Pengalaman Umroh di Tahun 2022

Bismillahırahmanirahim.. 

Dari sekian banyak bucket list yang saya susun, melaksanakan Ibadan Umroh berada di posisi kedua, tentunya setelah ibadah Haji. Sudah diimpikan sejak lama, didoakan disetiap masa, diusahakan menyisihkan uang dalam rekening bank syariah, demi apa? Demi berangkat ke Tanah Suci. Sehedon-hedonnya saya, masih tahu dirilah saya jadi hamba. 

Saya saja sampai sekarang masih tidak percaya akhirnya bisa menginjakkan kaki ke Tanah Suci Mekkah dan Madinah. Malah sempat berkunjung ke kota Thaif dan mampir sebentar di kota Jeddah. Apalagi di masa pandemi yang belum berakhir, dimana banyak sekali protocol kesehatan yang harus dijalani. Bukan saja berimbas pada jumlah biaya yang barus dikeluarkan tetapi juga waktu yang barus disiapkan. 

Umroh di masa Pandemi



Sebelum pandemi, rata-rata biaya umroh sekitar 12-15 jutaan rupiah. Saat pandemi, melonjak hingga dua kali lipat. Masa karantina ikut memotong atau ditambahkan dalam masa umroh, ditambah pula sempat kejadian pernah dibolehkan untuk Umroh tapi saat mendaftar malah pelaksanaan Umroh dibatalkan oleh pemerintah. Akhirnya makin banyak yang mengurungkan niat untuk melaksanakan ibadah. 

Namun benar juga apa kata ulama dan orang saleh, melaksanakan Ibadah Haji atau Ibadah Umroh itu bukan karena punya uang atau mampu secara finansial.  Ini semata-mata karena Allah SWT memampukan orang-orang yang dipilihnya. 

Banyak yang mampu, tapi gak berangkat-berangkat juga. Ada yang mampu, tapi berangkatnya bukan karena hartanya tapi lewat jalur gratis. Ada yang kelihatannya susah bener ngumpulin duitnya karena ada-ada aja pengeluaran mendadak, tiba masa Umroh dibuka kembali malah dimampukan. 

Saya mendaftar di bulan Februari 2022, untuk keberangkatan tanggal 9 Maret 2022 dengan pesawat Garuda Indonesia. Urusan pervaksinan mulai dări vaksin covid 1&2 sampai Vaksin Menginitis selesai di bulan Februari. Dokumen-dokumen sudah lengkap, tersisa beberapa perlengkapan baju selama umroh yang belum kelar. 

Passport dan Visa Umroh



Tetiba ada kabar, jadwal keberangkatan dimajukan. Masya Allah! Biasanya yang kejadian keberangkatan ditunda atau dibatalkan, ini malah dimajukan menjadi tanggal 7 Maret 2022. Panik dong.. secara beberapa baju belum kelar dipermak dan Perlengkapan yang dipesan online masih otw. Belum dilaundry, belum dipacking. Panik? ya panik lah! 

Alhamdulillah banget, Penjahit bisa menyelesaikannya lebih cepat dan laundry bisa terhandle sehingga semua perlengkapan bisa dipacking ke koper sebelum Manasik Umroh. Siap-siap mau berangkat nih, eh tetiba dapat kabar lagi, karantina di Madinah ditiadakan.  Alhamdulillah. Nikmat Tuhanmu yang mana yang kau dustakan? 

Pengalaman Umroh 2022 saat Pandemi 

Sebelumnya sudah dijadwalkan bahwa akan ada karantina selama satu hari di Jakarta sebelum berangkat ke Madinah. Begitu pun sudah dikabarkan bahwa akan ada karantina lagi selama lima hari setelah tiba di Madinah. Saat mendaftar berangkat Umroh, sudah tau sih risikonya akan lebih banyak ngedon di kamar hotel akibat karantina. Makanya banyak orang-orang yang tau saya berniat umroh, menyarankan agar niat saya dibatalkan dulu aja. "Rugi kamu, mending tunggu aja setelah pandemi,"kata mereka lebih kurangnya begitu. 

Dipikir-pikir memang sangat sangat menghabiskan waktu. Bayangkan, dari yang umumnya 12 hari ibadah umroh termasuk perjalanannya, waktu ibadah harus dipotong masa karantina lima hari. Setelah ibadah umroh selesai, jemaah masih harus nambah lima hari lagi untuk karantina di Jakarta. Total hari yang diperlukan sekitar 22 - 28 hari. Gimana ngurus cutinya ini? 

Bermodal nekad dan keinginan kust, pokoknya tabun ini harus umroh apapun yang terjadi, saya berdoa kepada Allah SWT untuk dimudahkan. Semoga diizinkan Kepala Kantor untuk mengambil cuti alasan penting dengan alasan Ibadah Umroh yang Pertama. Alhamdulilah, kantor tidak mempermasalahkan meski permintaan cuti yang saya ajukan adalah 22 hari sesuai rundown penyelenggara Umroh. Urusan cuti beres, pekerjaan aman, terbanglah saya ke Jakarta dengan Garuda Indonesia. 

Ketika di perjalanan, dapat kabar, kami tidak perlu menginap di Jakarta untuk karantina sebelum diberangkatkan ke Madinah. Alhamdulillah... Jadi, setelah landing di CGK terminal 3, saya dan rombongan langsung cuzz ke hotel transit untuk istirahat beberapa jam lalu kemudian balik lagi ke CGK terminal 3. Kali ini menggunakan pesawat Saudia Airlines. 

