saya mengira, ini biasa saja. Nanti juga keluar sendiri airnya, pikir saya waktu itu. Sempat terpikir, apa saya masuk angin? Tekanan darah saya turun? Ataukah ini karena malam sebelumnya saya tidak bisa tidur dan baru bisa terlelap setelah sholat Tahajud dan Subuhan? Saya pun kembali beraktivitas seperti biasa meskipun ketika bergerak rasanya oleng dan mual. 

Sayangnya, hingga malam telinga sebelah kanan masih terasa tersumbat. Penglihatan saya pun kerap berputar bersama dengan rasa mual setiap saya bergerak yang tidak reda juga. Saya merasa kelelahan yang sangat berat hingga saya hanya bisa berbaring saja. 

Satu hal yang kemudian membuat saya tersadar bahwa ini bukan hal yang biasa adalah saat seorang teman menelpon dan saya menerima panggilannya di telinga sebelah kanan. Saya tidak mendengar apapun. Saya pikir jaringan telelpon yang bermasalah, tetapi ketika saya memindahkan hape ke sebelah kiri, suara teman saya terdengar jelas. 

sudden deafness
Pic from Pexels by Monstera 


Ada apa dengan telinga saya? Kenapa dia tiba-tiba tidak bisa mendengar? Saya mulai googling dan mendapati informasi bahwa hal ini bisa saja terjadi dan bisa kembali setelah 72 jam. Saya jadi agak tenang sedikit. Bukan apa-apa, saya sebenarnya agak malas berinteraksi dengan dokter dan rumah sakit, apalagi dokter spesialis. 

Ternyata keesokan harinya, saya mulai tidak kuat dan makin merasa tidak nyaman. Mau tidak mau saya harus ke dokter THT. Ini tidak mungkin kemasukan air. Jika pun ada sesuatu yang masuk ke dalam lubang telinga, pada dokter THT lah saya harus memeriksakannya. 

Permasalahannya ternyata tidak sesederhana yang saya kira. 

Sudden Deafness Darurat Medis 


Setelah melewati serangkain pemeriksaan dengan garpu tala, diketahui telinga sebelah kanan sama sekali tidak bisa mendengar bunyi dari frekuensi tertinggi hingga terendah yang bisa didengar oleh manusia. Tidak hanya suara, tetapi juga getaran. Seperti mati rasa. Suara hanya terdengar pada telinga sebelah kiri. 

Lucunya, ketika headphone sebelah kiri dimatikan dan suara hanya terdengar untuk bagian kanan, saya masih bisa mendengarnya. Suara terinterferensi atau beresonansi ke telinga sebelah melalui tulang belakang telinga. Masya Allah, sungguh Allah SWT Maha Membuat segala sesuatu.  

Intinya saat itu saya didiagnosa oleh dokter mengalami Sudden Deafness atau lebih kerennya Sudden sensorineural (“inner ear”) hearing loss (SSHL). Kehilangan pendengaran. secara tiba-tiba. Kehilangan pendengaran yang cepat dan tidak dapat dijelaskan baik penyebabnya. SSHL ini terjadi karena ada yang tidak beres dengan organ sensorik telinga bagian dalam dan sering hanya mempengaruhi satu telinga. 

Cause of Sudden Deafness
pic from Department of Otolaryngology-Head and Neck Surgery, Hokuto Hospital, Obihiro, Hokkaido, Japan


Menurut Dokter yang menangani saya di hari ke dua sejak kejadian,  SSHL ini semacam stroke ringan terjadi sebagai akibat dari kerusakan fungsi koklea terutama karena masalah aliran darah di telinga bagian dalam. Bisa jadi karena tekanan darah tinggi, kolesterol bahkan gula darah. 

Pada kasusku, Tekanan darah biasanya di 100 - 110 / 90, kolesterol dibawah 250, asam urat di bawah 5 dan gula darah normal. Tapi memang saat itu sedang ada masalah yang sangat berat hingga semalam sebelum kejadian saya tidak bisa tidur dan akhirnya memutuskan untuk sholat tahajjud dan baru tertidur setelah waktu sholat subuh. Jadi dengan kondisi stress dan kurang tidur seperti itu, bisa jadi tekanan darah saya naik tiba-tiba atau drop tiba-tiba. Wallahua'lam. 

Aku juga sering menggunakan headphone dalam jangka lama dan volume yang cukup besar. Saat kerja, olahraga, menunggu, bahkan jika aku gak bisa tidur. Sering aku mengingatkan diri sendiri karena tahu dampak headset pada telinga, tapi aku gak pernah menganggap itu akan seserius ini. 

Saat itu saya dianjurkan oleh dokter untuk rawat inap. Panik dong, saya! Rawat inap di mata saya itu sudah seperti kejadian yang amat sangat luar biasa besar penyakitnya. Sementara saya masih memikirkan pekerjaan di kantor yang harus diselesaikan secepatnya karena penyerapan anggaran. Belum lagi boss yang sudah nelpon-nelpon bahkan ketika saya sedang diperiksa dokter. 

Pikiran tentang biaya rumah sakit,  siapa yang bakal nemenin saya di rumkit dan endebre endebre lainnya. Termasuk juga bahwa penyakit ini hanya punya chance 50:50 untuk bisa sembuh atau tuli selamanya. 

