Pengalaman Umroh 2022 Setelah Pandemi ( Part 2 )

Air Mata yang Tak Terbendung di Tanah Haram 

Saya yakin semua jemaah yang datang ke tanah Haram entah itu di Madinah maupun Mekkah merasa haru di dalam hatinya. Entah disadari atau tidak, bisa disembunyikan atau sulit untuk dibendung, ketika berada di Masjid Nabawi maupun Masjidil Haram, adalah air mata setetes dua tetes bahkan mungkin mengalir tanpa henti di pipi. 

Perasaan itu membuncah ketika melantunkan Talbiyah dalam perjalanan menuju Mekkah setelah mengambil miqot di Bir Ali dan makin tak tertahan lagi ketika menapakkan kaki di Masjidil Haram. Begitu menuruni tangga di gerbang King Fadh, bagian atas Ka'bah sudah bisa terlihat. Entah bagaimana kata yang tepat untuk menggambarkan perasaa saya. Rasa haru, takjub, syukur, hingga takut, bercampur menjadi satu. 

Iyah, saya merasa takut sekali. Begitu banyak dosa yang sudah saya perbuat, saya masih diizinkan Allah SWT menjadi tamunya dan menginjak tanah HaramNya. Saya takut dengan segunung dosa saya ini, apakah saya cukup pantas beribadah di sini. Terbayang Allah SWT merentangkan pelukannya,"Ayo, masuklah! Sini! Kemari! It's ok, don't be afraid. I still love you." 

Membayangkannya saja sudah membuat mata berkaca-kaca dan tak terasa selama tujuh putaran thawaf air mata saya jatuh berderai. Teman-teman segrup ketika melihat saya menangis tak berhenti sampai thawaf selesai mungkin berpikir,"Nih orang dosanya apa aja sih sampai segitunya?" Hahahaha.. 

Jujurly, tidak hanya dosa yang saya pikirkan tapi juga sadar betapa banyak nikmat yang diberikan oleh Allah SWT meskipun banyak kali maksiat yang saya lakukan. Cape, lelah dengan segala perduniaan ini. Gak ada doa yang bisa saya baca selain doa mohon ampun untuk orang tua dan selamat dunia akhirat. 
Serius, sampai saat tulisan ini saya buat saya masih bisa nangis. 

Masya Allah Tabarakallahu, setidaknya hati saya gak sebebal bebal itu ternyata. Kupikir saya sudah mati rasa karena dosa sudah terlalu banyak. 




Kami melakukan umroh jam 12 malam. Saat itu Jemaah yang thawaf tidak sepadat yang saya bayangkan. Kami benar-benar dimudahkan berada di putaran bagian dalam, dimana kami bisa jelas melihat Hajar Aswad dan Maqam Ibrahim. Meskipun belum ada jemaah yang diizinkan untuk menyentuh Hajar Aswad ataupun sholat di Hijr Ismail, tetap saja kata tour leader kami, thawaf kali ini sangat lancar dan terasa mudah.  Alhamdulillah. 

Tahapan selanjutnya setelah Thawaf adalah sholat dua rakaat di depan Maqam Ibrahim. Setelah itu dilanjutkan dengan minum segelas air Zam Zam sambil berdoa menghadap Ka'bah. Sebenarnya tidak ada doa yang diajarkan oleh Rasullah SAW saat meminum air Zam Zam. Semuanya kembali kepada yang meminumnya, karena air Zam Zam akan mengikuti niat dari peminumnya. 

Namun ada doa yang diriwatkan oleh Ibn Abbas RA dan ini yang terkenal di kalangan jemaah Umroh dan Haji. Doa tersebut adalah: "Allahumma innii as'aluka ilman naafian wa rizqan waasi'an wa syifaa'an min kulli daa'in wa saqomin birahmatika ya arhamarrahimin." Artinya: "Ya Allah aku mohon kepada-Mu ilmu pengetahuan yang bermanfaat, rezeki yang luas dan sembuh dari segala penyakit. 

Airnya jangan diminum sampai habis. Sisakan beberapa tetes untuk membasuh wajah dan kepala. Setelah itu, bersiap menuju bukit Safa untuk melaksanakan Sa'i melintasi jalur Safa dan Marwah sebanyak tujuh lintasan. 

Sa'i, Merasakan Cinta Ibu Kepada Anaknya 


Saat mempelajari rukun umroh, Sa'i adalah salah satu rukun yang menarik bagi saya. Sa'i secara harafiah artinya berjalan dengan bergegas. Hal ini dimulai oleh Siti Hajar, ibu dari Nabiyullah Ismail berjalan secara bergegas antara Shafa dan Marwah sejauh 405 meter. 

Beliau Berharap untuk dapat memperoleh air untuk sang anak yang menangis. Beliau mendaki bukit terdekat, Shofa, untuk melihat barangkali saja ada pertolongan atau air di dekat situ. Namun Ia tidak melihat siapapun di sana. 

Beliau kemudian berjalan bergegas ke bukit Marwah dengan harapan dapat melihat ke tempat yang lebih luas. Tetapi dari bukit itu pun tak tampak apa yang dicarinya.  Siti Hajar pun  terus bolak-balik sambil berlari di atas panasnya pasir gurun sampai tujuh kali balikan seraya berdoa kepada Allah SWT. 

Atas izin Allah SWT, saat Siti Hajar tiba kembali ke tempat Ismail, ia melihat air telah memancar dari tanah di dekat kaki bayi yang sedang menangis itu. Masya Allah.. 