Leaving On The Jet Plane To Madinah Al Munawwarah 


Berhubung sehari sebelumnya gak bisa tidur karena feels so excited berangkat umroh dan penerbangan Makassar - Jakarta itu pesawat pagi yang membuat saya harus standby di bandara jam 4.30 pagi, begitu duduk manis dan pesawat sudah melewati critical eleven, langsung bablas tidur. Cuma sempat bangun untuk terima 'paket' dari mba mba pramugari, sholat jama' magrib dan isya, makan dan abis itu tidur lagi. Gitu aja terus sampai badan pegel dan pesawat landed di bandara Prince Mohammad Bin Abdul Aziz di Madinah. 

Berangkat 19.00 WIB dan landed di Madinah sekitar pukul 01.00 waktu setempat which is empat jam telat dibandingkan Waktu Indonesia Bagian Barat. Total perjalanan sekitar 9-10 jam dari Jakarta menuju Madinah. Mengingat waktu perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan, sebaiknya dzikir saja sampai ketiduran. Banyak-banyakin shalawat juga karena kita akan bertamu ke kota Rasullullah Muhammad SAW. 

Bandara di Madinah



Setelah melewati pemeriksaan Imigrasi yang tidak terlalu lama (mungkin karena jalur umroh) dan bagasi yang sudah dihandling travel, pukul 02.00 saya dan rombongan melenggang kangkung keluar dari bandara Prince Mohammad Bin Abdul Aziz. 

Rombongan lalu menuju ke hotel Al-Andalus yang letaknya segaris lurus dengan gerbang 338 Masjid Nabawi. Ini sebenarnya bukan hotel yang dijanjikan oleh travel agent sih. Alasannya pihak Muasasah di Saudi yang memindahkan kami ke hotel ini. Wallahua'lam. Saat ini belum banyak hotel bintang empat yang beroperasi. Lagipula lokasi hotel Al-Andalus ini juga cukup strategis. View kamarku pun juga cukup menarik. Oke lah, no complain! 

Masjid Nabawi dari Jendela Kamar

Sesuai jadwal, kami berada di Madinah selama kurang lebih 6 hari. Alhamdulillah, selama itu pula kami dimudahkan dalam beribadah di Masjid Nabawi dan melakukan city tour ke tempat-tempat bersejarah di kota Madinah tanpa karantina dan PCR. 

Meskipun tetap harus menggunakan masker, namun tidak ada pemberlakuan jaga jarak, bahkan saat sholat. Makin rapat barisannya, makin bagus. Malah jemaah Indonesia yang paling sering ditarik-tarik untuk merapatkan barisan sholat. Mungkin karena kebanyakan dari jamaah masih mengikuti protokol kesehatan di negara kita Indonesia yang tercinta, yang mau sholat tarawih aja nanti harus vaksin booster. 

Masjid Quba

Pemerintah Arab Saudi bukannya tidak lagi melaksanakan protokol kesehatan dengan membolehkan jemaah berdesak-desakan. Untuk urusan sholat, memang sudah tidak lagi ada jarak. Tetapi untuk masuk ke tempat-tempat tertentu yang pasti padat jemaah, mereka memiliki sistem sendiri. 

Contohnya untuk masuk ke Raodah di Masjid Nabawi, setiap grup harus memiliki surat izin di mana tertera tanggal, waktu dan jumlah rombongan. Jika tidak memiliki surat tersebut atau tanggal, waktu dan jumlah jemaah di rombongan tidak sesuai, maka wassalam! Gak bakal bisa masuk beribadah di Raodah. 

Ini yang saya beserta rombongan alami waktu itu. Entah bagaimana, barcode di surat izin kami sudah digunakan oleh orang lain dua bulan lalu. Entah salah siapa juga, rombongan kami mendapatkan barcode 'bekas pakai'. Entah mau nyalahin siapa juga akhirnya rombongan kami batal masuk Raodah. Bahkan saya dan seorang teman di rombongan, nekad untuk nyelip-nyelip di rombongan orang lain pun tidak lolos di dua gate pemeriksaan terakhir. 

Subhanallah.. memang mungkin belum rejeki kami untuk beribadah di Taman Surganya Rasullah Muhammad SAW. Pun sudah qadarullahnya kami tidak bisa menziarahi makam Rasullah dan para sahabat, Saydina Abu Bakar Ra dan Saydina Umar bin Khattab, Ra. Kami hanya bisa memandang Kubah Hijau Masjid yang berpendar di depan kami dengan air mata yang diam-diam menetes seraya mengucap salam dan shalawat. Salamu Alaika Ya Rasullah wa rahmatullahi wa barakatu. Allahumma Shalli Ala Nabiyina Muhammad wa ala ali Nabiyina Muhammad. Salamu Alaika ya Sahabatullahu wa rahmatullahi wa barakatu. 

Air Mata yang Tak Terbendung di Tanah Haram 

Lanjut di Part 2. 

1 komentar

  1. Wah alhamdulillah bisa umroh setelah menunggu pandemi, sedikit melihat potret Madinah yang indah semoga saya segera menyusul. Terima kasih sharingnya!

    BalasHapus

Silahkan share postingan ini jika suka, tapi.. jangan dicopas ya. Semua komentar dimoderisasi terlebih dahulu. Komen dengan link hidup, mohon maaf tidak saya approve. A happy reader is one of my excitement of being blogger. Terima kasih sudah berkunjung.