Keputusan ada di tangan saya. Salahnya, saya memutuskan untuk rawat jalan.

Dokter memberi saya obat dan dibuatkan surat keterangan untuk bed rest, tanpa hape dan tanpa laptop. Bahkan saya masih meminta nego agar dianggap WFH aja, tapi Dokter berkata,"Anda harus istirahat. Lupakan sejenak pekerjaan, seberapa pentingnya pun itu." Dokter hanya menginformasikan bahwa jika saya rawat inap, maka obat-obatannya akan diinjeksi melalu infus. 

Jika saja diinformasikan bed rest ini penting bagi penderita Sudden Deafness karena tidak boleh mengalami gejolak mental dan karenanya aku terkena stroke di telinga maka sarafku melemah, pasti saat itu juga aku akan langsung ke rumah sakit untuk rawat inap. Hal kedua yang saat itu aku benar-benar kepikiran adalah di ini keadaan gawat darurat, jika masuk IGD bisa langsung ditangani dengan BPJS Kesehatan tanpa harus dapat rujukan dari Faskes pertama. 

Sudden Hearing Loss Darurat Medis



Yeah, silly me! 

Meniere, Penyebab Sudden Deafness yang Menimpaku 


Melihat dari kondisiku yang vertigo, mual, muntah, telinga terasa penuh dan telinga berdenging terus menerus, penyebab Sudden Deafness ini adalah Meniere. Apa pula Meniere itu? Ini adalah kelainan pada telinga bagian dalam yang menimbulkan gejala berupa pusing berputar (vertigo), telinga berdenging (tinnitus), tuli yang hilang timbul, dan tekanan pada telinga bagian dalam

Pada penderita penyakit Meniere, terjadi kelainan pada cairan endolimfa, sehingga menyebabkan gangguan pendengaran dan keseimbangan. Nah, makanya aku merasa oleng di hari kejadian. 

Meniere Disease
sumber : idnmedis.com

Panik? Ya panik dong! Sepulang dari pemeriksaan dokter, saya masih harus ke kantor, menjelaskan ini itu, dan mendelegasi pekerjaan. Ternyata gak semua orang menganggap ini serius. Aku masih diminta masuk kantor dong! "setidaknya dua hari saja dulu, abis itu terserah kamu mau bed rest berapa lama,"katanya. 

Saat itu, harusnya aku sudah mulai mikir,"Ayo, kita rawat inap aja! Gak bakal dianggap serius penyakit lu ini kalau kamu minta rawat jalan saja."

Tapi waktu itu aku lagi-lagi gak kepikiran itu. Satu-satunya yang kupikirkan, aku mau pulang ke rumah. Pengen baring, aku pusing. Telingaku berdenging, kepalaku nyeri. Aku penat! I just wanna lay down. 

Hati- Hati Menebus Resep di Apotik 


Sepulang dari kantor aku langsung menebus resep obat di salah satu apotik terkenal seluruh Indonesia (Sebut aja Kimia Farma cabang Urip Sumiharjo) dan petugasnya dengan santainya mengganti dua macam vitamin dengan produk yang sedang mereka promosikan. Malah obat vertigo ku dikatakan,"Ini obat pusing biasa kok, bu. Kami sedang gak ada stok. Gak ada juga gak apa-apa."  Eh, yang bener aja! Tapi aku sudah terlalu lelah dan kepalaku makin berat jadi akhirnya aku pulang. 

Di rumah saya mual dan muntah hebat. Harusnya saat itu saya sudah sudah ke IGD. Tapi tak terpikiran sama sekali. Jangan tanya orang rumah, mereka pikir saya masuk angin. Saya pun sama sekali tidak punya tenaga apalagi kepikiran untuk ke IGD. Aku malah sibuk nelponin Apotik Kimia Farma, menuntut ganti obat sesuai resep dokter. Bener-bener deh, tuh sales obat ya! Alasannya,"Ini lagi promo bu. Produknya lebih bagus. Dosisnya juga langsung 400 mg, jadi minum sekali aja tiap hari! Kami juga gak enak kalau pasien minum banyak obat berkali-kali."

Alasan macam apa itu! Kamu bukannya prihatin sama kondisi pasien! Saudara hanya mau meningkatkan penjualan produk tertentu aja yang sejenis. Kalau Dokter gue nulis resepya "A dosis sekian" ya jangan diganti dengan produk "B dosis sekian'. Selama 15 menit, aku masih punya energi untuk 'educated' tuh sales obat (aku mau nyebut dia petugas apotek). Dia pikir ini penyakit ringan apa? 

Thinking back, it should be a sign : KAMU HARUS KE IGD, VIT! 

>> To be Continued on Next Post. 

Tinggalkan komentar jika kamu pengen tahu lebih banyak tentang SSHL/Sudden Deafness ini, ya! 

1 komentar

  1. Terimkasih sharingnya Vita,semoga sehat selalu. Aamiin YRA

    BalasHapus

Silahkan share postingan ini jika suka, tapi.. jangan dicopas ya. Semua komentar dimoderisasi terlebih dahulu. Komen dengan link hidup, mohon maaf tidak saya approve. A happy reader is one of my excitement of being blogger. Terima kasih sudah berkunjung.