Sa'i tidak hanya sekedar rukun umroh/haji yang harus dilakukan berjalan kaki bolak balik tanpa tahu maknanya. Ada cinta seorang ibu kepada anaknya, ada hikmah untuk berusaha dan berdoa, ada hikmah bahwa hasil dari usaha kita membutuhkan waktu dan bisa jadi apa yang kita inginkan tidak selalu terkabul melalui diri sendiri, bisa jadi melalui orang lain. 

Siti Hajar telah berusaha dan berdoa berlari lari kecil ditengah teriknya gurun, bolak balik naik turun bukit demi air untuk Ismail. Ternyata sumber air didapatkan saat Ismail menghentak-hentakkan kakinya. Dilihat dari maknanya, kata Shafa berarti kejernihan, sedang Marwah adalah kepuasan. Artinya, bahwa suatu sa’i (usaha) musti dimulai dengan niat yang jernih sehingga akan mendapatkan kepuasan. 

Ketika melakukan ibadah Sa'i, Jamaah disunnahkan untuk membaca doa. Tidak ada doa yang spesifik, namun disunnahkan untuk membaca Laa ilha illallah wahdu lasyarikah, lalu takbir “Allahu Akbar”. Dan saat berada di bagian bawah antara kedua bukit itu (terutama di bathnul waadi/antara dua lampu hijau)disunnahkan membaca doa: 

“Robbighfirwarham wa’fu watakarrom wa tajaawaz amma talam innaka ta’lam ma laa na’lam innaka antallahul azzul akram.

Artinya: “Ya Tuhanku ampunilah, sayangilah, maafkankan, muliakanlah, hapuskanlah (kesalahan) yang Engkau ketahui. Sesungguhnya Engkau mengetahui sesuatu yang tidak kami ketahui. Sesungguhnya Engkau Maha Perkasa lagi Maha Mulia”.

Perjalanan antara Shafa dan Marwah mengandung pengertian memohon pertolongan kepada Allah dalam menghadapi kesulitan, dan memohon ampunan dari seluruh perbuatan dosa. Sehingga jarak 405 meter yang dilalui menjadi sekitar 3,15 Km ini bisa jadi terasa melelahkan, apalagi bagi yang sudah sepuh atau yang langsung melaksanakan umroh setelah melakukan perjalanan cukup jauh dari Madinah ke Mekkah. Namun, jika dilakukan dengan penuh kesadaran atas inti Sa'i, Insya Allah diberi kenikmatan dalam melaksanakannya. 

Alhamdulilah jalur Sa'i sudah difasilitasi sehingga lebih nyaman melintasinya. Lantai adem, AC dan kipas angin beruap bahkan bagi para Jamaah yang fisiknya sudah tidak memungkinkan untuk berjalan sejauh 3,15 Km, disediakan penyewaan kursi roda dan motor listrik. Jika haus dalam menempuh perjalanan bolak balik Shafa dan Marwah, banyak disediakan deretan tangki air zam zam. 

Dibandingkan perjalanan Sa'i yang dilakukan ibunda Siti Hajar, ini tentu saja tidak ada apa-apanya. Sungguh, nikmat Allah SWT mana lagi yang kamu dustakan? 


Tahallul, Kembali Halal 

Setelah mengharu biru di prosesi Thawaf dan Sa'i, tibalah saat untuk melakukan Tahallul. Prosesi ini adalah  keadaan seseorang yang telah dihalalkan untuk melakukan rangkain kegiatan atau perbuatan yang sebelumnya dilarang selama menjalankan ihram. Rangkaian ini ditandai dengan cara mencukur atau menggunting beberapa helai rambut kepala, minimal tiga helai. 

Begitu selesai melakukan Tahallul, seketika aku merasa lega. Setidaknya, dari point of view aku, semua tahapan sudah aku lakukan tanpa ada gangguan, aman dan lancar. Paling penting sih, bisa menjaga supaya gak kentut pas melaksanakan Thawaf. Serius, ini aku aja heran. Mungkin karena saat perjalanan dari Madinah ke Mekkah, aku minum kopi dan mobilnya serius dingin banget AC nya. Jadinya perut kembung. 

Begitu tiba di Mekkah, setelah mandi wajib dan mengambil wudhu sebelum berangkat ke Masjidil Haram, aku tuh jadi sering kentut. Aku  mengulang wudhu sampai tujuh kali sampai pengen nyerah aja rasanya, minta umrohnya besok aja. 

Beneran deh, Setan itu emang ada di mana-mana. Makin pengen kita dekat sama Allah SWT, makin semangat dia menggoda kita. Alhamdulillah teman-teman sekamar dan team leader selalu mengingatkan untuk istigfar dan bersabar jika terjadi hal seperti ini. Kalau enggak, mungkin Aku sudah putus asa. 

Do'a adalah kunci. Jadi Aku berdoa, semoga wudhu aku gak batal selama menjalankan tahapan umroh. Semoga ibadah lancar dan semoga diterima Allah SWT. Alhamdulilah, setelah prosesi umroh dijalankan, barulah wudhu aku batal. Hahaha... 

Tahalul Umroh


Next, aku akan share pengalaman yang seru seru dengan teman-teman se grup Umrog di postingan berikutnya. Komen di bawah ya jika ada pertanyaan. Jangan lupa share postingan ini ke teman-teman kamu dan semoga yang baca disegerakan Allah SWT menuju Baitullah. Aamiin. 

Sampai bertemu di postingan berikutnya! 


0 komentar

Silahkan share postingan ini jika suka, tapi.. jangan dicopas ya. Semua komentar dimoderisasi terlebih dahulu. Komen dengan link hidup, mohon maaf tidak saya approve. A happy reader is one of my excitement of being blogger. Terima kasih sudah berkunjung.